Adiksi Sebuah Kerinduan

Aku rindu pada seseorang. Rindu yang hanya jika dilepas dengan mengucapkan ‘hi’ padanya lalu ia membalas ‘hi juga’. Maka akan terbalas lunas sudah rinduku. Walaupun hanya 2 kata itu yang kudapat.

Namun rindu ini dapat menjadi adiksi bagiku. Aku tahu. Adiksi yang begitu nyata dan menyakitkan. Bayangkan, jiwa mu meronta setiap kau memandangi ponsel mu dengan penuh harap. Adiksi yang mendera perasaanmu jika teringat hukum syariat agamamu.

Adiksi yang memaksamu menambah frekuensi

Adiksi yang membuatmu tak peduli eksekusi

Adiksi yang dengan jiwa terikat serasi

Adiksi yang membuat jiwa mu menghamba seperti kelasi

Kau abaikan semua yang datang menghampirimu. Semua yang kau temui. Kau hanya memandang mereka dengan pandangan kosong. Bahkan yang terbayang selalu dirinya yang kau rindu.

Aku tahu,

Itu perih. Menyesakkan.

Mungkin rindu kalian adalah sehari-dua hari tak jumpa. Semingu-dua minggu. Ya, rindu pada kekasih yang sama-sama telah menyatakan sebuah ‘hubungan’ yg tak pernah berlabel halal dalam syariat kami.

Rinduku adalah rindu yang tak pernah tersampaikan sempurna

Rinduku adalah adiksi nyata

Rinduku adalah tantangan yang diberikan Tuhanku

Biarkan rindu suciku ini tumbuh tinggi menjadi sebuah perhiasan bagiku.

Menjadi saksi kesetiaanku

Menjadi kebanggaanku

Menjadi latihan kesolihanku

Dan rinduku akan menjelma menjadi segala hadiah doa terbaik yang akan ia terima

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s