Dhaka Kakrail, Burung Gagak dan Cadar (Cerita)

Aluya

Kamu pagi itu bercerita. Suaramu masih serak, nafasmu terdengar berat. Suara batuk sebagai intro dari awal percakapan kita. Kamu flu, tidak enak badan. Kalau aku sebut, masuk angin. ‘Semoga lekas sembuh’ itu yang keluar dari bibirku. Aku juga ingin mengatakan ‘Coba minum tolak angin, it works biasanya’. Tapi tertahan begitu saja.

Seperti biasa saja, pertanyaan basa-basi. Kamu menanyaiku kapan aku pulang dari Bandung? Aku jawab tengah malam. Terus ngapain? Ya aku mandi dan istirahat. Mandi? Kamu terheran. Gak kedinginan? Enggak, itu sudah jadi rutinitasku selama di asrama. Aku sudah biasa mandi jam 2 pagi. Dan mungkin akan terus berlangsung sampai kamu tahu nanti sendiri, aku terbangun dari sampingmu di masa mendatang.

Aku suka tawamu. Padahal baru kemarin melihatmu, tapi kita tidak bertukar kata bahkan senyum apalagi tawa. Pun hanya memandangmu 2 detik, tidak lebih. Sedang waktu yang kita miliki adalah dua jam. Menarik bukan?

Pagi itu kamu bercerita bahwa ibumu mengatakan logat jawaku ternyata tak kentara. Tak ada sama sekali. Padahal selama di asrama akulah yang paling fasih berbahasa  Indonesia dengan aksen Jawa. Aku hanya bilang ‘Wah, padahal aku tidak berkamuflase. Sungguh ‘. Aku tertawa. Kamu tertawa.

Tawaku tak selepas itu. Masih ada satu hal yang harus kuutarakan. Keganjalanku. Aku bercerita bahwa pakaian hitam terkadang membuatku tidak bebas. Semua mata memandangku ketika aku berjalan, dimanapun. Kapanpun. Apakah aku perlu melepasnya?

Aluka

Aku menyukaimu karena kau konsisten dengan pakaian hitam itu. Karena kau mendalami ajaran keyakinan kita, begitu dalam. Memang tak semudah itu untuk mengatakan alasan menyukai seseorang. Tapi begitulah secuil rasa ini yang mampu kudefinisikan.

Kondisiku yang flu saat ini menjadi lebih baikan ketika mendengar suaramu. Aku duduk bersandar diatas sofa coklat ini. Sesekali meneguk teh panas.

Kau ingin melepasnya? Tiba-tiba saja kata-katamu ini mengingatkan kenanganku berada di Dhaka Kakrail, Bangladesh. Tepat setahun sebelum mengenalmu. Tepat setahun aku berdoa penuh harap pada Allah agar aku bisa bertemu denganmu dan mengenalmu lebih jauh. Tepat setahun kamu beberapa kali menolak untuk bertemu denganku, membuatku ingin mundur. Aku melihat banyak sekali burung gagak. Mereka bewarna hitam.

Aku menanyakan kepadamu, apakah kamu belajar kitab bernama Fathul Mu’in? Kamu menjawab iya, tetapi tidak semua terbaca. “Perumpamaan wanita sholihah itu seperti burung gagak yang sayapnya bewarna putih. Unik kan? Semua orang pasti tertarik untuk melihat burung gagak dengan sayap putih. Apakah warna cadarmu? Hitam kan? Memang seperti itu. Dimanapun kamu, kamu akan terlihat mencolok. Semua akan tetap melihatmu. Sudah tertulis di kitab salaf. Tenanglah dan jalani keyakinan ini.”

Lalu kamu menanyakan bagaimana jika cadarnya berwarna? Aku tak sanggup menahan tawaku saat itu. Kamu terlalu banyak memiliki pertanyaan. Aku hanya kembali bertanya ‘Burung gagak itu warnanya apa?’

crow art

Kakrail_Mosque,_Dhaka
Dhaka Kakrail Mosque, sumber klik disini 

Salam readers. Ini tulisan terakhir saya di liburan kali ini. Jadi untuk beberapa bulan, saya akan vacuum internet dan menulis. Mohon maaf jika pada posting-posting saya terdapat kesalahan dan membuat tidak enak hati. Terimakasih atas segala dukungan, komentar, kritik dan hal-hal yang berkaitan dengan kepenulisan disini 🙂

 

Advertisements

Tiga Lelaki Egois (Mini Story)

Semua orang senang kepadanya. Dia adalah aktivis suatu organisasi ternama di kota ini. Pendapatnya dihargai oleh orang-orang. Orasinya membuat pendengar semangat dalam mengerjakan kebaikan. Ketika ia berjalan, semua akan menyapanya. Tidak banyak bicara dan tidak banyak bertingkah. Semakin menunjukkan wibawanya. Ia terkenal dengan mendidik anak-anaknya sejak usia belia untuk mencintai rumah ibadah. Anak-anaknya dididik dalam tuntunan agama yang indah secara ketat. Tak dibiarkan satu helai rambut terlihat oleh orang asing. Warna ceria mencolok dalam pakaian pun akan menjadi perhatian penuh. Dia sangat memperhatikan keluarganya.


Menjadi seseorang yang sukses memang tidak semudah diucapkan. Pengorbanan dan usaha keras menjadi kunci utamanya. Tetapi baginya ridho Tuhan yang terpenting. Hanya itu cita-citanya. Segala hal ia lakukan dengan penisbatan yang begitu relijius. Kehidupannya mengalami banyak banting setir, catatan segala pengalamannya menunjukkan kalau ia adalah orang yang berintelegensi. Ucapannya teratur dan membuat orang selalu ingin mendengarkan dan duduk bersamanya. Tidak menggurui dan tidak menjustifikasi.


Kehidupan yang layak adalah keinginan semua orang. Segala hal akan dilakukan demi mencapainya. Keputusan menjadi imigran di negeri yang kaya minyak salah satunya. Menjadi kaum minoritas dengan nihil kemampuan bahasa tempat imigrasi menjadi kendala yang sulit terkadang walaupun ia mahir dalam berbahasa internasional. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungannya bahkan tertarik untuk mengikuti keyakinan yang dianut mayoritas. Berpikir bebas adalah ciri utamanya. Ia akan melakukan hal yang ia sukai. Belajar banyak hal dari bertanya dan bergaul. Paras dan pesonanya akan membuat siapapun yang berbicara dengannya barang sedetik akan terpikat.




Seseorang akan hidup dan berpegang teguh atas apa yang diyakininya. Terkadang ia tak memberi peluang untuk segala perubahan. Menganggap perubahan dan ketidakserasian dalam hidup sebagai ancaman yang memalukan. Memaksa orang disekelilingnya untuk mengikuti pahamnya. Ah tidak semuanya, ada juga yang tidak memaksa tapi meninggalkan efek yang luar biasa pada orang sekitar.




Menikahkan seorang anak bukanlah perkara yang mudah. Terlebih anak perempuan. Seperti yang diketahui, anak perempuan akan dibawa oleh sang suami. Harus mengikuti perintah suami karena taat pada orangtua bukan lagi opsi nomer satu. Sebelum tahap pernikahan adalah tahap pengenalan. Jika kedua pihak telah cocok satu sama lain, tinggal hanya diadakan pertemuan keluarga besar dan tentukan tanggalnya. Begitulah secara teori. Semua ini bisa saja terhambat karena perbedaan. Perbedaan kepentingan organisasi dan misi yang berbeda benar-benar terjadi. Memisahkan dua orang yang sudah seharusnya di jenjang berikutnya. Menyisakan atmosfer dingin dan abai terhadap satu hal, perasaan anak perempuan itu. Menggantungkan segala harap yang pernah terpikir.


Memiliki pasangan hidup adalah hal yang didambakan bagi kebanyakan orang. Terlebih lagi bagi para kaum relijius. Menggenapkan separuh keyakinan mereka, katanya. Tetapi untuk memilikinya tidak semudah mengangankannya. Bagaimana jika keluarga wanita yang sudah diyakininya justru memiliki satu paham yang berbeda? Walaupun bukan hal prinsip, bukankah itu akan sedikit menyulitkan untuk memiliki keluarga yang satu visi dan misi. Mundur perlahan akan sulit dilakukan. Bagaimanapun ia telah memulai. Memikirkan perasaan sang wanita itulah yang memang harus dilakukan. Tetapi dengan perbedaan seperti ini, lebih baik memikirkan kelanjutan studinya. Mengejar segala mimpi tetapi justru memburamkan mimpi seseorang.


Asing di negeri orang. Jauh dari keluarga. Teman-teman dengan beraneka ragam budaya. Menjadi sebuah kesatuan ujian sekaligus kesenangan tersendiri. Ditambah banyak melakukan observasi terhadap lingkungan baru membuat hidup semakin menarik. Mendebat dan melakukan brainwashing kepada siapa saja yang tak sepakat. Menampar keras dengan sikap ‘meninggalkan’ dan acuh kepada orang yang selama ini ia cintai karena perbedaan itu. Lalu kembali lagi dengan segala perubahan demi wanita yang ia cintai. Memaksakan cintanya untuk selalu terbalas. Hanya memberi dua hal menyakitkan, ‘bersamaku dan tunggu aku’.




Tidak ada yang memahami dan tidak ada yang peduli. Semua ingin perasaannya yang diperhatikan. Tidak memperhatikan siapakah yang paling merasakan derita. Tidak ada yang tahu hatinya bergelayut kesedihan dan harap yang telah tertebas oleh ketidakpastian. Tidak ada keseriusan diantara gelombang-gelombang perasaan yang telah mereka berikan. 

Lelaki pertama. Membuatnya tak mampu untuk mengutarakan semua yang ia rasakan. Dengan dalil perbedaan dan ekspektasi keluarga besar dengan satu misi yang sama. Padahal dua tahun yang lalu, ia yang paling bersemangat dalam hubungan serius itu. Ia terjebak dalam paham kepentingan organisasi, mengorbankan perasaan putrinya.

Lelaki kedua. Diam dan diam. Masih mempertahankan perbedaan yang ia miliki. Tetapi ia mentolelir, berjanji tak akan ada doktrin keras dalam kehidupan selanjutnya, jika memang itu akan terjadi. Tetapi diamnya telah menyiksa perasaan sang wanita. Kenapa dalam waktu terakhir tidak ada kelanjutan komunikasi antara dia dan sang ayah? Seakan tidak terjadi apa-apa. Kepergiannya akan menjadi tanda tanya besar atas keseriusannya.

Lelaki ketiga. Mungkin wanita itu benar-benar telah mempengaruhi setiap sisi kehidupannya. Merubah keyakinan lamanya terhadap ajaran yang damai. Mampu menghentikan kebiasaan membakar tembakau demi yang dicintai. Tetapi meminta seorang wanita untuk bertahan dengannya setelah mengetahui segala hal yang terjadi pada wanita itu bukanlah solusi yang tepat. Selalu menjumpainya di berbagai kesempatan, seolah pertemuan itu tak bermasalah. Memaksakan cinta terbalas dan membuat wanita berpura-pura mencintainya demi keabadian keyakinan yang baru saja ia peluk, bukanlah perkara main-main.   

dark-forest-moon-wallpaper-2
sumber gambar klik disini

Cerita ini fiktif bisa dan yang lain juga boleh deh. Kalau ada kesamaan atau agak mirip dengan beberapa bagian kehidupan kalian, semoga bisa ditilik kembali dan diambil ibrah yang sesuai. Juga menjadi dewasa dengan segala hal yang menghadapi kita. Kritik dan masukan you’re very welcome 😉

Tiga Darimu (Mini Story)

1.

Pernah dengar cerita bani israil tentang Al-Malika? Belum? Masa? Gini, dahulu ada seorang wanita cantik sekali dan dia itu adalah pelacur. Kalau kita umpamakan sekarang, dia pelacur high class. Harus punya duit banyak dulu baru bisa ‘bersamanya’. Nah suatu hari ada seorang ahli ibadah yang sudah ngumpulin duit banyak buat bersenang-senang dengan si al malika ini. Ketika Al Malika nya lagi siap-siap, si ahli ibadah ini tiba-tiba berkata di depan Al Malika “saya takut kepada Allah”. Ahli ibadah ini langsung lari dan menangis. Bayangin, dia padahal udah niat lho, udah ngumpulin duit banyak. si Al Malika ini penasaran, kok bisa sih ada yg nolak dia. Akhirnya ketemulah rumah si ahli ibadah ini. Diketuk. Di buka pintunya oleh ahli ibadah, kaget, seketika itu meninggal. Seakan-akan Al Malika ini malah jadi malaikat maut ya? Haha. Al malika ini pun akhirnya tanya-tanya sama sodaranya si ahli ibadah ini, orang sholeh juga. Dan meminta untuk dinikahkan. Al malika juga bertaubat. Akhirnya Al Malika menikah sama sodaranya si ahli ibadah ini, dan mereka dikaruniai anak-anak yang sholeh.

2.

Kemarin iseng, ada orang jualan baju celana gitu. Sekitar jarak 20 meter udah mikir saya, kalau dia belok kanan ke arah masjid entar saya bakal beli celananya. Eh ternyata beneran belok kanan. Setelah solat jamaah, terus ngobrol bentar dan akhirnya saya beli celananya. Juga pernah ada jualan ember pukul. Iya, ember pukul yang dipukul-pukul anti pecah itu. akhirnya saya juga mikir kayak kemaren, belok ke masjid bakal saya beli. Eh ternyata dia gak belok ke masjid, tapi akhirnya ke masjid. Dalam hati saya, wah beli embernya juga nih. Hahaha iya,  poinnya apa hayo? Iya. Prasangka.

3.

Iya, insha Allah kalau enggak ke Mekkah ya ke Pakistan. Bismillah, tinggal sponsor aja sama banyakin amalan.

(addition)

Pesan terakhir dariku. Bantu ibu di dapur ya? Bantu masak.


1.

Tidak, aku tidak pernah membaca cerita itu sebelumnya. Cerita-cerita israiliyat memang menarik sekali, tapi aku pernah membaca bahwa untuk tidak terlalu mempercayainya. Kalau tidak salah di kitab Ibn Katsir Al Bidayah Wannihayah. Dan ya, kita bisa selalu ambil hikmah dari setiap cerita. Walaupun keotentikannya masih saja diragukan. Hanya itu yang kupikirkan saat mendengar cerita Al Malika. Juga tawamu yang menyenangkan.

2.

Prasangka dan sedikit kurang kerjaan. Sama halnya kalau aku dan beberapa temanku di pondok. Melantunkan sebait qosidah Ala Yallah Bin Nadhrah sambil meniatkan untuk seseorang di depan kita. Kalau dia menengok, maka dia benar wali Allah dan kami akan menghampirinya lalu meminta doa yang banyak. Haha, lucu bagi kami. Lalu kamu menyeletuk, yasudah nanti saya baca itu ketika ada kamu. Lalu aku hanya bisa memberikan tertawa garing, bingung berucap apa. “Ya, saya tau maksudnya kok”

3.

Oh, jadi kamu akan pergi untuk 3 sampai 4 tahun. Itu adalah hidayah Allah yang luar biasa. Tidak sembarang orang punya keinginan mulia seperti itu, dan juga Allah karuniakan rezeki untuk mendapat kesempatan itu. Semoga Allah selalu luruskan niatmu dan menyukseskan semua mimpi dan harapmu. Walaupun aku…

(addition)

Kamu tahu kelemahan saya.

winter-photography-tumblr-6
sumber gambar klik disini

Hallo readers, ini adalah mini story setelah lama saya tak buat. Mohon masukan dan kritiknya. Terimakasih. Hansa

 

Panggil Aku Selalu dengan ‘Gadis Kecil’ I

Dulu kau memanggilku ‘Gadis Kecil’ dan aku memanggil mu ‘Abang Tetangga’

Terakhir kau panggil aku ‘Gadis Kecil’ saat aku 16 tahun. Usia balighku

Lalu kita berpisah karena studi luar negerimu

Tahun berjalan

Umurku 19. Sebentar lagi 20

Umurmu 29. Sebentar lagi 30

Kau kembali ke rumah mu dan rayakan keberhasilan studi mu

Hanya abah yang datang

Dan kau yang meminta agar abah saja yang datang

Kenapa ‘Abang Tetangga’? Apakah aku punya salah?

Apakah kau tak rindu pada ‘Gadis Kecil’mu ini?

Hari berjalan. Perjumpaan denganmu tak pernah ada kata-kata

Hanya hati yang mengeluh. Lagi-lagi apa yang salah?

‘Abang Tetangga’ selalu baik pada semua orang

Tidak mungkin tanpa sebab ia tak acuhkan aku

Abang Tetangga

Panggilah aku dengan ‘Gadis Kecil’ sebagaimana kebiasaan dahulu kita

Yang ingin selalu kau sapa

Yang ingin selalu kau beri oleh-oleh

Yang ingin selalu kau cubit gemas

Yang ingin selalu kau kejar-kejar

Yang ingin selalu membuat kedua matamu berbinar-binar melihat tingkahku

 

to be continued

Perjalanan Cinta Khonsa

Semenjak lulus SMP dan SMA bahkan SD aku tidak pernah menjalani sebuah budaya jahiliyah baru, pacaran. Juga hingga semester 4 saat ini. Sama sekali tidak pernah. Lantas, apakah aku pernah merasakan cinta? Tentu saja pernah. Cinta yang sama semenjak lulus SMP hingga .. lupakan.

Karena pernah menjadi korban perfilman dan lagu cinta, aku beberapa membayangkan jika memang orang yg kucintai memang bisa juga mencintaiku atau Tuhan Allah memertemukan kita. Yeks. Aku juga berdoa pada Allah agar diberi seseorang atau lebih tepatnya dipinjamkan (karena apa-apa di dunia hanya titipan) seseorang yang mampu membuat hatiku bergembira selalu, mampu membawaku pada jalan kebenaran, dan mengisi hari bersama-sama dengan penuh kebahagiaan.

Allah mendengar doaku. Tak hanya itu, Allah menjawab doaku.

Suatu malam, aku diajak oleh ammi (ibu) menemui gurunya. Kami berbincang lepas, membicarakan banyak hal tentang pemikiran kuliah hingga islam. Pembicaraan kami berganti, beliau sempat bercerita padaku mengenai seseorang yang mampu membuat hatiku tidak bekerja seperti biasanya dan otak yang berfikir “aku ingin bertemu dengannya….”

Allah lagi-lagi mendengar doaku dan menjawab doaku. Semenjak saat itu aku sering bertemu dengan guru ammiku, ia bercerita banyak hal tentang seseorang itu. Sungguh senang sekali mendengarkannya. Dan membuatku merasakan bahwa nantinya ia akan lebih baik daripada orang yang kucintai sebelumnya.

Wisuda SMA telah selesai dilaksanakan. Ucapan selamat berdatangan dari keluarga besar karena mampu mendapatkan hasil yang baik. Dan pertanyaan melanjutkan tempat kuliah tak henti-hentinya di lontarkan padaku.

Aku dan ammi membicarakan hal ini. Dahulu beliau setuju bahwa aku akan mengambil sebuah jurusan di PTN. Tetapi lama kelamaan ammi menolak hal ini. Padahal aku yakin bahwa aku pasti bisa masuk jurusan itu dengan undangan ataupun ujian tertulis. Aku bingung. Orang tuaku masih belum yakin anaknya mampu bertahan diluar dengan lingkungan yg benar2 majemuk. Mereka cemas. Lantas akan dimanakah aku bersekolah?

Lalu diberilah aku dua pilihan. Kuliah di sebuah pondok ternama bahkan jika di Yaman ditanya, “dari mana kamu?” “dalwa”. Maka mereka akan memuji-muji betapa kerennya dan ajibnya pondok ini. Dan pilihan kedua adalah mondok di tempat guruku. Yang apabila sudah beberapa tahun disana, maka akan dikirimkan ke Yaman. Yaman, negara yg indah dengan kuburan ribuan ulama dan wali , penuh hikmah, dekat dengan keturunan Rasulullah. Maka siapa yang tak ingin dengan pilihan ini? Aku memilih pilihan nomor dua.

Cobaan datang. Orang tuaku lagi-lagi berbeda pendapat. Mereka lebih memilih nomor satu. Mondok dan kuliah. Hingga berulang kali aku berkata “Tidak mengapa aku tidak kuliah tak bergelar sarjana, yang penting aku mau agama dan Yaman.” Tetapi orang tuaku bersikeras untuk menyuruhku kuliah dan mondok. Aku sedih karena tak mampu dengan guru itu. Juga tak akan mendengar cerita tentang seseorang itu yang mampu mebuat hati berdebar dan memancarkan cahaya harapan di mata.

Aku berbakti pada orang tua. Aku paham ridho Allah pada mereka. Aku taat pada mereka. Aku pun mulai mondok. Aku juga mulai kuliah Ekonomi Islam.

Lama kelamaan aku menemukan sosok yang kuharapkan itu di pondokku. Perlahan aku suka mendengar cerita dari para guru. Mencuri dengar obrolan santri. Allah tidak pernah menyia-nyiakanku.

Raga ini rasanya ingin melayang. Hariku dipenuhi senyuman indah. Motivasi belajarku menjadi dia. Aku ingin menjadi yang terbaik, agar orang-orang kenal padaku. Hingga apabila ia bertanya pada teman atau guru, “siapakah saja perempuan yang paling pintar hafalan hadistnya, nahwunya, fiqih, akhlak dan solehah?” Maka aku berharap teman atau guru-guru menyebutkan salah satunya adalah aku. Khonsa Nabilah

Cukup ambisius memang. Tapi mau bagaimana lagi? Cinta yg menggelora dihatiku membuatku seperti ini.

Malam-malam ku di pondok selalu menjadi sebuah harapan agar aku dijumpainya dalam mimpiku. Lalu siangku kupenuhi dengan kegiatan belajar, menambah ilmu agama. Ya, kegiatan yang ia sukai. Memang benar kata ulama terdahulu. “Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia adalah budaknya.”

Cinta ini mengubahku. Lewat perantaranya, Allah merubah kehidupan batinku.

Semenjak banyak menimba ilmu, mendengar kisahnya, membaca sirohnya, mencintai ulama yang mencintainya, selalu ada rasa tenang di batin yang kurasakan. Bahkan ketika biasanya aku dulu mengadu pada manusia, aku sekarang menjadi malu untuk seperti itu. Karena aku punya Allah dan…. orang yang kucintai itu. Rasulullah.

Karena seperti kebiasaan orang yang mencintai, pasti akan mengorek seluruh kehidupannya. Begitupula aku. Jelas senangnya, karena hal ini bermanfaat dan mendapat pahala. Justru dengan ini, semakin membuatku dekat pada Allah dan sadar bahwa dunia hanya tempat mencari bakal dan penuh hal yang fana.

Seluruh kisahnya, kalamnya berusaha kupetik hikmahnya dan mengaplikasikannya pada kehidupanku. Sehingga ketika aku dilanda masalah, aku berfikir bahwa aku punya Rasulullah yang masalahnya jauh lebih besar dari kita. Dihujat, dihina, dilempari kotoran unta dan manusia kala sholat. Padahal? Padahal Rasulullah pada jalan yang benar. Tetapi ia hanya senyum dan mendoakan mereka dengan kebaikan.

Aku ikuti jalannya. Sabar. Suatu hari ada org yg membenciku tanpa alasan yg kuketahui. Menatap ku dengan tatapan tak ramah, tak mau berbicara padaku. Aku sabar. Aku serahkan pada Allah. Au berusaha berfikir bahwa aku adalah makhluk yg hina di pondok ini. Aku tidaklah lebih baik dari mereka. Janji Allah dan Rasul-Nya benar. “Barang siapa yang merendahkan diri didepan manusia, Allah angkat ia. Dan barang siapa yg meninggikan dirinya pada manusia, Allah rendahkan ia.” Aku menjadi termasuk dari kalangan orang yang cukup disegani di lingkungan pondokku. Aku tahu, ini berkat Allah dan Rasul-Nya.

Dengan cintaku padanya, terkadang aku menjadi takut dosa. Takut melukai hatinya. Takut membuka aurat, takut segala hal-hal yang berakibat tidak baik dari apa2 yg tlah ia beritakan.

Apakah kalian juga mencintainya? Sungguh aku mencintainya. Dengan menjalani sunnah-sunnahnya, aku merasa bahwa Rasulullah memang bersamaku selalu. Indahnya cinta ini.

Allah, terimakasih engkau hadirkan padaku sosok yang sempurna. Dan hati yang tlah Engkau buka untuk mencintainya.

 

Kemana Arah Kemudi Cintamu?

“Seseorang akan bersama orang yang ia cintai.”

(HR Bukhori no. 6168, Muslim no 6660. At-Tirmidzi 2378 dan Imam Ahmad III/104)

Tahukah kalian, para sahabat seketika benar-benar bahagia mendengar hadist nabi ini. Lalu bagaimana tingkatan kebahagian dengan hadist tentang jihad, mati syahid, tentang janji-janji kebahagian seperti tentang sholat dan kemenangan? Yang pasti mereka bahagia dengan amal sholeh nya. Hanya saja hadist ini membuat mereka sangat lebih berbahagia. Kenapa? Karena rasa cinta mereka kepadang sang Qudwah yang muliah begitu sempurna. Sehingga ini benar-benar menjadi jaminan yang pasti untuk mereka. Ini lah buah cinta mereka, sehingga akan dikumpulkan bersama Rasulullah di hari kiamat nanti.

Sekarang, ada pertanyaan untuk masing-masing dalam diri kita.

Siapakah yang menjadi teladan kita? Siapa yang kita cintai? Dan siapa yang selalu terfikir dalam benak dan selalu kita bincangkan?

Artis korea? Boyband barat? Para penyanti yang membuka aurat mereka? Pemain sepak bola kafir? Para orang kafir tersebutkah yang ada dalam hati-hati kalian? Ingatlah!

“Seseorang akan bersama orang yang ia cintai.”

Relakah diri kalian nantinya terbakar dengan mereka di neraka? Mintalah syafaat pada mereka di saat kalian kehausan di mahsyar nanti. Mampukah mereka memberikannya untuk kalian? Tidak, sekali-kali tidak.

Sungguh kawan, perkara agama ini tergantung pada amal perbuatan kalian dalam kehidupan, adat, perkataan dan sikap kalian selama ada didunia ini.

Wahai sahabatku tercinta.. Sesungguhnya hal yang memalukan bagi muslimah dan mukminah adalah tidak peduli pada sydt. Fathimah Az-Zahra. Tidak mencontoh beliau yang jelas-jelas beliau adalah contoh nyata wanita mulia.. Tetapi mengapa terkadang mengikuti orang-orang yang justru menghinakan dirinya dengan maksiat, tidak sadar bahwa Allah selalu melihat? Yang tidak menangisi dosa-dosanya? Yang tidak percaya akan hari kiamat?

Sungguh munafik diri ini, mengaku cinta rasul tetapi tak berbukti. Tak mengikuti yang diperintahkannya. Tidak mencintai para keturunannya. Menduakannya terhadap cinta yang lain tanpa basis beliau.

Sahabat, di akhirat nanti, seluruh manusia, sejak awal penciptaan hingga akhir akan menundukkan kepalanya saat beliau sydt. Fathimah melewati shirat. Beliau akan berjalan bak cahaya yang bersinar terang.

Ketika di padang mahsyar akan terdengar sura dari arsy Allah swt sebuah seruan, “Wahai manusia. Tundukkan kepala kalian dan pejamkan mata kalian karena Fatimah binti Muhammad akan melewati shirat.”

Duhai sang dzurriyat.. Begitu hinanya kami termakan oleh janji palsu dunia dengan menduakan cinta kami dari mu.. Engkaulah cinta sejati itu, cinta yang didunia ini terdengar asing namun sangat akrab di akhirat nanti..

Apakah kalian sahbatku, tidak ingin berada dibelakang beliau, lewat di shirat bersama beliau dan mengikuti beliau?

Namun mengapa kita menukar Rasulullah dan Az-Zahra dengan yang lainnya?

Ya Allah, sampaikanlah kami kepada hakikat keimanan.

Ya Allah, perbaikilah diri kami, negeri kaum muslimin dengan wanita-wanita yang berakhlak mulia, yang menjaga kehormatannya. Jadikan para wanita ini istiqomah dan diakui oleh sydt. Fathimah sebagai rombongannya kelak.

Ya Allah jauhkanlah kami dari marah dan adzab mu. Limpahkanlah hidayah, taufik dan rahmat-Mu.

Ya Allah, perbaikilah kami sebagaimana Engkau telah memperbaiki hamba-hamba-Mu yang shaleh.

Wahai tuhan kami, dengarkanlah dan kabulkanlah doa serta permohonan kami.

Sajak Rindu

00:32:39

Lama panggilan telepon yang biasa tercantum di hape CDMA wisma.

Suara khas mulai berbicara.

Selalu dan selalu dimulai dengan, “Ada apa nduk?”

Ah, ibuku.

Sebentar, apa yang ingin kuucapkan.

Selalu dan terkadang hanya dengan, “Gak papa o mi”

Berlangsung dengan cerita-cerita sehari-hari.

Dan akan berakhir, “Em..”

Ammi, anak mu selalu rindu padamu.

Biar tetes mata hendak tidurku menjadi saksi.

Saksi aku merindukan orang yang sangat pantas untuk dirindukan.

Pada zaman gelap ini.