MENYIKAPI KASUS HABIB RIZIEQ BIN HUSEIN SYIHAB

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma solli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sohbih.

Akhir-akhir ini umat muslimin benar-benar dikejutkan oleh media yang tiada habis nya mengulas dan memamerkan suatu berita menyakitkan. Hingga menjadi tanda tanya pada hati tiap seorang muslim. Pukulan besar bagi pecintanya. Dan ujian dari Allah mengenai akhlak terhadap para ulama.

Semua sudah tahu bagaimana alur permasalahannya. Ada yang menghakimi itu benar adanya. Ada yang memilih mauquf (pending bersikap). Ada yang bijak. Namun terkadang yang menjadi point utama dalam tulisan ringkas ini adalah, bagaimana cara kita merespon semua ini?

Ulama. Ulama adalah pewaris para nabi. mereka adalah pewaris ilmu agama. Rantai ilmu mereka tersambung pada para nabi. Bukankah itu sebuah kemuliaan besar bagi seorang yang bukan ma’sum?

Faktanya saat ini justru ulama menjadi sasaran hinaan, bahkan fitnah. Yang hal itu bisa dengan mudah didapatkan di media sosial apapun. Berikut sedikit ilmu yang saya dapat mengenai menyikapi permasalahan ini.

Memang ulama itu terbagi menjadi ulama su’ (buruk) dan ulama rusyd (lurus). NAMUN :

  1. Tetapi jika ulama itu belum ditentukan menjadi ulama su’ maka TIDAK BOLEH BAGI KITA UNTUK MEMBUAT KESIMPULAN APAPUN TERHADAPNYA. Sebagaimana firman Allah :

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S Al-Israa’ : 36)

  2. Para ulama yang haq, yang lurus bukanlah para nabi. Maka para ulama tidak bisa lepas dari bebas dosa juga. Maka jika ada kesalahan dan kekurangan pada diri mereka itu adalah tanggung jawab mereka. Bahkan kemungkinan besar kesalahan2 mereka akan diampuni oleh Allah swt. Mengingat mereka adalah pewaris para nabi dan.

Dan sikap yang harus diambil pada kita tentunya adalah HUSNUDZON. Karena tidak ada ruginya dalam berbaik sangka. Entah itu faktanya benar atau tidak. Justru akan merugi jika kita menaruh stigma negatif pada para ulama.

Semoga Allah selalu memberi hidayah dan taufik kepada saudara-saudara kita yang hatinya terdapat debu-debu kemunafikan. Menerangi hati para kaum muslimin Indonesia dengan nur agama. Menjadikan para pemimpinnya yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Memberi hidayah kepada yang berusaha untuk memfitnah, mencaci dan menghina para ulama. Memberi hidayah untuk selalu mengerjakan sunnah. Juga taufik dalam mengamalkan segala perkara agama. Semoga Allah membersihkan nama-nama baik para ulama dan mengangkat derajat mereka. Mewangikan bumi Indonesia dengan syiar-syiar agama yang damai. Menjadikan bumi Indonesia kembali aman, tenang, damai dan sentosa. Semoga Allah melahirkan banyak para ulama haq dari bumi Indonesia ini sehingga menjadi manfaat dan perhiasan agama untuk alam. Amin ya Rabbal alamin

 

Sumber referensi : Kitab Fadhilah Amal, Syaikhul Hadist Maulana Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi Rah.a

habib rizieq

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s