Aku, Pemilik Bunga Tidur (part 1)

Before i tell you. Ini sebagian besar alur cerita dari mimpi ku. Minggu, 15 Des ’13, about 13.30 until 15.45. Ada yg aku tambahin, ada yang aku lupa termasuk tokoh, jadi namanya ada yg disamarkan ada yang di buat nama lain. Wajar, mimpi. Happy read!

Beberapa orang menginginkan bepergian sejauh mungkin tapi pasti ada beberapa orang yang lebih memilih cukup yang dekat saja. Setiap sisi dan pendapat mutlak memiliki kebalikan. Entah karena ingin hemat biaya atau yang lain. Masih kupandangi pohon akasia besar dikelilingi rerumputan rapi yang rajin dipangkas. Dari balkon rumah besar ini, pohon itu terlihat besar sekali, akar-akar nya ada yang di dalam dan ada yang menerobos keluar dari dalam tanah. Disitu ada akar yang mencuat yang beberapa saling bersinggungan dan akhir nya seperti membentuk sebuah simpul khusus. Biasanya kugunakan untuk tiduran disaat sore hari seperti ini apabila cuaca tidak mendung.

Satu dari sekian banyak mimpi ku adalah bisa melakukan perjalanan yang jauh, tiduran diatas  tali temali yang dipasang diantara dua pohon. Menyentuh air laut, merasakan tersedak didalam air laut yang asin. Mendengar debur ombak dan kicauan burung-burung dengan angin sepoi-sepoi. Akan sangat menarik jika ini benar-benar terjadi. Andaikan saja aku tidak menghabiskan uang saku ku hanya untuk mendaki gunung yang berpredikat misterius namun kenyataanya aku tidak merasa ada feel  yang menarik saat beberapa minggu silam.

“Sa!!” Aku bergegas ke arah suara pakdhe ku itu, pakdhe Chalk.

“Iya, pakdhe.” Sekarang aku sudah berada pada garasi rumah nya yang sekaligus kantor beliau. Pakdhe Chalk berencana membuat perusahaan sepatu besar dan ternama. Walaupun sebenarnya gaji dari kantor nya sudah lebih dari cukup apabila dibagi ke 20 keluarga.

“Uang pakdhe ini gimana ya caranya, coba lihat tabungan pakdhe.” Sambil menyerahkan mouse dan memberi ku tempat duduk di samping beliau agar aku bisa melihat monitor juga.

Oh, tabungan. Batin ku, dalam hati pastinya. Entah sejak tahun kapan, mencari uang adalah salah satunya cukup dengan bermain game. Maksudku disini uang asli, uang kartal yang asli. Namun, game khusus itu hanya bisa dimainkan oleh kepala keluarga. Akan ada pengetesan sidik jari pada mouse, jari-jari sebelum bermainkan akan diberi sebuah cairan khusus yang baunya seperti permen karet dan kata pakdhe dalam jarak setengah senti dengan mouse jari itu akan langsung merekat pada mouse, secara langsung, otomatis. Tentu saja aku belum pernah bermain game itu malah tidak mungkin kecuali aku menjadi orang tua tunggal.

“Tabungan pakdhe tinggal 6234, minimal nya nol. Masih lumayan pakdhe, dapet siomay.”

“Ah, nggak ah. Oya, Sa. Tahu kan, pakdhe mau buat perusahaan sepatu. Pakdhe minta tolong sama kamu untuk buat iklan nya. Gimana?” Pakdhe ku memilih orang yang salah. Aku masih kuliah semester 1 apalagi bukan pada bidang semacam itu. Bahasa kasar pernyataan pakdhe ku tadi adalah ngaco.

“Nggak bisa pakdhe. Aku nggak bisa buat iklan kayak gituan. Kuliah yang aku ambil bukan bidang kayak gitu.” Tolak ku dengan bahasa yang sehalus kubuat. Pakdhe Chalk adalah pakdhe yang baik, suka membantu saudara-saudaranya.

“Lho, pakdhe ini yakin kamu bisa. Nggak usah permasalahin bidang kuliah. Pakdhe yakin kok kamu ini pasti bisa.” Pakdhe ku membujuk dengan nada khas nya juga suara yang santai penuh percaya diri.”

“Nggak pakdhe. Matursuwun, pakdhe salah orang beneran ini          eh itu apa pakdhe?” Fokusku terbuyarkan oleh sebuah nama file aneh pada komputer tabung pakdhe ku. Kejadian yang tidak terlupakan.

“Bukan apa-apa Sa ini. Ini konsep iklan pakdhe dulu, yang tentang sepatu itu. Lupakan saja, toh kamu tidak tertarik. Tidak ada musiknya, tidak berjiwa anak muda.”

“Aku mau lihat pakdhe. Masa’ iklan tidak ada musik nya? Itu size nya besar kok. Pasti ada.”

“Pakdhe lupa, oke kita lihat.”

Pakdhe membuka file itu awal iklan itu adalah gambaran hutan yang sangat gelap, lembab dan daun-daun berasal dari pohon-pohon besar yang tingginya menjulang menutupi masuknya sinar matahari. Kalau di geografi, jenis hutan ini adalah hutan hujan tropis. Ada suara-suara serangga yang bunyinya ngiang-ngiang­ dan suara gemericik air dari kejauhan sekali.

Lalu kamera menyorot sekitar 4 orang anak muda, dua laki dan dua perempuan. Mereka meloncat dan mengeluarkan dentuman keras seperti dentuman kematian pada film The Hunger Games. Dan gambar berhenti disaat mereka mengangkat kaki, mereka mengenakan sepatu bermacam dan berwarna.

Hanya kaki mereka yang muncul pada monitor saat ini, lalu disertai tulisan berwarna kuning pada setiap sepatu. Nike, Sneakers, Ardilles dan Angry Birds.

Di akhir iklan itu mereka berdiri menyandar pada sebuah tembok bewarna orange tua dengan ekspresi bahagia mereka.

“Aku nyaman dengan sepatu ku dan aku jarang pernah melepaskan nya sama sekali sejak aku membeli ini.”

“Harga nya memang cocok dengan kualitas nya.”

“Aku sedang memperhitungkan uang natal untuk membelinya tahun depan.”

“Saat mengenakan ini, semua teman-teman ku berkata Wow, kau seperti jagoan merah.

Iklan itu berhenti dan aku membenarkan posisi duduk ku. Memang tidak ada musiknya. Konsep yang sederhana dan bagus.

“Udah, kamu main game aja dulu. Pakdhe mau menyelesaikan beberapa laporan.” Pakdhe mulai mencoret-coret kertas di dalam map kuning cap panda nya itu. Aku bermain tembak-tembakan yang sangat seru tetapi lama kelamaan aku mulai bosan. Kursor kuarahkan sembarangan dan kutekan mouse dengan kasar hingga sebuah tangan mengambil alih mouse berwarna putih itu. Bukan, bukan tangan pakdhe ku.

***

Itu tangan kakak ku, Neo. Kakak. Begitulah yang dijelaskan pakdhe ku. Bukan anak dari pakdhe Chalk. Bukan saudara sepupu ku, bukan saudara kandung ku tetapi yang terpenting kata pakdhe Chalk, dia adalah kakakku.

“Sini aku aja yang main mendingan.” Neo mengambil posisi diantara aku dan pakdhe Chalk yang masih longgar itu. Aku hanya mengiyakan.

Aku masih mengamatinya, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan nya. Mungkin sudah lima tahun lebih. Dia sudah bekerja di salah satu perusahaan milik negara   yang terkenal karena faktor kecemerlangan otaknya.  Membanggakan.

Kulitnya sawo matang, walaupun aku tidak pernah melihat sawo yang matang itu seperti apa. Keseringan nya bermain sepak bola membakar kulitnya yang sebenarnya putih. Tampak jelas. Matanya yang terlihat mengantuk padahal sebenarnya tidak. Mengenakan baju bola biru muda lengan pendek, mirip milik teman ku bertuliskan Edtihad. Tangan-tangan nya penuh dengan bulu halus yang ingin sekali aku mengusap-usap gemas karena saking lebatnya.

“MATRIXA CLEIRA!!!” Panggilan itu mengagetkan ku lamunanku tentang Neo. Panggilan itu seperti berasal dari dalam telinga ku sendiri. Kutolehkan kepala ku kanan dan kekiri. Melihat ekspresi Neo dan pakdhe Chalk apakah mendengar suara itu atau tidak. Mereka terlihat biasa saja, tak ada gangguan.

“Mas, denger suara nama ku dipanggil nggak?” Aku merasakan suaraku bergemetar, mulutku kaku, kelu, detak jatungku terasa tak beraturan.

“Hm, nggak tuh. Emang kenapa? Pucat banget tuh wajahmu.” Neo menghentikan gamenya dan menoleh ke arah ku. Sedangkan pakdhe Chalk masih terlihat sibuk dengan map-map kuning cap panda miliknya.

Aku? Pucat? Sebegitu pucatkah aku sehingga Neo masih memandang lamat-lamat penasaran kearah ku menghentikan gamenya. Mata Neo menyipit kearah ku memperhatikan wajah ku dan seperti berisyarat mata kepada ku. Tak dapat kutangkap maksudnya. Masih berusaha ku atur jantung ku ini, kutenangkan diri dari suara yang memanggil nama ku.

***

Perlahan kuatur nafas ku lagi, Neo masih memandang ku lamat dan seperti mengharap penjelasan lebih dari cerita panggilan ku tadi. Aku naikkan kaki ku diatas kursi, kutekuk dan kupeluk erat. Kepala kusandarkan di lututku. Tangan ku dingin, bibir ku mendadak kering.

“ Hei, Matrixa? Seperti apa suaranya? Kamu benar-benar pucat. Coba lihat wajahmu itu.” Neo mengambil cermin di samping pintu masuk kantor dan mengarahkan cermin itu dihadapan ku. Bayangan ku terpantul jelas, rambut hitam panjang ku terurai tak dikucir. Mata ku benar-benar memantulkan rasa was-was tinggi. Aku bisa merasakan tubuhku merinding hebat.

“MATRIXA CLEIRA!!!” Panggilan itu datang lagi. Tetapi suara itu bergema, seperti berasal dari langit. Bukan dari telinga ku lagi. Satu-satu nya harapan ketika aku mendengar suara itu adalah Neo dan pakdhe Chalk mendengar nya juga.

Mereka mendengar sempurna, pakdhe Chalk melihat ke arah ku dengan pandangan kaget. Neo berdiri dan berlari ke arah balkon. Aku mengikuti Neo dan seketika pemandangan ku di depan ku membuat ku tercengang dengan sangat. Bukan lagi halaman rumput hijau yang luas tetapi laut biru menghampar tak berujung. Pohon akasia itu telah hilang dan berganti menjadi sebuah kapal kecil, ada 3 perempuan yang berdiri disana. Aku tidak tahu apa sebutan untuk mereka, mereka berseragam. Mungkin semacam pramugari kapal.

to be continued to the part 2 ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s