Panah Harapan

images (1)

Ini terlalu pagi untuk menuliskan beberapa detil perasaan. Karena ini adalah waktu antara hamba dan Tuhannya dimana tak ada lagi hijab. Ketika Tuhan berfirman dalam qudsi-Nya tentang waktu ini : Adakah yang meminta akan kuberi, Adakah yang berdoa akan kuijabahi, Adakah yang mohon ampun akan kuampuni.

Tetapi ini terlalu terlambat untuk menulis ini. Karena hatinya sedang tak menentu rasanya mulai dari jauh hari.

“Aluya! Sudah malam. Besok pagi temani mama untuk antar beberapa kue. Ayo tidur. Jangan telat bangun.”

Begitulah malam Aluya. Ia segera matikan telepon percakapan kami. Yang tentunya diawasi oleh mama. Hingga malam ini Aluya bangun memanggil seruan Tuhan Yang Maha Pemurah. Pelan ia ungkapkan hatinya kepada sang Khaliq.

Allah, Engkau telah tumbuhkan rasa nyaman pada diriku tentangnya. Harap saat gelap malam mulai bergumul. Rindu saat jarak dan kondisi menjadi penghalang kami.

Ah, Allah. Beginikah rasanya menyukai seseorang yang memiliki perasaan yang sama terhadap kita? Yang memiliki harap pada kita? Bukankah Engkau tahu ya Allah bahwa selama 23 tahun hidup tak pernah kudapati ihwal ini.

Ya Allah, sebagaimana aku juga manusia. Aku punya harap untuk merenda titian surga dengan amal soleh bersamanya. Karena aku tahu ia tahu jalan-jalan menuju surga. Juga kedekatannya dengan-Mu, wahai Pemilik Sekalian Alam.

Aku ingin ia membantuku dalam merangkai bersama hijaiyah cinta menuju Engkau, Dzat Yang Indah lagi Kekal.

Aha hay, Allah. Aku harap ada hari itu. Hari saat kami jalani kehidupan bersama ini karena-Mu. Bukankah itu indah melaksanakan ketaatan dengan kekuatan jamaah terlebih bersama yang dicintai?

Dan satu waktu nanti aku menyentuh bibirnya sambil berucap, “luka dibibir mu ini tak ada apa-apanya dibanding luka hidupku jika aku menolakmu.”

Sementara di alam lain, “Ya Allah. Sungguh, ijabahilah doanya. Bukankah Engkau sesuai dengan prasangka hamba-Mu? Kami mengamini doanya karena ia berdoa ingin dapatkan seseorang yang telah penduduk langit cintai.”

Maka yakinilah perkataan imam syafi’i. Doa di sepertiga malam bagai panah yang melesat tepat pada sasaran. Bukan saat itu juga terkena sasaran langsung. Tapi ini masih memiliki jarak. Bukan saat ini. Tapi esok, tergantung keyakinan dan amal seberapa cepat kekuatan panah doa itu melesat.

 

 

Syawal yang masih harum Ramadhan, 1438 H

Hansa

Advertisements

5 thoughts on “Panah Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s