Aku, Pemilik Bunga Tidur Part 2

Sekarang aku sudah berada di kapal ini. Kapal yang kunaiki ini adalah kapal selam, jadi wajar jika dari permukaan terlihat kecil, namun sejatinya besar sekali. Terakhir kulihat Neo melambaikan tangan ke arah ku dan tersenyum. Aku membalas senyum itu dan juga melambaikan tangan dengan semangat.

Untuk menaiki kapal ini tidak semua orang bisa menaiki nya, bisa dibilang hanya orang-orang khusus. Tidak ada tiket dan tidak ada loket untuk menaiki kapal ini. Orang-orang khusus ini cukup dipanggil. Tata cara memanggil para penumpang kapal selam ini memang dengan cara yang menyeramkan seperti itu. Begitulah penjelasan yang sempat kudengar dari 3 pramugari kapal itu karena aku sudah sibuk mengamati dalam kapal.

Rasa cemas beberapa saat yang lalu sudah berganti dengan perasaan ku yang sangat gembira. Mimpi ku terwujud, aku akan berlayar jauh dan nantinya mungkin akan menemukan pulau baru seperti pada cerita-cerita sejarah tentang pelayaran Colombus, Magelhaens dan lain-lain.

Aku melihat kearah sekitarku, banyak anak muda seumuran dengan ku. Semua nya asing tetapi aku tidak canggung justru aku akan berkenalan nantinya dan pastinya sangat mengasyikkan memiliki banyak teman dan juga banyak pengalaman bersama.

Aku berjalan menuju jendela bulat yang besar didepan ku, pemandangan laut yang masih dalam zona neritis masih indah dapat kulihat. Ups. Aku tersandung tetapi masih dalam posisi berdiri, aku berhasil menjaga keseimbangan. Entah bagaimana bisa koper ku bewarna hijau peach tiba-tiba sudah berada di kapal ini.  Bahkan didepan ku pula. Seakan, muncul secara tiba-tiba. Atau memang faktanya muncul secara tiba-tiba?

Kubuka koper hijau ku ini, betapa takjubnya aku. Barang-barang ku sudah tertata didalam koper ini. Padahal juga belum pernah aku pakai sama sekali.

“Aku juga sama seperti mu, kita semua sama sepertimu. Panggilan yang menakutkan itu, koper yang tiba-tiba ada dan biru laut pada halaman rumah. Kita seolah hanyalah manusia pilihan untuk menjalani ekspedisi ini.” Laki-laki dengan bola mata coklat berkilat-kilat yang kira-kira seumuran dengan ku berjongkok disebelah ku menepuk-nepuk koper ku dan tersenyum ramah.

“Apakah sebelumnya kau juga bermimpi mengarungi lautan?”

“Ya, kita semua yang ada di kapal  ini hanyalah orang-orang yang terpilih yang terobsesi memimpikan lautan di setiap lamunan kita.” Laki-laki berbola mata coklat itu seakan sudah mewancarai seluruh awak kapal karena jawabannya yang mantap itu.

Tetapi aku mempercayainya. Tidak ada penampilan yang tidak meyakinkan dari dia bahwa dia membual. Aku bisa merasakannya.

“Jadi siapa namamu? Aku Huffington. Huffington Hansel.” Dia mengulurkan tangan nya, aku membalas. Huffington? Bukankah itu adalah nama koran harian di Inggris?

“Aku Matrixa. Matrixa Cleira.” Ucap ku dengan senyum ramah ku, walaupun kata Neo senyum ku tidak pernah terlihat ramah. Selalu kaku. 

Kondisi kapal mulai tenang sedikit. Tidak seramai setelah menjemputku tadi. Perlahan kita berada dalam kedalaman sekitar 50 meter lebih di dalam laut. Gelap, hanya ikan-ikan besar yang terlihat berseliweran.

Aku dan Huffington mulai mengitari kapal, dia menjadi guide ku kali ini. Memberitahu letak-letak ruangan didalam kapal. Ruang nahkoda, kamar mandi, dapur, tempat dansa, kamar awak-awak bahkan jendela kapal yang menarik untuk menyendiri.

Huffington adalah awak pertama yang dijemput. Situasinya penjemputannya ketika dia sedang bermain ayunan di halaman bersama adik kecilnya, Post namanya. Oh, Tuhan. Keluarga yang unik sekali. Sepertinya orang tua Huffington terobsesi pada koran Huffington. Sehingga kedua kakak beradik itu bernama Huffington Post.

Awalnya dia menganggap suara itu hanyalah halusinasinya. Tetapi dia takut dan berlari ke dalam rumah bersama adiknya. Ketika panggilan kedua kali dia melihat kearah halaman. Berubah menjadi lautan luas. Adik nya tidak menangis ketika Huffington menaiki kapal itu, justru tersenyum. Seperti Neo yang tersenyum melambaikan tangan padaku. Begitulah cerita Huffington.

Kami menikmati susu coklat panas di tangga gudang kapal. Tangga ini berbau oli, temboknya  penuh dengan pipa-pipa besar. Huffington bilang biasanya dia bertemu dengan teman-teman nya disini. Aku mengangguk-angguk mendengar cerita-cerita dan penjelasannya.

“Jadi, apakah kau sudah mulai merasa beruntung disini?” Huffington menaruh gelas susu nya ke anak tangga dan mnggosok kedua tangannya. Nada nya seperti dokter yang menanyakan kabar pasiennya, apakah ia siap untuk di operasi atau tidak.

“Apakah aku mengatakan aku tidak beruntung tadi?” Tanya ku dengan kaget. Kami pun tertawa bersama.

Huffington adalah orang yang ramah sekali, mudah bergaul terbukti ketika kami berjalan menuju dapur untuk mengambil makan siang. Banyak yang menyapanya dan melakukan toss dengannya. Aku hanya mengulum senyum di belakangnya.

“Huffington!” Seru seorang wanita di meja ujung dengan sekitar 5 orang, tangannya menunjuk ke mejanya. Menyuruh Huffington ke arah mereka. Huffington membalas dengan memberikan isyarat jempol. Kami berdesakan diantara antrian untuk menuju meja yang udah penuh gerombol orang itu.

Huffington menyuruh ku duduk di depan nya. Mengenalkan aku kepada teman-teman nya dan aku menjabat tangan masing-masing. Sepintas aku berfikir, pengalaman apa saja nanti yang kudapatkan ketika berlayar? Kapal bocor? Penemuan daratan kosong? Di ombang-ambingkan gelombang samudra? Atau malah diserang oleh moster laut?

Anna, Vi, Dean, Tom, Gale dan Kirk. Kami semua kelahiran ’91. Kecuali Anna dan Huffington, mereka kelahiran ‘89

Mereka teman yang baik. Kami membicarakan mimpi kita masing-masing. Aku mudah beradaptasi dengan mereka.

Dean adalah anak yang paling mencuri perhatian karena sering menyibakkan rambut pirang nya sehingga Kirk menjambak rambutnya sebal berkali-kali.

Tom yang terlihat lemas karena mabuk laut sehingga tidak banyak bicara. Anna dengan suaranya yang vokal, dia banyak bercerita tentang pertandingan softball nya yang penuh kelucuan.

Vi, si pendiam China yang ternyata anak seorang sheriff hebat dikotanya.

Gale laki-laki kurus yang wajahnya mirip dengan gitaris Coldplay.

Kirk yang usil dan tentunya Huffington yang terlihat paling bijaksana diantara kami. Sedangkan aku? Bisa jadi aku adalah Cleira, pendengar yang baik dan suka memandang sudut mata orang didepannya. Atau mungkin, bisa Cleira dengan senyum kaku.

Antrian sudah habis, kami mengambil makan kami masing-masing. Kali ini makanan kami dengan chef Hoka Bento. Jadilah menu kami adalah chicken katsu, salad wortel, nasi dan teh ocha.

Kami mulai memakan dengan doa bersama. Tidak hanya doa syukur tetapi memohon doa keselamatan. Kirk ikut mengamini walaupun sebenarnya dia  tidak percaya dengan tuhan semenjak orang tuanya meninggal.

Tiba-tiba aku mendengar suara riuh sorak. Aku menoleh kearah pintu dengan cepat, ter lihat dari kaca bundar di pintu orang-orang berkumpul disana. Sepertinya sedang terjadi perkelahian. Aku kembali menoleh ke teman-teman. Mereka melahap makanan tanpa gangguan, tanpa suara, khidmat. Padahal suara itu masih terdengar jelas. Aku cemas, hanyakah aku yang mendengar suara sorak itu?

Aku mencoba tenang dan mulai membuka sumpit, berfikir itu adalah halusinasi ku saja. Tetapi suara itu semakin membesar dan seperti mengelilingi dapur. Aku melihat ke Anna, dia makan dengan tenang dan memberikan ku senyum ketika aku melihat kearahnya. Seperti tak ada masalah. Aku berganti menoleh kearah Vi yang ternyata dia memperhatikanku sedari tadi tetapi ia hanya menganggukkan kepala dan melanjutkan makannya. Apakah mereka berpura-pura tuli? Atau malah jangan-jangan mereka tidak mendengarnya. Huffington yang didepanku juga berkerut. Dia seperti kedapatan hal aneh. Bukan, bukan suara itu. Dia melihatku yang aneh, yang belum menyentuh sama sekali makananku. Tidak ada yang mendengar. Suara itu semakin membesar lagi, riuh. Terdengar pukulan tinju tepat di ulu hati, aku bisa mendengarnya.

Aku membanting sumpitku dan berlari keluar dapur. “Cleira!” sempat terdengar suara Kirk memanggilku. Namun, yang kutemukan hanyalah lorong yang kosong. Aku menjatuhkan diri dan bertumpu pada dua lututku, menutupi wajahku. Suara itu benar-benar terdengar olehku, dan orang-orang itu benar-benar dapat kulihat saat didalam dapur tadi. Apa maksud semua ini?

“Cleira? Tell us why?” Anna berbisik dan memelukku.

Aku tak menjawab, aku menangis. Aku takut. Rasa cemas ku ini melebih dari rasa cemas ketika panggilan pertama. Perasaan ini seperti perasaan, tidak aman. Sangat.

“Tadi dia terlihat gelisah. Saat setelah dia melihat arah pintu dapur.” Vi bersuara, aku tidak dapat mengatakan semua tentang perasaan ku saat ini. Aku hanya bisa menangis.

“Tangannya dingin sekali. Cleira katakan pada kami apa yang telah terjadi, sebenarnya.” Anna mengeratkan pelukannya. Aku memeluk Anna. Ingin kubagi cerita rasa takut ku yang kusadari telah menggerogoti jiwa ku.

Aku merasa lemah ketika aku cemas dan takut. Aku mengharapkan Neo ada disamping ku saat ini. Cukup dengan tatapan sejuk dimatanya seolah berkata semua baik-baik saja.

Neo tidak ada disini aku, harus mengatasi nya tanpa dia. Sudah ribuan mil tidak mungkin aku mengharap nya ada disamping ku. Rasional.

Aku membalas pelukan Anna, merasa sedikit lebih baik. Anna mengelus-ngelus rambutku dan mengatakan semua baik-baik saja, ada kami disini.

Pelan aku membuka mata ku. Semua berjongkok didepan ku. Tatapan mereka penuh dengan rasa keingintahuan. Dean mengerjap-ngerjap mata, aku mengartikannya sebagai bentuk keingintahuan juga. Hanya Huffington yang berdiri dia berada di pintu dapur tadi. Seperti mencari-cari sesuatu tapi tidak menemukannya.

“Cleira, ceritakan pada kami apa yang terjadi.” Anna berbisik pelan padaku, lagi.

“Uhm, apakah kita akan berjongkok terus? Ayo ke tempat biasa.” Kirk membuka keheningan dengan mulai berjalan didepan diikuti Huffington dan yang lain.

Semua benar-benar tidak melihat dan mendengar suara riuh diluar dapur tadi. Hanya aku seorang. Tiba-tiba kulihat kumparan seperti angin topan bewarna hitam masuk kedalam lampu tepat diatas Dean berdiri. Aku menoleh kekanan dan kekiri. Tak ada yang melihatnya lagi, lagi-lagi hanya aku.

Kami ke ruang santai dengan dekorasi pegunungan didindingnya. Pegunungan hijau dengan awan kumulonimbus. Lembah, sungai dan matahari. Unsur-unsur yang tak akan pernah kami lihat selama perjalanan kecuali transit. Bagaimana jika bensin habis? Kapal selam ini cukup menghubungi tanki dalam laut perkapalan sekitar dan meminta bensin maka tak lama kemudian akan dikirim dengan kapal. Untuk teknis nya aku tidak begitu tahu, mungkin Huffington akan menceritakan kapan nanti.

Sekarang ini jauh lebih baik. Aku bisa tertawa oleh jokes yang diluncurkan Kirk dan Dean. Anna melihat kearahku dengan senyum nya yang baru kusadari dia mempunya lesung pipit yang samar pada pipi kiri nya.

Tetapi jokes itu terhenti ketika Kirk entah serius atau bercanda bertanya hal yang membuat kami diam seketika. Nada bicaranya tidak kuperhatikan.

“Jika kita mati dilautan ini, akankah kita dibuang langsung atau dikembalikan pada keluarga kita?”

“Kirk, kau telah bertanya hal yang bodoh.” Gale membenarkan posisi duduknya dan menggelengkan kepalanya.

“Dammit.” Tom melempar bantal sofa kearah Kirk dengan penuh emosi.

Kurasa ini hanyalah pertanyaan bercanda. Tetapi teman-teman menganggap ini serius. Mata mereka menatap tajam Kirk. Jelas ada sesuatu yang disembunyikan atau mungkin belum diceritakan padaku.

“Ceritakan apa yang kau rasakan tadi Cleira. Aku sangat penasaran terhadap sesuatu yang bisa membuatmu sebegitu—lemas. Percayalah kami akan selalu bersamamu.” Huffington meminta penjelasan dan mungkin bermaksud mengalihkan pembicaraan.

“Kami adalah keluarga mu disini.”

Menarik nafas dalam. Aku harus menceritakan semua nya. Semua mata kini beralih kepadaku. Vi membenarkan sweater hijau nya. Dean berhenti menyibakkan rambutnya. Kirk bersandar di sofa hijau dengan santai, mata hijau nya mengingatkan ku pada soft lens milik Neo. Anna mengangguk takzim padaku. Tom menggigiti kukunya. Huffington dengan bola matanya yang coklat bisa kulihat begitu bijaksana nya ia.

Aku bingung harus memulai darimana aku harus bercerita.

Advertisements

Aku, Pemilik Bunga Tidur (part 1)

Before i tell you. Ini sebagian besar alur cerita dari mimpi ku. Minggu, 15 Des ’13, about 13.30 until 15.45. Ada yg aku tambahin, ada yang aku lupa termasuk tokoh, jadi namanya ada yg disamarkan ada yang di buat nama lain. Wajar, mimpi. Happy read!

Beberapa orang menginginkan bepergian sejauh mungkin tapi pasti ada beberapa orang yang lebih memilih cukup yang dekat saja. Setiap sisi dan pendapat mutlak memiliki kebalikan. Entah karena ingin hemat biaya atau yang lain. Masih kupandangi pohon akasia besar dikelilingi rerumputan rapi yang rajin dipangkas. Dari balkon rumah besar ini, pohon itu terlihat besar sekali, akar-akar nya ada yang di dalam dan ada yang menerobos keluar dari dalam tanah. Disitu ada akar yang mencuat yang beberapa saling bersinggungan dan akhir nya seperti membentuk sebuah simpul khusus. Biasanya kugunakan untuk tiduran disaat sore hari seperti ini apabila cuaca tidak mendung.

Satu dari sekian banyak mimpi ku adalah bisa melakukan perjalanan yang jauh, tiduran diatas  tali temali yang dipasang diantara dua pohon. Menyentuh air laut, merasakan tersedak didalam air laut yang asin. Mendengar debur ombak dan kicauan burung-burung dengan angin sepoi-sepoi. Akan sangat menarik jika ini benar-benar terjadi. Andaikan saja aku tidak menghabiskan uang saku ku hanya untuk mendaki gunung yang berpredikat misterius namun kenyataanya aku tidak merasa ada feel  yang menarik saat beberapa minggu silam.

“Sa!!” Aku bergegas ke arah suara pakdhe ku itu, pakdhe Chalk.

“Iya, pakdhe.” Sekarang aku sudah berada pada garasi rumah nya yang sekaligus kantor beliau. Pakdhe Chalk berencana membuat perusahaan sepatu besar dan ternama. Walaupun sebenarnya gaji dari kantor nya sudah lebih dari cukup apabila dibagi ke 20 keluarga.

“Uang pakdhe ini gimana ya caranya, coba lihat tabungan pakdhe.” Sambil menyerahkan mouse dan memberi ku tempat duduk di samping beliau agar aku bisa melihat monitor juga.

Oh, tabungan. Batin ku, dalam hati pastinya. Entah sejak tahun kapan, mencari uang adalah salah satunya cukup dengan bermain game. Maksudku disini uang asli, uang kartal yang asli. Namun, game khusus itu hanya bisa dimainkan oleh kepala keluarga. Akan ada pengetesan sidik jari pada mouse, jari-jari sebelum bermainkan akan diberi sebuah cairan khusus yang baunya seperti permen karet dan kata pakdhe dalam jarak setengah senti dengan mouse jari itu akan langsung merekat pada mouse, secara langsung, otomatis. Tentu saja aku belum pernah bermain game itu malah tidak mungkin kecuali aku menjadi orang tua tunggal.

“Tabungan pakdhe tinggal 6234, minimal nya nol. Masih lumayan pakdhe, dapet siomay.”

“Ah, nggak ah. Oya, Sa. Tahu kan, pakdhe mau buat perusahaan sepatu. Pakdhe minta tolong sama kamu untuk buat iklan nya. Gimana?” Pakdhe ku memilih orang yang salah. Aku masih kuliah semester 1 apalagi bukan pada bidang semacam itu. Bahasa kasar pernyataan pakdhe ku tadi adalah ngaco.

“Nggak bisa pakdhe. Aku nggak bisa buat iklan kayak gituan. Kuliah yang aku ambil bukan bidang kayak gitu.” Tolak ku dengan bahasa yang sehalus kubuat. Pakdhe Chalk adalah pakdhe yang baik, suka membantu saudara-saudaranya.

“Lho, pakdhe ini yakin kamu bisa. Nggak usah permasalahin bidang kuliah. Pakdhe yakin kok kamu ini pasti bisa.” Pakdhe ku membujuk dengan nada khas nya juga suara yang santai penuh percaya diri.”

“Nggak pakdhe. Matursuwun, pakdhe salah orang beneran ini          eh itu apa pakdhe?” Fokusku terbuyarkan oleh sebuah nama file aneh pada komputer tabung pakdhe ku. Kejadian yang tidak terlupakan.

“Bukan apa-apa Sa ini. Ini konsep iklan pakdhe dulu, yang tentang sepatu itu. Lupakan saja, toh kamu tidak tertarik. Tidak ada musiknya, tidak berjiwa anak muda.”

“Aku mau lihat pakdhe. Masa’ iklan tidak ada musik nya? Itu size nya besar kok. Pasti ada.”

“Pakdhe lupa, oke kita lihat.”

Pakdhe membuka file itu awal iklan itu adalah gambaran hutan yang sangat gelap, lembab dan daun-daun berasal dari pohon-pohon besar yang tingginya menjulang menutupi masuknya sinar matahari. Kalau di geografi, jenis hutan ini adalah hutan hujan tropis. Ada suara-suara serangga yang bunyinya ngiang-ngiang­ dan suara gemericik air dari kejauhan sekali.

Lalu kamera menyorot sekitar 4 orang anak muda, dua laki dan dua perempuan. Mereka meloncat dan mengeluarkan dentuman keras seperti dentuman kematian pada film The Hunger Games. Dan gambar berhenti disaat mereka mengangkat kaki, mereka mengenakan sepatu bermacam dan berwarna.

Hanya kaki mereka yang muncul pada monitor saat ini, lalu disertai tulisan berwarna kuning pada setiap sepatu. Nike, Sneakers, Ardilles dan Angry Birds.

Di akhir iklan itu mereka berdiri menyandar pada sebuah tembok bewarna orange tua dengan ekspresi bahagia mereka.

“Aku nyaman dengan sepatu ku dan aku jarang pernah melepaskan nya sama sekali sejak aku membeli ini.”

“Harga nya memang cocok dengan kualitas nya.”

“Aku sedang memperhitungkan uang natal untuk membelinya tahun depan.”

“Saat mengenakan ini, semua teman-teman ku berkata Wow, kau seperti jagoan merah.

Iklan itu berhenti dan aku membenarkan posisi duduk ku. Memang tidak ada musiknya. Konsep yang sederhana dan bagus.

“Udah, kamu main game aja dulu. Pakdhe mau menyelesaikan beberapa laporan.” Pakdhe mulai mencoret-coret kertas di dalam map kuning cap panda nya itu. Aku bermain tembak-tembakan yang sangat seru tetapi lama kelamaan aku mulai bosan. Kursor kuarahkan sembarangan dan kutekan mouse dengan kasar hingga sebuah tangan mengambil alih mouse berwarna putih itu. Bukan, bukan tangan pakdhe ku.

***

Itu tangan kakak ku, Neo. Kakak. Begitulah yang dijelaskan pakdhe ku. Bukan anak dari pakdhe Chalk. Bukan saudara sepupu ku, bukan saudara kandung ku tetapi yang terpenting kata pakdhe Chalk, dia adalah kakakku.

“Sini aku aja yang main mendingan.” Neo mengambil posisi diantara aku dan pakdhe Chalk yang masih longgar itu. Aku hanya mengiyakan.

Aku masih mengamatinya, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan nya. Mungkin sudah lima tahun lebih. Dia sudah bekerja di salah satu perusahaan milik negara   yang terkenal karena faktor kecemerlangan otaknya.  Membanggakan.

Kulitnya sawo matang, walaupun aku tidak pernah melihat sawo yang matang itu seperti apa. Keseringan nya bermain sepak bola membakar kulitnya yang sebenarnya putih. Tampak jelas. Matanya yang terlihat mengantuk padahal sebenarnya tidak. Mengenakan baju bola biru muda lengan pendek, mirip milik teman ku bertuliskan Edtihad. Tangan-tangan nya penuh dengan bulu halus yang ingin sekali aku mengusap-usap gemas karena saking lebatnya.

“MATRIXA CLEIRA!!!” Panggilan itu mengagetkan ku lamunanku tentang Neo. Panggilan itu seperti berasal dari dalam telinga ku sendiri. Kutolehkan kepala ku kanan dan kekiri. Melihat ekspresi Neo dan pakdhe Chalk apakah mendengar suara itu atau tidak. Mereka terlihat biasa saja, tak ada gangguan.

“Mas, denger suara nama ku dipanggil nggak?” Aku merasakan suaraku bergemetar, mulutku kaku, kelu, detak jatungku terasa tak beraturan.

“Hm, nggak tuh. Emang kenapa? Pucat banget tuh wajahmu.” Neo menghentikan gamenya dan menoleh ke arah ku. Sedangkan pakdhe Chalk masih terlihat sibuk dengan map-map kuning cap panda miliknya.

Aku? Pucat? Sebegitu pucatkah aku sehingga Neo masih memandang lamat-lamat penasaran kearah ku menghentikan gamenya. Mata Neo menyipit kearah ku memperhatikan wajah ku dan seperti berisyarat mata kepada ku. Tak dapat kutangkap maksudnya. Masih berusaha ku atur jantung ku ini, kutenangkan diri dari suara yang memanggil nama ku.

***

Perlahan kuatur nafas ku lagi, Neo masih memandang ku lamat dan seperti mengharap penjelasan lebih dari cerita panggilan ku tadi. Aku naikkan kaki ku diatas kursi, kutekuk dan kupeluk erat. Kepala kusandarkan di lututku. Tangan ku dingin, bibir ku mendadak kering.

“ Hei, Matrixa? Seperti apa suaranya? Kamu benar-benar pucat. Coba lihat wajahmu itu.” Neo mengambil cermin di samping pintu masuk kantor dan mengarahkan cermin itu dihadapan ku. Bayangan ku terpantul jelas, rambut hitam panjang ku terurai tak dikucir. Mata ku benar-benar memantulkan rasa was-was tinggi. Aku bisa merasakan tubuhku merinding hebat.

“MATRIXA CLEIRA!!!” Panggilan itu datang lagi. Tetapi suara itu bergema, seperti berasal dari langit. Bukan dari telinga ku lagi. Satu-satu nya harapan ketika aku mendengar suara itu adalah Neo dan pakdhe Chalk mendengar nya juga.

Mereka mendengar sempurna, pakdhe Chalk melihat ke arah ku dengan pandangan kaget. Neo berdiri dan berlari ke arah balkon. Aku mengikuti Neo dan seketika pemandangan ku di depan ku membuat ku tercengang dengan sangat. Bukan lagi halaman rumput hijau yang luas tetapi laut biru menghampar tak berujung. Pohon akasia itu telah hilang dan berganti menjadi sebuah kapal kecil, ada 3 perempuan yang berdiri disana. Aku tidak tahu apa sebutan untuk mereka, mereka berseragam. Mungkin semacam pramugari kapal.

to be continued to the part 2 ..

Oh Tercinta Wisma Kami

                Gue pindah ke wisma baru gue. Meninggalkan wisma biru yang nyaman dengan selimut duka akan air yang suka mati. Menghirup udara baru tidak seperti udara lama yang hanya menghirup sisa sisa oksigen dari temen temen lain (satu wisma 10 orang). Dan menghindari tatapan muka keras dari orang yang ada masalah dengan gue pasti nya.

                Wisma ini gak jauh dari wisma gue yang dulu pasti nya. Tapi lebih deket kalo mau ke sekolah. Warna bangunan nya pink udah agak puder puder. Tiga lantai. Mewah, model balkon nya kayak jaman belanda dulu gitu. Satu ukuran kamar nya 2,5 meter kali 3 meter. Tempat parkir nya cukup buat sekitar 10 motor ya siapa tau aja ada yang mau buka lahan pekerjaan. Tempat nongkrong nya juga macem2, mulai dari halaman depan, balkon atas, balkon samping, jemuran dan kamar masing masing.

                Gimana? Asik banget kan. Tapi asal lo tau aja. Wisma ini juga ada yang punya! Eh, maksud nya, yang punya rumah ini juga tinggal bareng kita. Di rumah sebelah, masih satu kesatuan dengan gedung kita ini. Cuma berbatasan dengan sebuah toko kecil punya keluarga tersebut. Jigile, gue takut banget sama ibuk bapak nya itu. Huhu u,n

                Klontang klontang tang tang

                Ups. Itu suara tadi aku nendang kaleng sarden dari atas balkon ke bawah gak sengaja. Dan bertepatan dengan itu musyrifah atau guru asrama gue dateng, bilang kalo habis sholat isya nanti bakal ada perkenalan sama ibuk yang punya rumah ini. Temen temen juga pada antusias buat ngerti siapa sih yang punya rumah ini. Mungkin, kecuali gue. Gue cuma nganggep angin biasa aja, inget bukan angin topan!

                Seteloah pada sholat isya, ya seperti biasa kita di balkon ngobrol ngobrol dan emang ngobrol ngobrol bener2 udah kebiasaan kita sih. Hehe 😀

                Tengtreng treng…. Dug dug Nget..

                Suara langkah kaki terdengar, gak pada respek sih. Tapi secara gue yang punya indra bekti, eh indra ke enam maksud nya, dalam bidang pendengaran pasti itu suara langkah kaki beliau yang punya wisma ini.

                Eng i eng! Ternyata… bener! Gue berhak dapetin beasiswa di Harvard! Yakin gue siswa berprestasi ini! *lebay*

                Benar itu ibuk nya. Kita menengok ke arah beliau saat pas beliau mengucapkan salam. Ibuk nya berperawakan agak pendek, agak gendut dan putih datang. Kami mengubah posisi duduk kami membentuk lingkaran dengan senyum yang paling manis kece yang kita miliki *gue nggak, kayak nya gue dengan ekspresi  cengoh tak percaya*

                Sang ibuk juga bercerita banyak, maksud nya bercerita peraturan yang ada. Juga ketentuan ketentuan masalah kunci pintu kamar, saat sholat ya maklum wisma kita di depan mesjid cuy! Jadi kalo sholat harus gantian dan alhasil tempat arisan juga kudu pindah, kagak bisa di balkon lagi. Kenapa gak bisa di balkon? Emang situ ikhlas kalo seorang jamaah putra batal atau gak sah sholat nya gara gara liat kita lagi nongkrong cerita-cerita? Lo gak sejahat itu kan.

                Di pertemuan perdana ini ibuk nya cerita kalo punya anak 4 (dan satu suami heheh). Ke tiga anak nya sudah menikah dan tinggal di Jakarta sekarang. Dan anak nya yang terakir ternyata juga tinggal di rumah itu, rumah berbagi kami ini. Dan yang bikin kita shock adalah anak nya cowok! Cowok kelas dua sma! Gue dan temen temen gue saling lirik dan gak mampu menahan kecemasan! What the – di jamin kita bakal susah ngobrol gado gado di iringi suara doremi nyanyian anak anak karena kita musti jaga sikap lah. Secara, sama sama kelas dua sma bray.

                Hal yang paling di tunggu tunggu tiba. Acara penutupan! Ibuk nya mengakhiri cerita nya dengan meniggalkan sebuah jeruk yang di tinggalkan untuk kami. Kata nya sih itu jeruk dari Jakarta. Tapi sebener nya mau dari Jakarta, Bandung, Mataram, Denpasar tetep kita trima kok. Yah, nama nya aja anak wisma. Nyam nyam :9

                Hari hari di wisma gue jalanin apa adanya. Temen2 baru juga ada. Jadi kita yang di sini itu dari dua wisma yang berbeda. Gue dari biru kece, mereka dari gang nakula. Bertambah plural lah kehidupan kami. Dan pasti nya sulit untuk ber integrasi karena populasi kami sudah lebih dari cukup untuk melakukan integrasi dan sudah bisa di perkirakan mudah terkena konflik. Wuihh, yah maklum ini buih buih akibat gue sebagai anak IS atau anak Ilmu Sosial.

                Di wisma gue ini ada tiga belas orang. Dengan satu guru asrama. Anak wisma di sini yang IA (Ilmu Alam) cuma ada 3 orang bray! Sedangkan 9 lain nya adalah anak IS. Bertambah gaduh lah wisma kami apabila kami sedang ber diskusi. Apalagi kalo mau ulangan sosiologi, bukan nya wisma ini sepi malah penuh argumen argumen dari kita anak IS yang ber argumen *loh*.

                Dan juga karena kita yang paling mendominasi bertambahlan rasa mendominasi kami sehari hari. Secara, tugas kami hanya sedikit karena rata rata guru kita kita ngasih tugas yang di selesaikan di sekolah dan bisa di kerjakan nanti nanti kecuali sosiologi yang bener bener punya deadline kejam.

                Jadi kerjaan nya di wisma Cuma muter muter cari tempat nongkrong dan temen ngobrol bareng bareng. Indah nya hidup kami. Sedangkan anak IA pasti kalo ada ulangan ato tugas diem cep. Ya secara, mereka yang kerja tangan nya bukan mulut nya. Nah ini lah perbedaan yang begitu komplek sehingga terjadi suatu affirmative action. Shut. Gue ngomong apa nih. Hentikan!

                Kenapa di hentikan? Justru gue mau buka suatu cerita kita nih. Alkisah, habis lebaran kita mutusin buat silaturahmi buat ke rumah ibuk nya. Sekalian mau minta maaf lahir batin atas segala kesalahan yang bejibun. Termasuk yang buat ibuk nya hipertensi! Ini memalukan! Gara gara kita suka jarang piket karena lupa, rame malem hari dan siang hari, lupa nutup pintu penghubung lantai atas dengan lantai bawah, lupa ngunci pintu kalo mau tidur dan lain lain. Tapi gue punya hajat yang lebih penting dari pada yang lain.. penyebab dari segala penyebab.. maafkan daku ibuk…

                “us. Kita mau bawa apa nih buat ibuk nya. Masa maen maen gak bawa makanan?” tanya ku pada guru asrama ku setelah sholat maghrib.

                “ya apa… terserah kamu blah blah blah blah” begitulah jawab beliau sebener nya masiha ada lagi tapi ya maklum gue kan cerdas, jadi banyak ingetan yang gak penting yang perlu di hapuskan beb.

                “yaudah, pinjem motor ntar aku sama ais yang nyari wes” ujar ku sambil berlari ke bawah. Gue segera ber siap siap buat pergi beli roti ato sesuatu yang bisa di bawa dong pasti nya. Ais juga sudah siap. Kunci juga udah di tangan. Gue serahin urusan motor ke Ais. Gue gak mau tujuan kita ke bakery malah ke hospital Cuma gara gara gue.

                Well. Inilah sebuah perjalanan panjang kami. Kalian tahu? Motor guru asrama kami sudah cukup udzur sehingga tidak bisa gas otomatis. Harus di jeglek ke dulu baru bisa. Ini lah rahasia besar!

                Motor ini terhenti di ujung jalan saat gue dan Ais hendak nyebrang. Motor nya mati harus di gas! Kami turun dan berdiri kaku. Gue bingung gak bisa bantu apa2. Jiwa bossy gue keluar. Gue nyuruh Ais buat minta tolong sama tukang parkir yang sedang berdiri tak jauh dari kami. Ais menurut dan well, kami di guyu sama beliau manusia ber rompi oren itu. Kata nya yang bisa jeglekke begini cuma laki laki. Perempuan mana bisa. Ya begitu kata nya. Kami melanjutkan perjalanan dan memindah orientasi perjalanan. Kami putuskan buat pergi martabak aja, kan enak malem malem makan martabak yah walaupun bukan kita yang makan martabak tersebut. Sepangjang perjalanan Ais meminta maaf gara gara dia gak bisa jeglekke dan buat kita malu. Tapi that’s not her problem kok. Cuma, sial lagi di kita aja.

                Yap. Sudah sampai di tempat jualan martabak. Deket banget dengan wisma kita, Cuma depan indomaret langganan. Kita pesen martabak dobel tingkat, wuss manteb banget. Setelah dapatkan martabak itu, kita menuju arah motor dengan deg deg an.

                Benar! Deg deg an kami terbalas! Motor nya ngadat lagi. Benar beneeer memalukan. Ais dengan wajah nya yang imut tapi suka mesem mesem sendiri mulai bingung. Gue segera mendatangi seseorang yang menggunakan jaket hitam pokok nya serba hitam. Handphone nya juga hitam malah lah dalah.

                “pak, boleh minta tolong? Ini motor nya susah di jeglekke. Itu motor nya.” Tunjuk ku ke motor yang sudah di tingga Ais dengan raut biasa saja tapi sebenar nya malu sekali. Ya mau gimana lagi, kalo gak segera nanti kita malah telat acara silaturrahmi nya kan?

                “owalah iya mbak.” Bapak nya itu menuju motor kami.

                Grengg grengg

                Berhasil! Tersenyum lega. Gue berterima kasih juga segera naik namun.. Mati lagi! Sial! Gue turun lagi buat minta tolong bapak nya itu lagi. Format nya masih sama cara ngomong nya, tapi hanya di tambah “hehe” dan “maaf sekali pak”.

                Syukurlah bapak nya hanya tersenyum dan jeglekke lagi. Kami berterima kasih lagi, tapi saat gue lagi proses naik motor, gas nya udah mati duluan!

                Apaan nih. Gue minta tolong lagi, dengan format yang sama tapi hanya di kuadratkan. Setelah di benarkan, benar benar membuat kesal. Langsung mati lagi.

                Sudah terhitung kita minta tolong sebanyak lima kali! Dan se saentro indomaret menonton kami! Menonton! Bapak nya hanya tersenyum dan bilang, kalo ini sih motor cowok soal nya energi yang di pakek energi cewek. Gue dan Ais Cuma tertawa gamang. Haha.

                Berhasil. Sampai wisma biasalah kita ngobrol menggebu gebu. Ya memang beginilah jalan kehidupan kami. Jalan kehidupan distributor martabak. Welll, setelah isya’ kita langsung siap siap silaturrahmi. Gue Cuma berbekal kaos oblong panjang dan sesuatu di saku sudah siap menjalani ini semua. Apa adanya. *sa?*

                Saat perjalanan satu langkah, kami melihat rumah ibuk nya rame, kayak nya ada tamu. Tapi kita di suruh masuk dulu. Dan sliwerrr, ada seorang cowok jalan pake baju merah tinggi bawa kerdus. Temen temen udah pada ribut. Gue bingung sendiri, ngapain nih anak anak. Emang tsunami lewat ya? Oh ternyata itu tadi anak nya sang ibuk. Pantes si Opik ribut godain Hyma. Ai juga ikutan. Owalah, itu toh anak nya.

                Sampai lah kami di ruangan untuk tamu. Ruang tamu! Sangat kecil untuk mai yang ber dua belas karena Norma gak ikut. Ibuk nya menyambut kami dengan pertanyaan, “ini gak ada angin macem macem kok tumben main?” begitulah. Cukup tau.

                Guru asrama kami menjelaskan maksud kedatangan kami. Juga di lanjutkan percakapan percakapan sederhana juga petuah petuah. Tapi suasana kami hanya sepi, Cuma terdengar beberapa doremi ku yang indah yang sok tau “oh iya” “pasti itu bu” dan lain lain. Ternyata oh ternyata di sudut ruangan ada tv! Dan sedang di nyalakan. Opik, Luthfi, Sary udah heboh. Manalagi yang sedang di tayangin itu acara On The Spot tentang ekspresi lucu para olahragawan. Huft, pantes aja mereka diem.

                Juga sempet ada petuah mengenai belajar. Kita di tanya “lha ini anak anak pada jurusan apa?” kami serempak dengan bangga para dominan menjawab bahwa kami anak IS. Dan ibuk nya tau gak! Menimpali “wah ya gawat ini”. Apa itu makasud nya woi ibuk tercinta – di lanjutkan dengan bilang kalo anak nya, mas Ajid kelas IA. Juga malah ibuk nya cerita kalo mas Ajid ini tidur nya jam 12 an, sedangkan beliau jam sembilan sudah tidur tapi jam dua bangun lagi. Maksud nya apa itu ibuk?? Oh, ternyata beliau mau menjelaskan teknis penyalaan sanyo ngadat kami.

                Kon. Ndang kon. Minta maaf.

                Suara itu samar gue denger karena gue lagi konsen di tv yang sumpah bikin ngakak. Oyo! Gue sadar. Saat saat yang di tunggu dateng. Guru asrama gue juga udah terburu buru buat nyuruh gue atas sesuatu itu.

                Gue memberanikan diri gue. Berdiri dan maju. Dan membuka mulut—

                “bu, saya minta maaf. Saya sudah matahin dua kunci kamar. Saya bener bener gak sengaja buk, saya lagi mau masuk kamar tiba tiba patah. Yang satu kamar saya, terus kamar nya Sary. Itu juga gara gara gak sengaja juga—“

                Permohonan maaf gue terpotong karena gue juga bingung mau ngomong apalagi.

                “ini Khonsa ya? Owalah. Pantes ibuk waktu lagi ngecekin pintu kamar kok lihat ini dua kamar patah, selama dua minggu lagi. Ibuk bingung mau bilang bapak tapi udah ini biar tanggung jawab kalian. Haha.” Itu jawab ibu nya.

                “maafin saya ya buk.. ini udah di benerin, dua kunci nya saya kasihin ke ibuk aja..” ucap ku dengan nada agak sedikit memelas.

                “haha gak papa mbak. Kalo ada apa apa itu bilang aja sama ibuk. Dari pada kayak gini, ibuk tau kunci kamar gini langsung kaget, ibuk jadi takut kayak ibu mbak cho cho itu lho yang meninggal dunia karena kaget darah tinggi. Bapak ini juga takut kalo ibuk kayak gitu.”

                Jleb. Sumpah bener gue bener bener ngrasa bersalah. Jangan tinggalkan kami dulu buk..