Pribadi yang Berbeda

kaba

Banyak waktu yang kuhabiskan dalam kesombongan bak iblis menolak bersujud dihadapan sang Adam. Banyak waktu yang dinilai orang sangat baik namun kuhabiskan dengan kesombongan di beberapa bagian hati.

Kesombongan dan rasa tinggi di hadapan manusia adalah hal yang sangat menjerumuskan. Bagaimana tidak? Disebutkan dalam sebuah hadist “Barangsiapa yang merendehkan hati di hadapan manusia, Allah naikkan derajatnya. Dan barangsiapa sombong di hadapan manusia, Allah turunkan derajatnya.”

Jelaslah bahwa penurunan derajat seseorang dimata Allah adalah hal yang sangat hina bagi mereka yang paham.

Mengenai kesombongan dan tawadhu’ ini mengingatkanku pada seseorang kawan lama di internet yang bercerita banyak hal yang bahkan sangat tidak kusangka. Kepahamannya dalam memahami sebuah kejadian yang ia kaitkan dengan ayat Allah dan sifat-sifat mulia nabi Muhammad membuatku berkali-kali terdiam terpana. Bagaimana tidak? Ia bukanlah seorang yang memiliki background pendidikan formal agama. Namun ia memiliki  sebongkah hati yang dipenuhi harapan mendapat cinta Allah dan Rasul-Nya.

Gagasan-gagasannya membuatku tergugah dan berkata kepada diriku bahwa betapa banyaknya kekurangan dalam diriku dan betapa sedikitnya rasa hati-hatiku dalam mengatakan sesuatu.

Aku teringat dia berkata, apakah ada orang yang memiliki akhlak seperti nabi Muhammad? Lalu mengaplikasikannya dalam 24 jam?

Dan aku menjawab asal-asalan, mungkin ada tapi cuma fifty fifty. 

Dia tersenyum dan menjawab, salah. Akhlak nabi Muhammad adalah akhlak yang mulia yang hanya beliau lah yang memiliki. Akhlak kanjeng nabi ini adalah akhlak 24 nabi dan rasul yang terkumpul menjadi satu. Tidak mungkin ada yang mampu seperti beliau, jikapun ada apakah sampai 50%? Berarti itu sama saja mengatakan bahwa sisi baiknya adalah 50% dan buruk 50%. Padahal kita ini banyak buruknya. Menggunakan prosentase seperti itu salah, fifty fifty. Karena sungguh kita tidak ada setengahnya dari akhlak nabi Muhammad

Menarik nafas panjang dan terdiam mendengar jawaban seperti ini. Menyadari betapa dangkal nya ilmuku tentang mencintai Nabi Muhammad hingga kulupakan fakta bahwa aku sangat berada jauh darinya.

Ia juga mengungkapkan betapa ia kurang setuju terhadap orang yang menganggap segala hal buruk yang menimpa seseorang adalah cobaan. Karena ia berfikir bahwa cobaan itu tidak pantas untuk orang seperti kita. Bukankah cobaan hanyalah untuk orang soleh? Sedangkan kita? Begitulah terangnya. Point ini menunjukkan bahwa ia memiliki sifat hati-hati dan rinci juga pribadi yang merasa bahwa ia bukanlah siapa-siapa. Tawadhu’.

Kami berdiskusi panjang lebar walaupun terkadang ada beberapa hal yang harus diluruskan karena hal tersebut tidak bisa menggunakan logika saja tapi membutuhkan pemahaman dalam seperti hadist dan beberapa ilmu lain.

Sejauh ini sangat menyenangkan memiliki teman yang bermanfaat untuk sebagai pengingat kita bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Apalagi memiliki background yang sangat jauh berbeda. Bahkan ia terkadang menjelaskan sesuatu berdasarkan mimpi yang ia telah tafsirkan kepada orang yang berkompeten dan soleh. Sungguh, pribadi seperti ini yang membuatku merasakan betapa hina aku dan tidak ada apa-apa aku dengannya. Betapa beruntungnya aku memiliki teman akhirat seperti dia.

Terkadang, dia menanyakan sesuatu dan bercerita lalu ia bertanya ‘apakah kamu tahu cerita ini?’ ‘masak tidak tahu? jangan bohong’ ‘loh di pondok kamu gak diajarin ini?’ Memang ilmu Allah itu sangat luas dan banyak. Yang bahkan kita tidak ada apa-apanya walau hanya seujung jarum. Tapi pertanyaan kecil dan tidak percayanya membuatku tertampar begitu sakit. Membuatku kembali memikirkan kesombongan yang pernah kulakukan dengan ilmuku saat di pondok dahulu. Dan kembali berfikir mengenai kekuasaan Allah dan hina dina diri ini.

Pembicaraan yang cukup memakan waktu dua jam ini berharap mampu mendatangkan manfaat kepada diriku dan orang sekitarku nantinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pun berharap kita mampu mengikuti segala sunnah nabi Muhammad saw sebagai bukti kita nanti di yaumul akhir bahwa kita adalah ummatnya. Dan semoga Allah memberikan kita kenikmatan untuk memandang wajah-Nya yang Agung karena itulah seindah dan sebaik-baik kenikmatan.

Allahummaj’alna mina sholihin wajma’na wa’ahum fii akhiroh. Aamiin

 

Jum’at berkah, 5 Ramadhan 1437 H

Hansa Munawwar

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s