Panggil Aku Selalu dengan ‘Gadis Kecil’ I

Dulu kau memanggilku ‘Gadis Kecil’ dan aku memanggil mu ‘Abang Tetangga’

Terakhir kau panggil aku ‘Gadis Kecil’ saat aku 16 tahun. Usia balighku

Lalu kita berpisah karena studi luar negerimu

Tahun berjalan

Umurku 19. Sebentar lagi 20

Umurmu 29. Sebentar lagi 30

Kau kembali ke rumah mu dan rayakan keberhasilan studi mu

Hanya abah yang datang

Dan kau yang meminta agar abah saja yang datang

Kenapa ‘Abang Tetangga’? Apakah aku punya salah?

Apakah kau tak rindu pada ‘Gadis Kecil’mu ini?

Hari berjalan. Perjumpaan denganmu tak pernah ada kata-kata

Hanya hati yang mengeluh. Lagi-lagi apa yang salah?

‘Abang Tetangga’ selalu baik pada semua orang

Tidak mungkin tanpa sebab ia tak acuhkan aku

Abang Tetangga

Panggilah aku dengan ‘Gadis Kecil’ sebagaimana kebiasaan dahulu kita

Yang ingin selalu kau sapa

Yang ingin selalu kau beri oleh-oleh

Yang ingin selalu kau cubit gemas

Yang ingin selalu kau kejar-kejar

Yang ingin selalu membuat kedua matamu berbinar-binar melihat tingkahku

 

to be continued

Perjalanan Cinta Khonsa

Semenjak lulus SMP dan SMA bahkan SD aku tidak pernah menjalani sebuah budaya jahiliyah baru, pacaran. Juga hingga semester 4 saat ini. Sama sekali tidak pernah. Lantas, apakah aku pernah merasakan cinta? Tentu saja pernah. Cinta yang sama semenjak lulus SMP hingga .. lupakan.

Karena pernah menjadi korban perfilman dan lagu cinta, aku beberapa membayangkan jika memang orang yg kucintai memang bisa juga mencintaiku atau Tuhan Allah memertemukan kita. Yeks. Aku juga berdoa pada Allah agar diberi seseorang atau lebih tepatnya dipinjamkan (karena apa-apa di dunia hanya titipan) seseorang yang mampu membuat hatiku bergembira selalu, mampu membawaku pada jalan kebenaran, dan mengisi hari bersama-sama dengan penuh kebahagiaan.

Allah mendengar doaku. Tak hanya itu, Allah menjawab doaku.

Suatu malam, aku diajak oleh ammi (ibu) menemui gurunya. Kami berbincang lepas, membicarakan banyak hal tentang pemikiran kuliah hingga islam. Pembicaraan kami berganti, beliau sempat bercerita padaku mengenai seseorang yang mampu membuat hatiku tidak bekerja seperti biasanya dan otak yang berfikir “aku ingin bertemu dengannya….”

Allah lagi-lagi mendengar doaku dan menjawab doaku. Semenjak saat itu aku sering bertemu dengan guru ammiku, ia bercerita banyak hal tentang seseorang itu. Sungguh senang sekali mendengarkannya. Dan membuatku merasakan bahwa nantinya ia akan lebih baik daripada orang yang kucintai sebelumnya.

Wisuda SMA telah selesai dilaksanakan. Ucapan selamat berdatangan dari keluarga besar karena mampu mendapatkan hasil yang baik. Dan pertanyaan melanjutkan tempat kuliah tak henti-hentinya di lontarkan padaku.

Aku dan ammi membicarakan hal ini. Dahulu beliau setuju bahwa aku akan mengambil sebuah jurusan di PTN. Tetapi lama kelamaan ammi menolak hal ini. Padahal aku yakin bahwa aku pasti bisa masuk jurusan itu dengan undangan ataupun ujian tertulis. Aku bingung. Orang tuaku masih belum yakin anaknya mampu bertahan diluar dengan lingkungan yg benar2 majemuk. Mereka cemas. Lantas akan dimanakah aku bersekolah?

Lalu diberilah aku dua pilihan. Kuliah di sebuah pondok ternama bahkan jika di Yaman ditanya, “dari mana kamu?” “dalwa”. Maka mereka akan memuji-muji betapa kerennya dan ajibnya pondok ini. Dan pilihan kedua adalah mondok di tempat guruku. Yang apabila sudah beberapa tahun disana, maka akan dikirimkan ke Yaman. Yaman, negara yg indah dengan kuburan ribuan ulama dan wali , penuh hikmah, dekat dengan keturunan Rasulullah. Maka siapa yang tak ingin dengan pilihan ini? Aku memilih pilihan nomor dua.

Cobaan datang. Orang tuaku lagi-lagi berbeda pendapat. Mereka lebih memilih nomor satu. Mondok dan kuliah. Hingga berulang kali aku berkata “Tidak mengapa aku tidak kuliah tak bergelar sarjana, yang penting aku mau agama dan Yaman.” Tetapi orang tuaku bersikeras untuk menyuruhku kuliah dan mondok. Aku sedih karena tak mampu dengan guru itu. Juga tak akan mendengar cerita tentang seseorang itu yang mampu mebuat hati berdebar dan memancarkan cahaya harapan di mata.

Aku berbakti pada orang tua. Aku paham ridho Allah pada mereka. Aku taat pada mereka. Aku pun mulai mondok. Aku juga mulai kuliah Ekonomi Islam.

Lama kelamaan aku menemukan sosok yang kuharapkan itu di pondokku. Perlahan aku suka mendengar cerita dari para guru. Mencuri dengar obrolan santri. Allah tidak pernah menyia-nyiakanku.

Raga ini rasanya ingin melayang. Hariku dipenuhi senyuman indah. Motivasi belajarku menjadi dia. Aku ingin menjadi yang terbaik, agar orang-orang kenal padaku. Hingga apabila ia bertanya pada teman atau guru, “siapakah saja perempuan yang paling pintar hafalan hadistnya, nahwunya, fiqih, akhlak dan solehah?” Maka aku berharap teman atau guru-guru menyebutkan salah satunya adalah aku. Khonsa Nabilah

Cukup ambisius memang. Tapi mau bagaimana lagi? Cinta yg menggelora dihatiku membuatku seperti ini.

Malam-malam ku di pondok selalu menjadi sebuah harapan agar aku dijumpainya dalam mimpiku. Lalu siangku kupenuhi dengan kegiatan belajar, menambah ilmu agama. Ya, kegiatan yang ia sukai. Memang benar kata ulama terdahulu. “Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia adalah budaknya.”

Cinta ini mengubahku. Lewat perantaranya, Allah merubah kehidupan batinku.

Semenjak banyak menimba ilmu, mendengar kisahnya, membaca sirohnya, mencintai ulama yang mencintainya, selalu ada rasa tenang di batin yang kurasakan. Bahkan ketika biasanya aku dulu mengadu pada manusia, aku sekarang menjadi malu untuk seperti itu. Karena aku punya Allah dan…. orang yang kucintai itu. Rasulullah.

Karena seperti kebiasaan orang yang mencintai, pasti akan mengorek seluruh kehidupannya. Begitupula aku. Jelas senangnya, karena hal ini bermanfaat dan mendapat pahala. Justru dengan ini, semakin membuatku dekat pada Allah dan sadar bahwa dunia hanya tempat mencari bakal dan penuh hal yang fana.

Seluruh kisahnya, kalamnya berusaha kupetik hikmahnya dan mengaplikasikannya pada kehidupanku. Sehingga ketika aku dilanda masalah, aku berfikir bahwa aku punya Rasulullah yang masalahnya jauh lebih besar dari kita. Dihujat, dihina, dilempari kotoran unta dan manusia kala sholat. Padahal? Padahal Rasulullah pada jalan yang benar. Tetapi ia hanya senyum dan mendoakan mereka dengan kebaikan.

Aku ikuti jalannya. Sabar. Suatu hari ada org yg membenciku tanpa alasan yg kuketahui. Menatap ku dengan tatapan tak ramah, tak mau berbicara padaku. Aku sabar. Aku serahkan pada Allah. Au berusaha berfikir bahwa aku adalah makhluk yg hina di pondok ini. Aku tidaklah lebih baik dari mereka. Janji Allah dan Rasul-Nya benar. “Barang siapa yang merendahkan diri didepan manusia, Allah angkat ia. Dan barang siapa yg meninggikan dirinya pada manusia, Allah rendahkan ia.” Aku menjadi termasuk dari kalangan orang yang cukup disegani di lingkungan pondokku. Aku tahu, ini berkat Allah dan Rasul-Nya.

Dengan cintaku padanya, terkadang aku menjadi takut dosa. Takut melukai hatinya. Takut membuka aurat, takut segala hal-hal yang berakibat tidak baik dari apa2 yg tlah ia beritakan.

Apakah kalian juga mencintainya? Sungguh aku mencintainya. Dengan menjalani sunnah-sunnahnya, aku merasa bahwa Rasulullah memang bersamaku selalu. Indahnya cinta ini.

Allah, terimakasih engkau hadirkan padaku sosok yang sempurna. Dan hati yang tlah Engkau buka untuk mencintainya.

 

Kemana Arah Kemudi Cintamu?

“Seseorang akan bersama orang yang ia cintai.”

(HR Bukhori no. 6168, Muslim no 6660. At-Tirmidzi 2378 dan Imam Ahmad III/104)

Tahukah kalian, para sahabat seketika benar-benar bahagia mendengar hadist nabi ini. Lalu bagaimana tingkatan kebahagian dengan hadist tentang jihad, mati syahid, tentang janji-janji kebahagian seperti tentang sholat dan kemenangan? Yang pasti mereka bahagia dengan amal sholeh nya. Hanya saja hadist ini membuat mereka sangat lebih berbahagia. Kenapa? Karena rasa cinta mereka kepadang sang Qudwah yang muliah begitu sempurna. Sehingga ini benar-benar menjadi jaminan yang pasti untuk mereka. Ini lah buah cinta mereka, sehingga akan dikumpulkan bersama Rasulullah di hari kiamat nanti.

Sekarang, ada pertanyaan untuk masing-masing dalam diri kita.

Siapakah yang menjadi teladan kita? Siapa yang kita cintai? Dan siapa yang selalu terfikir dalam benak dan selalu kita bincangkan?

Artis korea? Boyband barat? Para penyanti yang membuka aurat mereka? Pemain sepak bola kafir? Para orang kafir tersebutkah yang ada dalam hati-hati kalian? Ingatlah!

“Seseorang akan bersama orang yang ia cintai.”

Relakah diri kalian nantinya terbakar dengan mereka di neraka? Mintalah syafaat pada mereka di saat kalian kehausan di mahsyar nanti. Mampukah mereka memberikannya untuk kalian? Tidak, sekali-kali tidak.

Sungguh kawan, perkara agama ini tergantung pada amal perbuatan kalian dalam kehidupan, adat, perkataan dan sikap kalian selama ada didunia ini.

Wahai sahabatku tercinta.. Sesungguhnya hal yang memalukan bagi muslimah dan mukminah adalah tidak peduli pada sydt. Fathimah Az-Zahra. Tidak mencontoh beliau yang jelas-jelas beliau adalah contoh nyata wanita mulia.. Tetapi mengapa terkadang mengikuti orang-orang yang justru menghinakan dirinya dengan maksiat, tidak sadar bahwa Allah selalu melihat? Yang tidak menangisi dosa-dosanya? Yang tidak percaya akan hari kiamat?

Sungguh munafik diri ini, mengaku cinta rasul tetapi tak berbukti. Tak mengikuti yang diperintahkannya. Tidak mencintai para keturunannya. Menduakannya terhadap cinta yang lain tanpa basis beliau.

Sahabat, di akhirat nanti, seluruh manusia, sejak awal penciptaan hingga akhir akan menundukkan kepalanya saat beliau sydt. Fathimah melewati shirat. Beliau akan berjalan bak cahaya yang bersinar terang.

Ketika di padang mahsyar akan terdengar sura dari arsy Allah swt sebuah seruan, “Wahai manusia. Tundukkan kepala kalian dan pejamkan mata kalian karena Fatimah binti Muhammad akan melewati shirat.”

Duhai sang dzurriyat.. Begitu hinanya kami termakan oleh janji palsu dunia dengan menduakan cinta kami dari mu.. Engkaulah cinta sejati itu, cinta yang didunia ini terdengar asing namun sangat akrab di akhirat nanti..

Apakah kalian sahbatku, tidak ingin berada dibelakang beliau, lewat di shirat bersama beliau dan mengikuti beliau?

Namun mengapa kita menukar Rasulullah dan Az-Zahra dengan yang lainnya?

Ya Allah, sampaikanlah kami kepada hakikat keimanan.

Ya Allah, perbaikilah diri kami, negeri kaum muslimin dengan wanita-wanita yang berakhlak mulia, yang menjaga kehormatannya. Jadikan para wanita ini istiqomah dan diakui oleh sydt. Fathimah sebagai rombongannya kelak.

Ya Allah jauhkanlah kami dari marah dan adzab mu. Limpahkanlah hidayah, taufik dan rahmat-Mu.

Ya Allah, perbaikilah kami sebagaimana Engkau telah memperbaiki hamba-hamba-Mu yang shaleh.

Wahai tuhan kami, dengarkanlah dan kabulkanlah doa serta permohonan kami.

Sajak Rindu

00:32:39

Lama panggilan telepon yang biasa tercantum di hape CDMA wisma.

Suara khas mulai berbicara.

Selalu dan selalu dimulai dengan, “Ada apa nduk?”

Ah, ibuku.

Sebentar, apa yang ingin kuucapkan.

Selalu dan terkadang hanya dengan, “Gak papa o mi”

Berlangsung dengan cerita-cerita sehari-hari.

Dan akan berakhir, “Em..”

Ammi, anak mu selalu rindu padamu.

Biar tetes mata hendak tidurku menjadi saksi.

Saksi aku merindukan orang yang sangat pantas untuk dirindukan.

Pada zaman gelap ini.