Optimalisasi 20

Pengasuh pondok yang beliau-beliau adalah anak-anak dari Abuya Hasan Baharun

Pengasuh pondok yang beliau-beliau adalah anak-anak dari Abuya Hasan Baharun

Saat itu aku sedang mendengarkan taklim ustad Segaf. Pembahasan tentang istri solihah. Dikatakan bahwa saat telah menikah maka surga dan neraka itu ada pada suami. Bukan pada orang tua lagi. Bagi istri yang selalu taat dan membuat hati suami selalu ridho maka akan ada kabar gembira untuk nya. Namun jika ada hal sedikit saja yang membuat suami murka, maka hendaknya istri segera meminta maaf. Ditakutkan ada hal yang buruk terjadi.

Lalu pikiranku mengawang bebas. Teringat masa-masa SMP dan SMA ku dahulu. Kami memang dituntut untuk selalu berhijab, menjalankan syariat yang berbau aurat, sholat, puasa ramadhan. Dan syariat yang diajarkan hanya secara global saja. Tetapi, setelah lama kurasakan saat ini bahwa ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang justru menjadi inti dari seluruh kehidupan, pokok dari alasan perbuatan kita dan dasar dari segala pendidikan.

Yakni, penumbuhan bibit cinta pada Allah dan Rasulullah. Kami memang diajari untuk mengenal Allah dan Rasulullah. Tapi bibit hanya tersebar saja, tak ada perawatan khusus dalam hal inti ini.

Aku saat ini adalah jawaban doaku dahulu.

Aku masih ingat sekali doa yang sering kulantunkan setiap sehabis sholatku. Selain doa untuk orang tua adalah doa keselamatan dunia akhirat. Lalu doa khusus untuk tiap anggota keluarga. Tapi ada satu doa yang baru kurasakan efeknya akhir-akhir ini. Yaitu doa untuk saudara-saudaraku, budhe-budhe dan pakdhe. “Ya Allah berilah hidayah pada budhe2 dan pakdhe, juga untuk menutup aurat.”

Doa ini sekilas lucu jika dilantunkan anak  SMP yang terbilang masih kecil. Tapi entah kenapa aku suka sekali berdoa untuk anggota keluargaku, khususnya pada budhe2 ku yang belum sempurna dalam menutup aurat.

Waktu berjalan bersama dengan doa itu hingga kelas 3 SMA. Masa-masa penentuan kemana aku setelah ini? Aku mau masuk PTN mana? Apakah aku bisa dapat beasiswa? Jurusan apa yang cocok untukku?. Dan segala angan tinggi apabila telah menduduki bangku kuliah, padahal jika ditanya sekarang pada mahasiswa bahwa kuliah itu ya begitu-begitu saja. Mungkin karena ekspektasi terlalu tinggi dan HAP! Terjadilah deprivasi relatif.

Allah berkehendak lain. Disaat teman-teman lain dicemaskan oleh pemilihan jurusan, harap cemas diterima. Aku diberikan rasa cemas yang tidak setinggi mereka. Disaat mereka pusing mengurus SNMPTN aku hanya santai-santai saja bermain leptop sendiri. Bahkan dalam diriku sendiri tak ada rasa rugi karena aku tidak memanfaatkan nilai rapotku yang kata teman-teman berpeluang diterima SNMPTN.

Ya, orangtua ku tidak setuju jika aku bergabung di PTN. Awalnya orangtuaku sudah memberikan opsi jurusan tapi lama kelamaan, ada rasa cemas sekali dalam hati mereka. Cemas akan iman, pergaulan, dan benteng penjagaan orang tua dari kecil. Itu saja.

Dengan segala patuhku dan yakinku bahwa ami abi pasti selalu memberikan yang terbaik untukku. FIX aku akan mondok dan masuk PTS swasta disana dengan jurusan ekonomi shariah. Bukan PTN seperti yang diidamkan anak2 saat ini.

Sebelum aku mondok, aku sudah mengikuti beberapa kali majelis taklim dan bertemu dengan ustadzah nya. Kak Alina Al-Munawwar namanya. Aku menceritakan beberapa keluh kesahku masalah pendidikanku ini. Beliau justru memotivasiku, memberikanku suplemen tentang kisah Rasulullah, kisah sahabat dan kalam hikmah lainnya. Dan segala apa yang beliau katakan malam itu benar-benar merubahku. Membuatku menjadi haus akan Siapakah Allah? Siapakah Rasulullah? Bagaimana kisah hidup Rasulullah dahulu? Mengapa ia bisa bersabar akan rintangan yang ada? Mengapa bisa ada para sahabat-tabi’in yang bisa sebegitu cintanya pada Rasulullah? Dan terjawab juga pertanyaan, Mengapa pelajaran tentang Islam selama ini tidak membekas dalam hatiku.

Di pondok. Selain mencari ilmu agama, kami juga harus mencari hikmah. Hikmah adalah tingkatan diatas ilmu. Sesuatu yang indah di rasakan pada hati dan lisan dan ini adalah sesuatu yang Rasulullah doakan pada Syd Ibn Abbas “Ya Allah, berilah ia hikmah”. Yang kelak Syd Ibn Abbas ini mampu menafsirkan al-Qur’an al Karim.

habib

Disini juga hatiku selalu merasa terpaut dengan kebaikan selalu. Ketenangan batin yang sulit digambarkan. Perasaan tersentuh setiap mendengar nama Allah dan kisah Rasulullah disebut. Gairah untuk mengamalkan apa yang pernah dilakukan Rasulullah. Seperti aku teringat sekali setahun lalu aku menjadi Qism Ubudiyyah Mantiqoh (rayon). Tugas ku adalah seperti toa yang membangunkan anak-anak ketika subuh, mencatat yang terlambat, menegur anak-anak yang kabur dari kegiatan mushola. Tentu keberadaanku ini membuat sebagian anak tidak nyaman. Beberapa orang pun kasar padaku saat ditanya, membicarakanku di belakang, bahkan tak jarang ada omongan pedas. Aku menangis, mengadu dengan hati lemahku, tak tahu harus berbuat apa. Tiba2 saja aku teringat kisah Rasulullah saat di Thaif. Kesabaran beliau, ujian beliau. Yang jauh lebih berat daripada apa yang menimpaku. Berhari-hari aku coba bersabar dan terus merendah . Dan dalam hitungan bulan, Allah menepati janji-Nya. Mereka justru menjadi lemah lembut padaku, kami menjadi sering bersaling sapa, dan salah satu ada yang memberiku hadiah. Masha Allah

Kurikulum pondok kami terkenal tinggi sekali. Dan hal ini diakui oleh salah satu alumni pondok di Yaman sana. Maka, dibutuhkan energi lebih untuk begadang, persediaan kopi lebih untuk setiap pagi, dan hati yang bersih. Karena ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya ilmu hanya menetap pada hati yang bersih. Berlomba-lomba kami untuk memahami ilmu-ilmu ini adalah salah satu mujahadah (perjuangan)ku disini. Banyak sekali anak-anak cerdas dan anak-anak yang mudah membuat emosiku berkecamuk. Selain diuji dalam urusan pelajaran, hati kami akan terus diuji.

Fastabiqul Khoirot ini berimbas baik sekali pada jiwa-jiwa santri. Kami menjadi lebih sering menghidupkan sunnah-sunnah nabi, memperbanyak solawat, mengkhayati saat siroh nabi di baca dan masih banyak lagi.

Sungguh ini adalah atmosfer dengan tingkat kenyamanan luar biasa. Kami tak cemas dengan urusan dunia karena semua ini terasa sangat mudah bagi kami. Urusan kuliah pun tak ada kesulitan yang kutemui. Semua terasa dimudahkan. Hingga aku pernah berfikir, Bagaimana teman-teman diluar sana? Apakah mereka merasakan apa yang kurasakan? Apakah mereka sedang terbuai dunia atau berusaha melawan? Bagaimana sholat teman-teman?

Sehingga tak jarang aku sedih dan berandai-andai. Andai teman-teman bisa mondok bersama disini. Jika memang yang dicari oleh anak muda jaman sekarang adalah gelar, maka disini juga ada jenjang kuliah. Bahkan disini ada akhirat, ada benteng terakhir penjagaan umat dari fitnah dunia yang semakin hari semakin terasa, semakin mudahnya menyamar dari hal-hal yang mubah. Kalaupun ternyata ada yang ingin kuliah disuatu tempat karena tempat itu sudah terkenal akan mudah diterima pekerjaan. Maka, sungguh hina sekali jika mereka menggadaikan ilmu agama dan keyakinan bahwa Allah adalah yang menentukan takdir dan sebaik-baik pemberi rezeki. Naudzubillah. Dan jika alasan terakhir mereka adalah berbakti pada orang tua karena itu adalah hal yang diinginkan, maka semoga Allah memberi berkah dalam ilmu mereka.

Teman-temanku. Kita adalah umat terakhir yang hidup. Tetapi tahukah kalian bahwa kita adalah umat yang istimewa sekali. Karena sebelum umat ini semua masuk syurga, maka pintu syurga haram bagi umat dahulu. Saat umat dahulu terkena najis, maka benda itu harus di potong atau di buang. Sedangkan umat kita? Cukup dengan mensucikan dengan shariat thoharoh yang ada. Bahkan dahulu saat mereka berbuat dosa, maka dosa mereka akan tertulis di depan pintu rumah mereka dan taubat mereka pun harus di ka’bah. Sedangkan kita kawan? Dosa kita disembunyikan dari orang lain, dan taubat pun bisa dilakukan dimana saja. Lihatlah keistimewaan ini yang begitu dalam maknanya. Masha Allah.

Kita ini sedang mengembara menuju kehidupan yang abadi. Kehidupan saat ini fana sekali. Dunia ini terlaknat, bahkan apa apa yang ada didalamnya kecuali mengingat Allah dan sejenisnya dan orang yang mengajar dan pelajar. Begitulah yang dikatakan dari lisan Rasulullah melewati riwayat Tirmidzi dan Abu Hurairah.

Maka apalagi yang kita cari selain semua ini untuk Allah? Ayo kita ganti segala niat kita hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Perbanyak majelis ilmu agama, jangan melulu ngurusin organisasi kampus sehingga lupa bahwa kewajiban menuntut ilmu agama adalah sebuah kewajiban. Kurangi kongkow2 yang tidak ada manfaatnya. Kembali memakai rok dan melebarkan kerudung. Rajin sholat berjamaah di masjid dan hindari perkumpulan bersama lawan jenis kecuali jika memang itu darurat. Karena kita selalu tidak sadar dan lupa. Bahwa setan itu tak akan capek dalam menggoda kita untuk menjadi temannya di neraka nanti. Sehingga hal-hal yang dianggap biasa pun mereka terjun, membuat rekayasa seakan-akan “ah itu nggak apa-apa”. Padahal? Padahal jika ditelisik itu dilarang, kenapa? Karena kurang nya kita dalam mempelajari agama sempurna ini, agama islam.

Ustad Segaf Baharun

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Optimalisasi 20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s