Unnamed Part 1

Semua telah selesai. Aku mengusap kedua tangan ku untuk membersihkan. Pistol 8I7A telah ku pasang di pergelangan kiri betis ku. Aku menghadap cermin di depan ku, menyisir rambut pendek segi potongan kasual ku. Setiap hari. Setiap pagi. Setiap pukul 06.00. Pistol ini bukan lah pistol biasa. Hanya di miliki oleh sebagian kecil orang. Bulir peluru nya dapat menembus baju anti peluru milik polisi pada umum nya. Memiliki kecepatan moncong 1148 kaki per detik. Apabila telah bersarang pada tubuh seseorang, kulit nya akan bereaksi melepuh karena di dalam nya terkandung uranium yang bercampur dengan darah dari orang tersebut. Apabila tidak segera di selamat kan, korban dari peluru ini dapat melepuh kulit nya. Kecepatan menembak nya sangat cepat karena ukuran peluru ini sangat lah ringan. Ringan namun mematikan. Hebat bukan? Sudah kubilang pistol ini hanya di miliki oleh sebagian kecil orang. Dan aku adalah satu yang beruntung di antara nya.

Semua mudah saja bagi ku. Aku berhasil membunuh 100 mafioso dan 27 pejabat negara yang tak mematuhi dan melanggar kode etik yang telah di sepakati “katanya”. Semua prestasi ini yang membuat ku menjalani hidup begitu mudah. Semua mudah ku dapatkan dengan keahlian ku ini. Membunuh.

Nama ku Laura. Begitulah mereka memanggil ku. Aku lulusan sebuah sekolah militer terbaik di kota ku. Tak ada pilihan lain selain sekolah militer. Itu adalah sekolah paling murah di kota ku. Aku hanyalah anak angkat dari sebuah keluarga miskin di pedesaan  jauh dari kota. Orang tuas angkat ku hanya seorang buruh ternak telur. Upah nya tak cukup untuk makan seminggu.

Di akademi militer aku di kenal dengan murid pendiam. Aku tak mudah percaya dengan siapa pun. Aku lebih suka melakukan tugas individu ketimbang kelompok. Aku selalu yakin bahwa aku bisa mengerjakan tugas ku dengan sempurna tanpa campur tangan orang lain. Dan itu berlangsung hingga saat ini.

Setelah lulus, ayah menawari ku untuk bekerja membantu nya di peternakan. Aku menolak. Aku merasa aku memiliki kemampuan yang lebih. Tak seharusnya aku bekerja di bawah kemampuan intelektual fisik ku. Baguslah, aku lulusan terbaik. Aku selalu menerima nilai amat baik dalam pelajaran navigasi dan taktik. Banyak orang yang bilang bahwa aku bukan lah manusia normal. Aku selalu mendapatkan nilai yang sangat baik ketika orang di sekelililing ku meronta untuk di beri kesempatan lagi, namun nilai ku selalu buruk pada sebuah mata pelajaran yang orang sekitar ku selalu mendapat baik. Moral. Untuk masalah fisik, aku selalu mendapat juara. Sprint tercepat, maraton terkuat, push-up terbanyak dalam hitungan menit, dan aku selalu mahir dalam permainan panah juga pacu kuda.

Aku bosan dengan kehidupan miskin ku. Aku berfikir bahwa hidup ini harus untuk mencari kesenangan untuk diri kita melalui upaya kemampuan yang kita memiliki.

Sebuah perusahaan berlabel sekuriti menawari ku sebuah job. Perusahaan ini memiliki banyak cabang di seluruh penjuru dunia. Aku mengerti bahwa aku akan di letakkan pada bagian bukan kantoran setelah mereka melihat curiculum vitae yang ku berikan. Aku berharap ini adalah kerja lapangan. Dan benar, ini benar pekerjaan lapangan. Pekerjaan 8I7A. Di sinilah kehidupan ku mulai berjalan dengan “rasa”.

Sudah pukul 05.00 lihat ku ke arah jam. Aku menanggalkan bed cover lambang negara ku, bintang dan garis merah juga biru. Berlari sedikit menuju arah kamar mandi dan memulai ritual pagi ku. Bagi orang biasa ini sangatlah pagi untuk memulai aktifitas. Tapi inilah hidup ku. setelah selesai mandi, aku mengeringkan rambutku dengan handuk yang ku usap –usap dan mengganti baju handuk ku dengan setelan blazer hitam ber-kemeja putih juga celana levis hitam. Tak lupa aku memasang 817A milik ku di pergelangan betis kaki kiri. Dan memakai tas ransel

Jalanan kota ku masih sangat sepi. Hanya satu dua kendaraan mobil lewat dan beberapa loper koran sudah beraksi dengan lemparan lemparan lihai nya.

Seperti biasa, aku mampir menuju sebuah kedai kopi untuk memesan secangkir vanilla latte. Aku membawa nya, menyeruput sedikit demi sedikit sambil menikmati pagi yang cukup dingin ini.

SFIW. State Finding Inocler Wind/

Itu adalah nama perusahaan tempat ku bekerja. Tanpa harus memiliki akses card aku sudah bisa masuk. Cukup dengan menatap satpam perusahaan sebentar itu sudah lebih cukup. Aku memiliki semua akses di perusahaan ini. Kecuali satu. Ruang deputi gubernur perusahaan ini. Aku harus mempunya kode tip-tac-toe yang sangat berbeda.

Aku membuang cangkir vanilla latte ku di samping pintu masuk lift lalu langsung naik menuju lantai 11. Lantai tempat ku bekerja. Sudah ada beberapa berkas yang menumpuk di meja ku. Aku hanya perlu membaca dan memberikan beberapa wacana sesuai dengan “visi misi” perusahaan kami. Bentuk pekerjaan ku yang sebenar nya belum terlihat. Semua ini butuh proses.

Setelah membaca beberapa berkas aku menuju hall audio visual. Di sana layar layar tv sangat banyak, dan terkihat ssatu yang sangat besar. Ini adalah mata pengawas untuk seluruh dunia. Setiap negara memiliki satu pengawas di sini. Dan aku adalah bagian pemeriksa disini. Aku hanya mengecek setiap orang apakah melakukan tugas dengan baik atau tidak, apakah melakukan suatu pelanggaran atau tidak.

Untuk kerja disini, kau harus memiliki loyalitas terhadap negara dan perusahaan berlabel sekuriti ini.

Setelah yakin tugas ku telah selesai, aku hendak keluar membeli sarapan sandwich di sebuah truck food yang biasa ku kunjungi. Pak tua beruban yang senyum nya sangat lebar, dan selalu mengucapkan “little cutie” ketika aku datang. Saat aku hendak memesan, tampak sebuah punggung dari arah rak etalase yang tidak biasa ku lihat. Ketika pak Tua selalu memakai baju koki putih nya juga celemek merah biru nya, kali ini yang terlihat sebuah kaos abu abu dnegan celemek tersebut. Dia bukan pak Tua. Aku bermaksud mengurungkan niat ku untuk membeli sandwich ini, aku hanya takut rasa nya akan berbeda dengan apa yang di buatkan oleh pak Tua.

Dan penjual pengganti pak Tua menyapa ku.

“Selamat pagi. Mau pesan apa?”

Aku melihat bola mata nya yang hitam pekat. Tidak biasa nya ada orang kaukasoid yang memiliki bola mata begitu sangat hitam. Aku yakin dia dari ras mongoloid, di tambah juga kulit nya yang tak seputih pucat bangsa kami. Aku masih mengamati nya, menimang nimang dari mana dia berasal. Brunei? Thailand? Indonesia?

“Hello…” Dan suara ini mengejutkan ku.

“Sorry, 1 sandwich, 1 soda hitam.” Jawab ku dengan mantap masih memandang lelaki paruh baya itu.

“1 sandwich, 1 soda hitam. Tunggu sebentar.” Lelaki itu menyebutkan pesanan ku dan mengambil nya lalu memberikan pada ku.

“1,2 dollar.” Ucap nya, aku mengeluarkan uang pas dan membawa sandwich dan soda ku menuju bangku yang telah di sediakan truck food itu juga mengambil tempat strategis untuk mengawasi lelaki pengganti pak Tua itu. Selama ini pak Tua tidak pernah absen dalam truck food nya. Sungguh hal yang aneh. Sebenar nya aku hendak menanyakan pada lelaki itu. Tapi aku urung.

Perasaan ku berkata. Sesuatu yang luar biasa akan terjadi. Mulai dari detik pertama aku mengunjungi truck food hari ini. Dan ini akan menjadi masalah besar.

Tret tret. Aku melihat layar hape ku, dan ada nama ibu yang menelepon. Aku segera mengangkat nya sambil berjalan kembali ke perusahaan berlabel sekuriti itu.

“Laura.. Segeralah pulang. Ayah meninggal dunia.”

Aku tersentak tak mampu membalas apa apa. Aku berlari secepat nya dan segera pulang menggunakan helikopter. Hape ku matikan. Aku harus segera pulang.

“Laura, ada meeting di hall. Membahas nuklir….”

“Aku harus pergi. Katakan pada Mr. Komeyashi.” Potong ku saat Rachel mengingatkan ku yang sedang membereskan berkas berkas yang sedang ku masukkan ke dalam ransel.

“Urusan apa yang membuat mu lebih mencintai itu dari pada negara mu?” Ucap nya sinis.

Aku menolak untuk  menyahuti sinis an nya. Aku tidak usah memberitahukan nya. Itu tidak penting untuk kehidupan nya bukan?

“Jangan kira kau anak emas perusahaan ini!” Sentak nya. Sungguh aku malas beragumen dengan roomdesk ku itu. Cukup dengan membiarkan nya diam tak usah di balas saja.

Perusahaan ini terlihat lebih ramai dari biasa nya. Kemarin barusan ada nuklir yang di ledakkan oleh Iran. Hal ini membuat kami meradang. Keadaan yang kami jaga benar benar dan was was sekali malah terjadi. Semua orang sibuk berbicara sambil berjalan. Aku menuju bagian transport di lantai paling atas.

“Mr. Komeyashi. Aku ijin. Sesuatu lebih penting.” Pesan ku dengan mengirim kotak suara pada nya.

Helikopter hari ini terkumpul banyak. Aku bisa menggunakan satu. Terakhir kali aku menggunakan nya mengawasi daratan sebelah utara dengan lintang ke tengah yang sedang mengalami pemberontakan.

Aku segera menaiki satu helikopter dan berbicara pada Mr. James, selaku pilot untuk menuju desa ku. Aku segera mengambil posisi sebagai co-pilot nya. Kami berangkat.

Dia bukan ayah kandung ku. Tapi dia yang telah membuat ku berada di perusahaan terkenal berlabel sekuriti ini. Dia yang membuat ku berjiwa pemberangus seperti ini.

[to be continued]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s