Dhaka Kakrail, Burung Gagak dan Cadar (Cerita)

Aluya

Kamu pagi itu bercerita. Suaramu masih serak, nafasmu terdengar berat. Suara batuk sebagai intro dari awal percakapan kita. Kamu flu, tidak enak badan. Kalau aku sebut, masuk angin. ‘Semoga lekas sembuh’ itu yang keluar dari bibirku. Aku juga ingin mengatakan ‘Coba minum tolak angin, it works biasanya’. Tapi tertahan begitu saja.

Seperti biasa saja, pertanyaan basa-basi. Kamu menanyaiku kapan aku pulang dari Bandung? Aku jawab tengah malam. Terus ngapain? Ya aku mandi dan istirahat. Mandi? Kamu terheran. Gak kedinginan? Enggak, itu sudah jadi rutinitasku selama di asrama. Aku sudah biasa mandi jam 2 pagi. Dan mungkin akan terus berlangsung sampai kamu tahu nanti sendiri, aku terbangun dari sampingmu di masa mendatang.

Aku suka tawamu. Padahal baru kemarin melihatmu, tapi kita tidak bertukar kata bahkan senyum apalagi tawa. Pun hanya memandangmu 2 detik, tidak lebih. Sedang waktu yang kita miliki adalah dua jam. Menarik bukan?

Pagi itu kamu bercerita bahwa ibumu mengatakan logat jawaku ternyata tak kentara. Tak ada sama sekali. Padahal selama di asrama akulah yang paling fasih berbahasa  Indonesia dengan aksen Jawa. Aku hanya bilang ‘Wah, padahal aku tidak berkamuflase. Sungguh ‘. Aku tertawa. Kamu tertawa.

Tawaku tak selepas itu. Masih ada satu hal yang harus kuutarakan. Keganjalanku. Aku bercerita bahwa pakaian hitam terkadang membuatku tidak bebas. Semua mata memandangku ketika aku berjalan, dimanapun. Kapanpun. Apakah aku perlu melepasnya?

Aluka

Aku menyukaimu karena kau konsisten dengan pakaian hitam itu. Karena kau mendalami ajaran keyakinan kita, begitu dalam. Memang tak semudah itu untuk mengatakan alasan menyukai seseorang. Tapi begitulah secuil rasa ini yang mampu kudefinisikan.

Kondisiku yang flu saat ini menjadi lebih baikan ketika mendengar suaramu. Aku duduk bersandar diatas sofa coklat ini. Sesekali meneguk teh panas.

Kau ingin melepasnya? Tiba-tiba saja kata-katamu ini mengingatkan kenanganku berada di Dhaka Kakrail, Bangladesh. Tepat setahun sebelum mengenalmu. Tepat setahun aku berdoa penuh harap pada Allah agar aku bisa bertemu denganmu dan mengenalmu lebih jauh. Tepat setahun kamu beberapa kali menolak untuk bertemu denganku, membuatku ingin mundur. Aku melihat banyak sekali burung gagak. Mereka bewarna hitam.

Aku menanyakan kepadamu, apakah kamu belajar kitab bernama Fathul Mu’in? Kamu menjawab iya, tetapi tidak semua terbaca. “Perumpamaan wanita sholihah itu seperti burung gagak yang sayapnya bewarna putih. Unik kan? Semua orang pasti tertarik untuk melihat burung gagak dengan sayap putih. Apakah warna cadarmu? Hitam kan? Memang seperti itu. Dimanapun kamu, kamu akan terlihat mencolok. Semua akan tetap melihatmu. Sudah tertulis di kitab salaf. Tenanglah dan jalani keyakinan ini.”

Lalu kamu menanyakan bagaimana jika cadarnya berwarna? Aku tak sanggup menahan tawaku saat itu. Kamu terlalu banyak memiliki pertanyaan. Aku hanya kembali bertanya ‘Burung gagak itu warnanya apa?’

crow art

Kakrail_Mosque,_Dhaka
Dhaka Kakrail Mosque, sumber klik disini 

Salam readers. Ini tulisan terakhir saya di liburan kali ini. Jadi untuk beberapa bulan, saya akan vacuum internet dan menulis. Mohon maaf jika pada posting-posting saya terdapat kesalahan dan membuat tidak enak hati. Terimakasih atas segala dukungan, komentar, kritik dan hal-hal yang berkaitan dengan kepenulisan disini 🙂

 

Advertisements

Tiga Darimu (Mini Story)

1.

Pernah dengar cerita bani israil tentang Al-Malika? Belum? Masa? Gini, dahulu ada seorang wanita cantik sekali dan dia itu adalah pelacur. Kalau kita umpamakan sekarang, dia pelacur high class. Harus punya duit banyak dulu baru bisa ‘bersamanya’. Nah suatu hari ada seorang ahli ibadah yang sudah ngumpulin duit banyak buat bersenang-senang dengan si al malika ini. Ketika Al Malika nya lagi siap-siap, si ahli ibadah ini tiba-tiba berkata di depan Al Malika “saya takut kepada Allah”. Ahli ibadah ini langsung lari dan menangis. Bayangin, dia padahal udah niat lho, udah ngumpulin duit banyak. si Al Malika ini penasaran, kok bisa sih ada yg nolak dia. Akhirnya ketemulah rumah si ahli ibadah ini. Diketuk. Di buka pintunya oleh ahli ibadah, kaget, seketika itu meninggal. Seakan-akan Al Malika ini malah jadi malaikat maut ya? Haha. Al malika ini pun akhirnya tanya-tanya sama sodaranya si ahli ibadah ini, orang sholeh juga. Dan meminta untuk dinikahkan. Al malika juga bertaubat. Akhirnya Al Malika menikah sama sodaranya si ahli ibadah ini, dan mereka dikaruniai anak-anak yang sholeh.

2.

Kemarin iseng, ada orang jualan baju celana gitu. Sekitar jarak 20 meter udah mikir saya, kalau dia belok kanan ke arah masjid entar saya bakal beli celananya. Eh ternyata beneran belok kanan. Setelah solat jamaah, terus ngobrol bentar dan akhirnya saya beli celananya. Juga pernah ada jualan ember pukul. Iya, ember pukul yang dipukul-pukul anti pecah itu. akhirnya saya juga mikir kayak kemaren, belok ke masjid bakal saya beli. Eh ternyata dia gak belok ke masjid, tapi akhirnya ke masjid. Dalam hati saya, wah beli embernya juga nih. Hahaha iya,  poinnya apa hayo? Iya. Prasangka.

3.

Iya, insha Allah kalau enggak ke Mekkah ya ke Pakistan. Bismillah, tinggal sponsor aja sama banyakin amalan.

(addition)

Pesan terakhir dariku. Bantu ibu di dapur ya? Bantu masak.


1.

Tidak, aku tidak pernah membaca cerita itu sebelumnya. Cerita-cerita israiliyat memang menarik sekali, tapi aku pernah membaca bahwa untuk tidak terlalu mempercayainya. Kalau tidak salah di kitab Ibn Katsir Al Bidayah Wannihayah. Dan ya, kita bisa selalu ambil hikmah dari setiap cerita. Walaupun keotentikannya masih saja diragukan. Hanya itu yang kupikirkan saat mendengar cerita Al Malika. Juga tawamu yang menyenangkan.

2.

Prasangka dan sedikit kurang kerjaan. Sama halnya kalau aku dan beberapa temanku di pondok. Melantunkan sebait qosidah Ala Yallah Bin Nadhrah sambil meniatkan untuk seseorang di depan kita. Kalau dia menengok, maka dia benar wali Allah dan kami akan menghampirinya lalu meminta doa yang banyak. Haha, lucu bagi kami. Lalu kamu menyeletuk, yasudah nanti saya baca itu ketika ada kamu. Lalu aku hanya bisa memberikan tertawa garing, bingung berucap apa. “Ya, saya tau maksudnya kok”

3.

Oh, jadi kamu akan pergi untuk 3 sampai 4 tahun. Itu adalah hidayah Allah yang luar biasa. Tidak sembarang orang punya keinginan mulia seperti itu, dan juga Allah karuniakan rezeki untuk mendapat kesempatan itu. Semoga Allah selalu luruskan niatmu dan menyukseskan semua mimpi dan harapmu. Walaupun aku…

(addition)

Kamu tahu kelemahan saya.

winter-photography-tumblr-6
sumber gambar klik disini

Hallo readers, ini adalah mini story setelah lama saya tak buat. Mohon masukan dan kritiknya. Terimakasih. Hansa

 

Adiksi Sebuah Kerinduan

Aku rindu pada seseorang. Rindu yang hanya jika dilepas dengan mengucapkan ‘hi’ padanya lalu ia membalas ‘hi juga’. Maka akan terbalas lunas sudah rinduku. Walaupun hanya 2 kata itu yang kudapat.

Namun rindu ini dapat menjadi adiksi bagiku. Aku tahu. Adiksi yang begitu nyata dan menyakitkan. Bayangkan, jiwa mu meronta setiap kau memandangi ponsel mu dengan penuh harap. Adiksi yang mendera perasaanmu jika teringat hukum syariat agamamu.

Adiksi yang memaksamu menambah frekuensi

Adiksi yang membuatmu tak peduli eksekusi

Adiksi yang dengan jiwa terikat serasi

Adiksi yang membuat jiwa mu menghamba seperti kelasi

Kau abaikan semua yang datang menghampirimu. Semua yang kau temui. Kau hanya memandang mereka dengan pandangan kosong. Bahkan yang terbayang selalu dirinya yang kau rindu.

Aku tahu,

Itu perih. Menyesakkan.

Mungkin rindu kalian adalah sehari-dua hari tak jumpa. Semingu-dua minggu. Ya, rindu pada kekasih yang sama-sama telah menyatakan sebuah ‘hubungan’ yg tak pernah berlabel halal dalam syariat kami.

Rinduku adalah rindu yang tak pernah tersampaikan sempurna

Rinduku adalah adiksi nyata

Rinduku adalah tantangan yang diberikan Tuhanku

Biarkan rindu suciku ini tumbuh tinggi menjadi sebuah perhiasan bagiku.

Menjadi saksi kesetiaanku

Menjadi kebanggaanku

Menjadi latihan kesolihanku

Dan rinduku akan menjelma menjadi segala hadiah doa terbaik yang akan ia terima

Aku Malu Kepadanya

Aku malu kepada ulat-ulat yg bertasbih dalam geliatnya

Aku malu kepada langit yg akan selalu tunduk pada perintah-Nya

Aku malu kepada Yusuf yang tak tergoda

Aku malu kepada dia yang mencari suara tuhan-Nya

Di kala aku terlena dengan pemberian agung tuhan

Aku malu kepada dia yang menangis karena dosanya

Di kala aku berfikir aku tak berdosa

Aku malu kepada dia yang selalu diuji tuhan-Nya

Di kala hidupku tak ada aral

Karena ujian hanyalah untuk mereka yg dicinta

Beginilah aku yang hina

Yang didiamkan tuhan-Nya tanpa masalah

Doa Sang Pembenci

“Berikan aku rahmat-Mu”

“Lancarkan usahaku, Tuhan”

“Menangkan aku dalam caleg esok ya Tuhan”

Itu suara-suara hamba-Mu, Tuhan. Dibawah sana

Namun, dengarlah lebih jelas sekali lagi, Tuhan

Wanita berambut panjang itu mengaduh dalam senyum palsunya

Tak ada keinginan duniawi yang muluk

Dia ingin selalu ada didekat-Mu, untuk mengingat-Mu

Selalu

Walau dia hanya memiliki kebencian

Karena dekat dengan-Mu dengan kebencian-kebencian adalah hidayah untuknya, Tuhan.