Perjalanan Cinta Khonsa

Semenjak lulus SMP dan SMA bahkan SD aku tidak pernah menjalani sebuah budaya jahiliyah baru, pacaran. Juga hingga semester 4 saat ini. Sama sekali tidak pernah. Lantas, apakah aku pernah merasakan cinta? Tentu saja pernah. Cinta yang sama semenjak lulus SMP hingga .. lupakan.

Karena pernah menjadi korban perfilman dan lagu cinta, aku beberapa membayangkan jika memang orang yg kucintai memang bisa juga mencintaiku atau Tuhan Allah memertemukan kita. Yeks. Aku juga berdoa pada Allah agar diberi seseorang atau lebih tepatnya dipinjamkan (karena apa-apa di dunia hanya titipan) seseorang yang mampu membuat hatiku bergembira selalu, mampu membawaku pada jalan kebenaran, dan mengisi hari bersama-sama dengan penuh kebahagiaan.

Allah mendengar doaku. Tak hanya itu, Allah menjawab doaku.

Suatu malam, aku diajak oleh ammi (ibu) menemui gurunya. Kami berbincang lepas, membicarakan banyak hal tentang pemikiran kuliah hingga islam. Pembicaraan kami berganti, beliau sempat bercerita padaku mengenai seseorang yang mampu membuat hatiku tidak bekerja seperti biasanya dan otak yang berfikir “aku ingin bertemu dengannya….”

Allah lagi-lagi mendengar doaku dan menjawab doaku. Semenjak saat itu aku sering bertemu dengan guru ammiku, ia bercerita banyak hal tentang seseorang itu. Sungguh senang sekali mendengarkannya. Dan membuatku merasakan bahwa nantinya ia akan lebih baik daripada orang yang kucintai sebelumnya.

Wisuda SMA telah selesai dilaksanakan. Ucapan selamat berdatangan dari keluarga besar karena mampu mendapatkan hasil yang baik. Dan pertanyaan melanjutkan tempat kuliah tak henti-hentinya di lontarkan padaku.

Aku dan ammi membicarakan hal ini. Dahulu beliau setuju bahwa aku akan mengambil sebuah jurusan di PTN. Tetapi lama kelamaan ammi menolak hal ini. Padahal aku yakin bahwa aku pasti bisa masuk jurusan itu dengan undangan ataupun ujian tertulis. Aku bingung. Orang tuaku masih belum yakin anaknya mampu bertahan diluar dengan lingkungan yg benar2 majemuk. Mereka cemas. Lantas akan dimanakah aku bersekolah?

Lalu diberilah aku dua pilihan. Kuliah di sebuah pondok ternama bahkan jika di Yaman ditanya, “dari mana kamu?” “dalwa”. Maka mereka akan memuji-muji betapa kerennya dan ajibnya pondok ini. Dan pilihan kedua adalah mondok di tempat guruku. Yang apabila sudah beberapa tahun disana, maka akan dikirimkan ke Yaman. Yaman, negara yg indah dengan kuburan ribuan ulama dan wali , penuh hikmah, dekat dengan keturunan Rasulullah. Maka siapa yang tak ingin dengan pilihan ini? Aku memilih pilihan nomor dua.

Cobaan datang. Orang tuaku lagi-lagi berbeda pendapat. Mereka lebih memilih nomor satu. Mondok dan kuliah. Hingga berulang kali aku berkata “Tidak mengapa aku tidak kuliah tak bergelar sarjana, yang penting aku mau agama dan Yaman.” Tetapi orang tuaku bersikeras untuk menyuruhku kuliah dan mondok. Aku sedih karena tak mampu dengan guru itu. Juga tak akan mendengar cerita tentang seseorang itu yang mampu mebuat hati berdebar dan memancarkan cahaya harapan di mata.

Aku berbakti pada orang tua. Aku paham ridho Allah pada mereka. Aku taat pada mereka. Aku pun mulai mondok. Aku juga mulai kuliah Ekonomi Islam.

Lama kelamaan aku menemukan sosok yang kuharapkan itu di pondokku. Perlahan aku suka mendengar cerita dari para guru. Mencuri dengar obrolan santri. Allah tidak pernah menyia-nyiakanku.

Raga ini rasanya ingin melayang. Hariku dipenuhi senyuman indah. Motivasi belajarku menjadi dia. Aku ingin menjadi yang terbaik, agar orang-orang kenal padaku. Hingga apabila ia bertanya pada teman atau guru, “siapakah saja perempuan yang paling pintar hafalan hadistnya, nahwunya, fiqih, akhlak dan solehah?” Maka aku berharap teman atau guru-guru menyebutkan salah satunya adalah aku. Khonsa Nabilah

Cukup ambisius memang. Tapi mau bagaimana lagi? Cinta yg menggelora dihatiku membuatku seperti ini.

Malam-malam ku di pondok selalu menjadi sebuah harapan agar aku dijumpainya dalam mimpiku. Lalu siangku kupenuhi dengan kegiatan belajar, menambah ilmu agama. Ya, kegiatan yang ia sukai. Memang benar kata ulama terdahulu. “Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia adalah budaknya.”

Cinta ini mengubahku. Lewat perantaranya, Allah merubah kehidupan batinku.

Semenjak banyak menimba ilmu, mendengar kisahnya, membaca sirohnya, mencintai ulama yang mencintainya, selalu ada rasa tenang di batin yang kurasakan. Bahkan ketika biasanya aku dulu mengadu pada manusia, aku sekarang menjadi malu untuk seperti itu. Karena aku punya Allah dan…. orang yang kucintai itu. Rasulullah.

Karena seperti kebiasaan orang yang mencintai, pasti akan mengorek seluruh kehidupannya. Begitupula aku. Jelas senangnya, karena hal ini bermanfaat dan mendapat pahala. Justru dengan ini, semakin membuatku dekat pada Allah dan sadar bahwa dunia hanya tempat mencari bakal dan penuh hal yang fana.

Seluruh kisahnya, kalamnya berusaha kupetik hikmahnya dan mengaplikasikannya pada kehidupanku. Sehingga ketika aku dilanda masalah, aku berfikir bahwa aku punya Rasulullah yang masalahnya jauh lebih besar dari kita. Dihujat, dihina, dilempari kotoran unta dan manusia kala sholat. Padahal? Padahal Rasulullah pada jalan yang benar. Tetapi ia hanya senyum dan mendoakan mereka dengan kebaikan.

Aku ikuti jalannya. Sabar. Suatu hari ada org yg membenciku tanpa alasan yg kuketahui. Menatap ku dengan tatapan tak ramah, tak mau berbicara padaku. Aku sabar. Aku serahkan pada Allah. Au berusaha berfikir bahwa aku adalah makhluk yg hina di pondok ini. Aku tidaklah lebih baik dari mereka. Janji Allah dan Rasul-Nya benar. “Barang siapa yang merendahkan diri didepan manusia, Allah angkat ia. Dan barang siapa yg meninggikan dirinya pada manusia, Allah rendahkan ia.” Aku menjadi termasuk dari kalangan orang yang cukup disegani di lingkungan pondokku. Aku tahu, ini berkat Allah dan Rasul-Nya.

Dengan cintaku padanya, terkadang aku menjadi takut dosa. Takut melukai hatinya. Takut membuka aurat, takut segala hal-hal yang berakibat tidak baik dari apa2 yg tlah ia beritakan.

Apakah kalian juga mencintainya? Sungguh aku mencintainya. Dengan menjalani sunnah-sunnahnya, aku merasa bahwa Rasulullah memang bersamaku selalu. Indahnya cinta ini.

Allah, terimakasih engkau hadirkan padaku sosok yang sempurna. Dan hati yang tlah Engkau buka untuk mencintainya.

 

Advertisements

3 thoughts on “Perjalanan Cinta Khonsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s