Aku dan Kekuatan Tak Terpercaya

Aku sangat bermimpi bahkan mendambakan untuk mengasah kemampuan kekuatan yang ada dalam diriku. Aku menyukai menghabiskan tenaga. Berlari kesana kemari, melompat dengan lincah tanpa tawa yang tertahan. Satu yang penting, aku memiliki insting untuk bertarung fisik.

Orang jawa menyebutnya pecicilan. Tidak mengapa orang mengatakan sesuatu seperti itu karena itu memang benar adanya pada diriku.

Aku memiliki jiwa petarung fisik. Aku tahu itu. Saat aku masih kecil tak segan aku memukul adik ku yang menurutku menyebalkan saat itu. Setiap kali marah aku menghantam pintu kayu kamar berkali-kali.

Emosi ku yang mudah tersulut memberiku kekuatan yang lebih. Aku ingat baru ini aku memecahkan kaca-kaca lemari dengan sekali hantaman. Aku memiliki kekuatan yang baik. Bahkan aku tidak sengaja mencengkram tangan ibuku sangat kuat ketika kami hanya bercanda. Sungguh aku menganggap itu cengkraman biasa.

Kekuatan yang baik ini aku rasa harus terkontrol dengan emosi yang teratur.

Saat sd aku tidak diperbolehkan mengikuti kelas bela diri.

Pernah smp aku mengikuti seleksi untuk salah satu cabang kejuaraan bela diri. Aku benar2 merasakan dukungan penuh dalam diriku, tak ada penolakan untuk berhenti. Berlatih siang dan malam. Dua kali battle. Selalu kalah tetapi aku merasakan aku barusaja memulainya. Aku semakin terpacu untuk menekuni bidang ini.

Saat sma ada kenaikan tingkat salah satu cabang bela diri yang aku ikuti. Aku tak merasa gentar sedikitpun. Teriakan senior membuatku berani. Adrenalin ku terpacu ketika senior memerintahkan sesuatu. Aku harus melakukannya dengan benar, penuh kekuatan. Aku tidak hafal nama2 jurus itu. Tetapi asal aku tahu gerakan dan sasaran itu jauh lebih penting bagiku.

Aku terlalu banyak membaca fiksi dan berkhayal. Itu benar. Segala khayalan itu yang membuatku hidup semangat. Ketika aku membayangkan peperangan aku tidak takut. Tak ada yang perlu aku cemaskan karena aku memiliki kekuatan yang riil.

Menonton film perang menggunakan pedang, berkuda, memanah sangat kusukai seperti di TLOTR. Star Wars pun tak henti-henti nya membayangiku dengan jedi yang memainkan lightsabernya. Film-film action pun aah itu yang kusuka juga. Mereka bergerak terus, bergerak dan berfikir cepat.

Tetapi semua itu hamper terasa hilang senyap ketika aku menyadari bahwa orang2 sekitar tidak memercayaiku karena kondisi fisik ku yang lemah. Rentan penyakit.

Namun aku menganggap itu semua hanyalah pandangan halusinasi. Aku Khonsa dan aku memiliki kekuatan yang orang lain tak akan percaya. Aku nyaman dengan dunia imajinasi yang kubuat sendiri, ini.