Aku, Pemilik Bunga Tidur Part 2

Sekarang aku sudah berada di kapal ini. Kapal yang kunaiki ini adalah kapal selam, jadi wajar jika dari permukaan terlihat kecil, namun sejatinya besar sekali. Terakhir kulihat Neo melambaikan tangan ke arah ku dan tersenyum. Aku membalas senyum itu dan juga melambaikan tangan dengan semangat.

Untuk menaiki kapal ini tidak semua orang bisa menaiki nya, bisa dibilang hanya orang-orang khusus. Tidak ada tiket dan tidak ada loket untuk menaiki kapal ini. Orang-orang khusus ini cukup dipanggil. Tata cara memanggil para penumpang kapal selam ini memang dengan cara yang menyeramkan seperti itu. Begitulah penjelasan yang sempat kudengar dari 3 pramugari kapal itu karena aku sudah sibuk mengamati dalam kapal.

Rasa cemas beberapa saat yang lalu sudah berganti dengan perasaan ku yang sangat gembira. Mimpi ku terwujud, aku akan berlayar jauh dan nantinya mungkin akan menemukan pulau baru seperti pada cerita-cerita sejarah tentang pelayaran Colombus, Magelhaens dan lain-lain.

Aku melihat kearah sekitarku, banyak anak muda seumuran dengan ku. Semua nya asing tetapi aku tidak canggung justru aku akan berkenalan nantinya dan pastinya sangat mengasyikkan memiliki banyak teman dan juga banyak pengalaman bersama.

Aku berjalan menuju jendela bulat yang besar didepan ku, pemandangan laut yang masih dalam zona neritis masih indah dapat kulihat. Ups. Aku tersandung tetapi masih dalam posisi berdiri, aku berhasil menjaga keseimbangan. Entah bagaimana bisa koper ku bewarna hijau peach tiba-tiba sudah berada di kapal ini.  Bahkan didepan ku pula. Seakan, muncul secara tiba-tiba. Atau memang faktanya muncul secara tiba-tiba?

Kubuka koper hijau ku ini, betapa takjubnya aku. Barang-barang ku sudah tertata didalam koper ini. Padahal juga belum pernah aku pakai sama sekali.

“Aku juga sama seperti mu, kita semua sama sepertimu. Panggilan yang menakutkan itu, koper yang tiba-tiba ada dan biru laut pada halaman rumah. Kita seolah hanyalah manusia pilihan untuk menjalani ekspedisi ini.” Laki-laki dengan bola mata coklat berkilat-kilat yang kira-kira seumuran dengan ku berjongkok disebelah ku menepuk-nepuk koper ku dan tersenyum ramah.

“Apakah sebelumnya kau juga bermimpi mengarungi lautan?”

“Ya, kita semua yang ada di kapal  ini hanyalah orang-orang yang terpilih yang terobsesi memimpikan lautan di setiap lamunan kita.” Laki-laki berbola mata coklat itu seakan sudah mewancarai seluruh awak kapal karena jawabannya yang mantap itu.

Tetapi aku mempercayainya. Tidak ada penampilan yang tidak meyakinkan dari dia bahwa dia membual. Aku bisa merasakannya.

“Jadi siapa namamu? Aku Huffington. Huffington Hansel.” Dia mengulurkan tangan nya, aku membalas. Huffington? Bukankah itu adalah nama koran harian di Inggris?

“Aku Matrixa. Matrixa Cleira.” Ucap ku dengan senyum ramah ku, walaupun kata Neo senyum ku tidak pernah terlihat ramah. Selalu kaku. 

Kondisi kapal mulai tenang sedikit. Tidak seramai setelah menjemputku tadi. Perlahan kita berada dalam kedalaman sekitar 50 meter lebih di dalam laut. Gelap, hanya ikan-ikan besar yang terlihat berseliweran.

Aku dan Huffington mulai mengitari kapal, dia menjadi guide ku kali ini. Memberitahu letak-letak ruangan didalam kapal. Ruang nahkoda, kamar mandi, dapur, tempat dansa, kamar awak-awak bahkan jendela kapal yang menarik untuk menyendiri.

Huffington adalah awak pertama yang dijemput. Situasinya penjemputannya ketika dia sedang bermain ayunan di halaman bersama adik kecilnya, Post namanya. Oh, Tuhan. Keluarga yang unik sekali. Sepertinya orang tua Huffington terobsesi pada koran Huffington. Sehingga kedua kakak beradik itu bernama Huffington Post.

Awalnya dia menganggap suara itu hanyalah halusinasinya. Tetapi dia takut dan berlari ke dalam rumah bersama adiknya. Ketika panggilan kedua kali dia melihat kearah halaman. Berubah menjadi lautan luas. Adik nya tidak menangis ketika Huffington menaiki kapal itu, justru tersenyum. Seperti Neo yang tersenyum melambaikan tangan padaku. Begitulah cerita Huffington.

Kami menikmati susu coklat panas di tangga gudang kapal. Tangga ini berbau oli, temboknya  penuh dengan pipa-pipa besar. Huffington bilang biasanya dia bertemu dengan teman-teman nya disini. Aku mengangguk-angguk mendengar cerita-cerita dan penjelasannya.

“Jadi, apakah kau sudah mulai merasa beruntung disini?” Huffington menaruh gelas susu nya ke anak tangga dan mnggosok kedua tangannya. Nada nya seperti dokter yang menanyakan kabar pasiennya, apakah ia siap untuk di operasi atau tidak.

“Apakah aku mengatakan aku tidak beruntung tadi?” Tanya ku dengan kaget. Kami pun tertawa bersama.

Huffington adalah orang yang ramah sekali, mudah bergaul terbukti ketika kami berjalan menuju dapur untuk mengambil makan siang. Banyak yang menyapanya dan melakukan toss dengannya. Aku hanya mengulum senyum di belakangnya.

“Huffington!” Seru seorang wanita di meja ujung dengan sekitar 5 orang, tangannya menunjuk ke mejanya. Menyuruh Huffington ke arah mereka. Huffington membalas dengan memberikan isyarat jempol. Kami berdesakan diantara antrian untuk menuju meja yang udah penuh gerombol orang itu.

Huffington menyuruh ku duduk di depan nya. Mengenalkan aku kepada teman-teman nya dan aku menjabat tangan masing-masing. Sepintas aku berfikir, pengalaman apa saja nanti yang kudapatkan ketika berlayar? Kapal bocor? Penemuan daratan kosong? Di ombang-ambingkan gelombang samudra? Atau malah diserang oleh moster laut?

Anna, Vi, Dean, Tom, Gale dan Kirk. Kami semua kelahiran ’91. Kecuali Anna dan Huffington, mereka kelahiran ‘89

Mereka teman yang baik. Kami membicarakan mimpi kita masing-masing. Aku mudah beradaptasi dengan mereka.

Dean adalah anak yang paling mencuri perhatian karena sering menyibakkan rambut pirang nya sehingga Kirk menjambak rambutnya sebal berkali-kali.

Tom yang terlihat lemas karena mabuk laut sehingga tidak banyak bicara. Anna dengan suaranya yang vokal, dia banyak bercerita tentang pertandingan softball nya yang penuh kelucuan.

Vi, si pendiam China yang ternyata anak seorang sheriff hebat dikotanya.

Gale laki-laki kurus yang wajahnya mirip dengan gitaris Coldplay.

Kirk yang usil dan tentunya Huffington yang terlihat paling bijaksana diantara kami. Sedangkan aku? Bisa jadi aku adalah Cleira, pendengar yang baik dan suka memandang sudut mata orang didepannya. Atau mungkin, bisa Cleira dengan senyum kaku.

Antrian sudah habis, kami mengambil makan kami masing-masing. Kali ini makanan kami dengan chef Hoka Bento. Jadilah menu kami adalah chicken katsu, salad wortel, nasi dan teh ocha.

Kami mulai memakan dengan doa bersama. Tidak hanya doa syukur tetapi memohon doa keselamatan. Kirk ikut mengamini walaupun sebenarnya dia  tidak percaya dengan tuhan semenjak orang tuanya meninggal.

Tiba-tiba aku mendengar suara riuh sorak. Aku menoleh kearah pintu dengan cepat, ter lihat dari kaca bundar di pintu orang-orang berkumpul disana. Sepertinya sedang terjadi perkelahian. Aku kembali menoleh ke teman-teman. Mereka melahap makanan tanpa gangguan, tanpa suara, khidmat. Padahal suara itu masih terdengar jelas. Aku cemas, hanyakah aku yang mendengar suara sorak itu?

Aku mencoba tenang dan mulai membuka sumpit, berfikir itu adalah halusinasi ku saja. Tetapi suara itu semakin membesar dan seperti mengelilingi dapur. Aku melihat ke Anna, dia makan dengan tenang dan memberikan ku senyum ketika aku melihat kearahnya. Seperti tak ada masalah. Aku berganti menoleh kearah Vi yang ternyata dia memperhatikanku sedari tadi tetapi ia hanya menganggukkan kepala dan melanjutkan makannya. Apakah mereka berpura-pura tuli? Atau malah jangan-jangan mereka tidak mendengarnya. Huffington yang didepanku juga berkerut. Dia seperti kedapatan hal aneh. Bukan, bukan suara itu. Dia melihatku yang aneh, yang belum menyentuh sama sekali makananku. Tidak ada yang mendengar. Suara itu semakin membesar lagi, riuh. Terdengar pukulan tinju tepat di ulu hati, aku bisa mendengarnya.

Aku membanting sumpitku dan berlari keluar dapur. “Cleira!” sempat terdengar suara Kirk memanggilku. Namun, yang kutemukan hanyalah lorong yang kosong. Aku menjatuhkan diri dan bertumpu pada dua lututku, menutupi wajahku. Suara itu benar-benar terdengar olehku, dan orang-orang itu benar-benar dapat kulihat saat didalam dapur tadi. Apa maksud semua ini?

“Cleira? Tell us why?” Anna berbisik dan memelukku.

Aku tak menjawab, aku menangis. Aku takut. Rasa cemas ku ini melebih dari rasa cemas ketika panggilan pertama. Perasaan ini seperti perasaan, tidak aman. Sangat.

“Tadi dia terlihat gelisah. Saat setelah dia melihat arah pintu dapur.” Vi bersuara, aku tidak dapat mengatakan semua tentang perasaan ku saat ini. Aku hanya bisa menangis.

“Tangannya dingin sekali. Cleira katakan pada kami apa yang telah terjadi, sebenarnya.” Anna mengeratkan pelukannya. Aku memeluk Anna. Ingin kubagi cerita rasa takut ku yang kusadari telah menggerogoti jiwa ku.

Aku merasa lemah ketika aku cemas dan takut. Aku mengharapkan Neo ada disamping ku saat ini. Cukup dengan tatapan sejuk dimatanya seolah berkata semua baik-baik saja.

Neo tidak ada disini aku, harus mengatasi nya tanpa dia. Sudah ribuan mil tidak mungkin aku mengharap nya ada disamping ku. Rasional.

Aku membalas pelukan Anna, merasa sedikit lebih baik. Anna mengelus-ngelus rambutku dan mengatakan semua baik-baik saja, ada kami disini.

Pelan aku membuka mata ku. Semua berjongkok didepan ku. Tatapan mereka penuh dengan rasa keingintahuan. Dean mengerjap-ngerjap mata, aku mengartikannya sebagai bentuk keingintahuan juga. Hanya Huffington yang berdiri dia berada di pintu dapur tadi. Seperti mencari-cari sesuatu tapi tidak menemukannya.

“Cleira, ceritakan pada kami apa yang terjadi.” Anna berbisik pelan padaku, lagi.

“Uhm, apakah kita akan berjongkok terus? Ayo ke tempat biasa.” Kirk membuka keheningan dengan mulai berjalan didepan diikuti Huffington dan yang lain.

Semua benar-benar tidak melihat dan mendengar suara riuh diluar dapur tadi. Hanya aku seorang. Tiba-tiba kulihat kumparan seperti angin topan bewarna hitam masuk kedalam lampu tepat diatas Dean berdiri. Aku menoleh kekanan dan kekiri. Tak ada yang melihatnya lagi, lagi-lagi hanya aku.

Kami ke ruang santai dengan dekorasi pegunungan didindingnya. Pegunungan hijau dengan awan kumulonimbus. Lembah, sungai dan matahari. Unsur-unsur yang tak akan pernah kami lihat selama perjalanan kecuali transit. Bagaimana jika bensin habis? Kapal selam ini cukup menghubungi tanki dalam laut perkapalan sekitar dan meminta bensin maka tak lama kemudian akan dikirim dengan kapal. Untuk teknis nya aku tidak begitu tahu, mungkin Huffington akan menceritakan kapan nanti.

Sekarang ini jauh lebih baik. Aku bisa tertawa oleh jokes yang diluncurkan Kirk dan Dean. Anna melihat kearahku dengan senyum nya yang baru kusadari dia mempunya lesung pipit yang samar pada pipi kiri nya.

Tetapi jokes itu terhenti ketika Kirk entah serius atau bercanda bertanya hal yang membuat kami diam seketika. Nada bicaranya tidak kuperhatikan.

“Jika kita mati dilautan ini, akankah kita dibuang langsung atau dikembalikan pada keluarga kita?”

“Kirk, kau telah bertanya hal yang bodoh.” Gale membenarkan posisi duduknya dan menggelengkan kepalanya.

“Dammit.” Tom melempar bantal sofa kearah Kirk dengan penuh emosi.

Kurasa ini hanyalah pertanyaan bercanda. Tetapi teman-teman menganggap ini serius. Mata mereka menatap tajam Kirk. Jelas ada sesuatu yang disembunyikan atau mungkin belum diceritakan padaku.

“Ceritakan apa yang kau rasakan tadi Cleira. Aku sangat penasaran terhadap sesuatu yang bisa membuatmu sebegitu—lemas. Percayalah kami akan selalu bersamamu.” Huffington meminta penjelasan dan mungkin bermaksud mengalihkan pembicaraan.

“Kami adalah keluarga mu disini.”

Menarik nafas dalam. Aku harus menceritakan semua nya. Semua mata kini beralih kepadaku. Vi membenarkan sweater hijau nya. Dean berhenti menyibakkan rambutnya. Kirk bersandar di sofa hijau dengan santai, mata hijau nya mengingatkan ku pada soft lens milik Neo. Anna mengangguk takzim padaku. Tom menggigiti kukunya. Huffington dengan bola matanya yang coklat bisa kulihat begitu bijaksana nya ia.

Aku bingung harus memulai darimana aku harus bercerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s