Pandangan jodoh di mata saya

Selamat malam semuanya. Malam ini seharus nya saya belajar untuk mid lusa saya. Tapi saya memutuskan untuk memulai start besok. Masih banyak yang ingin saya lakukan sebelum ujian datang. 

Seperti ngetik ngetik. Sudah ada beberapa file di laptop saya yang bsia di upload ke web ini, tapi saya mengurungkan niat. Saya memutuskan untuk ngetik yang baru. Dan ini.

Oke ada banyak yang harus segera saya ceritakan di sini sebelum kisah indah ini menjadi beban pada hidup saya.

Perkenalkan nama saya Khonsa Nabilah. Seorang siswi sosial dari murid SMAIT Nur Hidayah. Saya seorang aktivis sebuah organisasi di sini bidang kedisiplinan. Sebut saja, EMPES. Inilah prolog yang menyakitkan. Bidang kedisiplinan adalah menyangkut semua masalah tata tertib di sini, juga saya harus menjadi panutan untuk anak anak di sini. Musibah atau nikmat nya adalah saya ketua komisi bidang tersebut. setelah ketua Azmul mengundurkan diri. Saya yang di tunjuk dan pengajuan setelah berfikir agak lama.

Remaja adalah sebuah tahap untuk menjadi dewasa. Ketika syaraf otak sebagian menolak nasehat, sebagian menerima kenyataan juga sebagian ingin hal yang baru. Tak di pungkiri. Semua itu pasti terjadi pada tiap insan yang hendak remaja.

Sedangkan SMA itu kata nya tempat anak anak mencari jati diri. Karena menurut pengalaman saya SMP yang saya juga boarding school, itu kita lebih mudah untuk menerima sesuatu yang di hadapkan kepada kita. SMP juga adalah teman kedua setelah teman SMA. Dalam setiap hubungan pasti ada yang menganggap spesial atau di anggap spesial. Bahkan teman SMP pun bisa jadi.

Disini saya termasuk anak yang jarang pake deker tapi skarang tahap atas. Saya sendiri juga tidak faham kenapa saya tidak suka menggunakan itu. Mungkin seperti yang saya sebutkan tadi, sebagian syaraf saya menolak sesuatu yang sudah saya milikin asumsi tersendiri. 

Peraturan tidak boleh berhubungan lawan jenis pun di adakan. Tetapi ini lebih kepada hubungan yang spesial. Bahkan untuk hal ini masih rancu pada sendiri saya.

Karena saya mengalami, cinta di ambang batas.

Ketika batas batas membuat menjadi perisai yang kata orang orang menjadi sebuah perlindungan berdasarkan ideologi yang mereka anut.

Sering kita mendengar istilah pacaran di lingkungan kita. Di mana mereka seperti mengultimatum dia milik ku, aku milik nya. Kita hidup bersama. Tak asing kita mengetahui hal ini lah. Dan gak usah munafik kalo hal ini emang ada.

Saya mencintai seseorang. Ups. Kita ganti dengan saya menyukai seseorang saja. Karena mengucapkan kata mencintai itu seperti nya lebih cocok untuk 18 tahun keatas, sedangkan saya masih 17 tahun.

Rasa suka saya berbeda dengan suka orang pada umum nya. Saya masih berfikir tentang norma kewarasan, etika berbicara, pelajaran juga hubungan saya pada teman teman saya.

Tetapi kesalahan terjadi pada masa dahulu saya. Karena dia adalah orang yang baik terhadap sesama dan semua orang selalu mudah care dengan dia termasuk saya. Pola pikir saya saat itu hingga kini adalah yang terpenting dalam saya dan dia adalah saya suka dia, tak ada yang bisa mengubah nya. Entah dia atau suka dengan saya atau tidak. Saya suka dengan dia sudah menjadi kesenangan yang saya rasakan. Itu sudah satu tahun saya berfikiran seperti itu dan ini menginjak 2 tahun pola pikir saya masih tetap seperti ini dan akhir nya saya terganggu. Merasa ada yang berbeda.

Mau dia suka sama aku atau enggak itu urusan nya. Urusan ku hanyalah suka pada nya”

Saya berpesan kepada anak buah saya untuk bersungguh sungguh menjadi pioner “EMPES”. Saya tidak ingin melihat mereka melakukan pelanggaran termasuk pacaran mengingat kita semua organisator adalah sebuah panutan yang harus memberi kebaikan. Juga saya tidak segan membuat SK bagi yang saya ketahui pacaran yang ternyata juga memiliki kerja tidak maksimal.

Dengan kata lain saya juga mengharam kan yang nama nya pacaran untuk KOMISI INI walaupun di peraturan sekolah tertulis dan di tetapkan.

Saya dengan orang saya sukai sudah seperti teman, yah memang kami berteman. Selama ini saya tak menganggap dia suka sama saya. Hanya ada satu subjek yakni saya dan satu predikat yakni suka dan satu objek yakni dia.

Dalam sekolah saya, pacaran bukan lah hal yang mainstream. Karena di sini benar benar tidak di perbolehkan. Tapi pasti ada satu atau beberapa dari ratusan anak sekolah saya yang berpacaran. Saya yakin ini.

Hubungan saya dan dia semakin lama semakin tidak enak pada saya. Entah mengapa saya mengalami suatu keganjalan yang terjadi. Dan keganjalan ini apabila tidak di waspadai bisa menyebabkan hal yang fatal. 

Anak anak yang di hukum karena ber pacaran selama ini di angkatan saya baru 2 orang yang ketahuan sehingga di hukum. Yang masih saya sulit mengerti adalah, kemana orang orang lain nya? Bahkan saya berfikir apakah tipe pacaran orang orang ini sehingga bisa lepas atau tidak kena atau tidak di ketahui oleh pihak sekolah?

Dia terlihat lebih banyak menggunakan karakter karakter pada sms nya. Dan beberapa lain juga karakter.

Beberapa yang saya stalking atau saya ikuti perkembangan hidup nya halah ada beberapa orang organisator yang terlibat ini, tak tanggung pula hingga pengurus beberapa organisasi. Saya menyayangkan hal ini. Sebenarnya pacaran dalam pikiran saya boleh saja asal tetap ber kontribusi maksimal untuk organisasi dan sekolah ini. Karena saya mengira-ngira melihat pengurus yang mungkin sudah sibuk dengan perasaan nya sehingga melupakan amanah dia dari orang tua juga amanah dia dari sekolah. Sepertinya. Ini hanya pemikiran saya.

Jujur saya merasa senang karena dia bisa terbuka dengan saya dan lebih friendly. Namun, hati kecil saya terus waspada. Hingga suatu hari terungkap. Lewat sebuah pertanyaan dari dia dan pemikiran saya dan satu orang teman saya yang cukup canggih dalam hal seperti ini.

Tak perlu di tanya lagi siapa saja yang sudah pacaran di sini. Muka orang pacaran di sini itu terlihat. Saya bisa mengetahui nya. Allah mungkin lebih tahu. Bahkan saya tau muka muka orang yang sering di PHP in. Haha.

Dia adalah dia. Dia tetap dia. Ketika orang sama sama suka tapi “masih” mengingat Allah dan karena Allah. Apabila Allah meridhoi maka akan di perketemukan di hari yang di ridhoi Allah. Dan apabila suka ini istiqomah tanpa melanggar syariat juga semangat untuk masa depan. Tak perlu pacaran. Bagi saya, untuk membuktikan sebuah cinta sejati itu tak perlu hujan-hujan an menunggu cinta nya di terima, atau sebatang coklat ataupun malah sekuntum mawar. Tapi jawaban untuk cinta sejati adalah waktu. Waktu saat ini masih terlalu dini lihatlah di masa nya nanti. Entah perasaan perasaan itu akan memudar atau bertambah. Semua akan terasa lebih indah pada waktu nya. Walaupun awal nya sangat menyakitkan.

Saya sebagai MPS menghimbau kepada seluruh siswa siswi SMAIT Nur Hidayah Sukoharjo untuk jangan sampai kita di padam kan oleh perasaan itu sendiri. Jagalah hati kita untuk sesuatu yang baik nanti nya.

Maka saya memutuskan untuk tidak berkontak lagi dengan dia untuk beberapa waktu ke depan. Banyak hal yang masih harus di takuti dan di kerjakan.

Jodoh kita adalah cerminan diri kita. Yang baik untuk yang baik. Yang buruk untuk yang buruk. Yang bekas untuk yang bekas. Yang soleh untuk yang solehah. Yang sabar untuk yang sabar. 

SEKIAN

*re-edit : saya juga sedang belajar. bukan sok paling bener atau alim. tapi kalau di pikir pikir ini nalar. terima kasih*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s