Pendosa yang Merindu

Lagi, setelah beberapa lama aku mengaduh tentang kerinduan.. Bolehkan aku mengaduh lagi?

Apa yang kau rasakan apabila ada di ruang hatimu rasa ingin bertemu, tetapi tak kunjung ada kesempatan untuk bertemu?

Sesak bukan?

Apa yang kau rasa apabila kau merindu tetapi rindumu tak terbalas rindu? Yakni hanya satu arah saja?

Sesak bukan?

Apa yang kau rasa apabila kau merindu, tetapi semua jenis kesempatan tak ia berikan walaupun hanya sekejap mata?

Sesak bukan?

Ya.. Aku dirundung rindu yang amat rindu. Tetapi, dosaku dan egoisme dalam diri masih menggandrungi diri. Sehingga, Ia menutup pintu pertemuan ampuh.

Di sepertiga malam.

Aku lalai dan penuh dosa, membangkitkan amarah-Nya dan membuat-Nya tak ingin jumpa padaku di sepertiga malam.

Bodohnya, dari jutaan dosa yang kumiliki, aku tak tahu apa yang benar-benar menyebabkan-Nya murka. Atau mungkin karena terlalu banyak… bisa jadi..

Doakan aku, siapa tahu Ia akan mendengar doamu yang memohonkan ampun untukku.

 

Advertisements

Adek dan Hape

Adikku yang pertama baru saja beli hape.

Adikku yang kedua seperti bersedih.

Adikku yang ketiga biasa saja, ia sudah punya hape.

Aku mengajak duduk adikku yang kedua. Di teras rumah, sore hari.

Aku mampu memahami perasaannya yang merasa berbeda dari saudara-saudaranya.

Aku mampu mengetahui bahwa ia bersedih kenapa yang lain bisa ‘memiliki kehidupan lain’.

“Kakakmu itu beli pakai uangnya, ia mau mencoba bisnis.” Terangku dari awal agar ia tak salah paham.

“Apa yang kamu miliki saat ini, adalah yang terbaik dari Allah. Apa yang tidak orang tua kita beri, bukan berarti mereka tidak cinta kepada kita. Lantas lebih mencintai yang lain, tidak.”

“Orang tua pasti memikirkan baik atau tidaknya setiap keputusan untuk anak-anaknya. Siapa tau apabila kita pakai hape, justru yang kita aslinya malas-malasan tambah malas karena sibuk sendiri dengan hape. Yakan.”

“Kebutuhan tiap orang pada hape itu berbeda. Kalau sekedar ingin chat bareng temen-temen grup itu pasti nanti Allah kasih sesuai butuh kita. Tenang aja. Buktinya kamu masih bisa pakai hape ami kan?”

Ia menangis.

“Gak papa. Santai aja kalau kita gak punya hape. Lihat mbak anca, gede segini gak punya hape semenjak hape dicuri kemarin. Tapi mbak anca santai aja. Masih bisa numpang hape ami kan kita?”

“Nanti kalau kita udah menikah, baru pakai hape sepuasnya. Bisa sayang-sayangan dan gak takut keblablasan.”

Ia tertawa dengan sengguk tangis.

 

Anak Kembar?

Aluya

Hai. Cukup lama kita tak bercakap-cakap. Keberadaanmu nun jauh disana dan aku dengan peraturan-peraturan yg mengikat perlahan sudah menjadi kewajaran bagi kita. Malam itu kau menelponku. Kau akan tiba di Indonesia dalam waktu segera. Aku senang, walau kau tak akan mampir kerumahku dalam waktu dekat.

Kau bercerita banyak hal. Dan kau masih saja menguji pemahamanku tentang berbagai hal. Entah agama, pendapat pribadi, dsb. Aku masih saja hanyut dalam renyah tawamu. Sebenarnya aku tidak pede jika bercakap denganmu. Suaramu lembut dan menghanyutkan. Suaraku? Parau, fals, dan.. medok.

Dan di malam ini 10 hari terakhir Ramadhan.. sepertinya aku benar-benar mengganggu ibadah khususmu. Menghujanimu tanda titik sebagai awal percakapan kita. Lalu kau akan bertanya kepadaku, “belum tidur?” Dan berlanjut hingga topik-topik tak menentu.

Di satu malam, aku ingat. Aku memberimu beberapa pernyataan tentang diriku.

Aku tidak cantik seperti adik-adikku. Pun juga tak manis. Kau pernah lihat adik-adik laki-lakiku kan? Mereka tampan. Andai kau melihat 2 adik perempuanku juga, niscaya kau akan mengatakan mereka cantik. Aku adalah sulung yang ikhlas.

Aku tak sebaik yang kau lihat dan orang-orang ceritakan. Jika kau melihat kebaikan-kebaikanku, itu hanyalah cover yang Allah berikan. Allah tutupi aibku.

Kau hanya tertawa. Menjawabku dengan jawaban kocak. Aku terhibur.

Lalu mulai dari malam itu, aku bermunajat dengan hati penuh harap. Agar aku bisa segera menemuimu, bersamamu.

Aluka

2 hari kedepan aku menemani kakakku yang datang ke negeri ini untuk bisnis pribadi. Kami menginap di sebuah hotel. Hotel ini bagus. Dari lantai 9 aku memandang kelip-kelip lampu malam di negeri 9. Tapi aku tahu, kamu lebih suka pantai daripada kelip-kelip ramai kota.

Lusa aku akan kembali ke tanah air. Kembali ke kota Jakarta yang katamu penuh dengan kebisingan, polusi, dan kriminal. Ah, andai saja aku bisa bertemu denganmu. Itu akan menjadi hal pertama yang akan kulakukan (setelah bertemu ibuku pastinya).

Suaramu malam ini berbeda dari biasanya. Bukan tidak medok, kalau medok itu sudah pasti. Tetapi, aku mendengar banyak kebahagiaan dalam setiap katamu. Bahkan aku sempat kendengar bisikan harap yang terselip dalam setiap hurufmu. Lebay, maaf.

Kamu bercerita panjang lebar, mulai dari kegiatan pondok, hal random, dan faedah-faedah yang tak pernah kutemui.

Sambil makan banana split, aku tertawa saat kamu mengatakan bahwa kamu tidak cantik. Sulung yang ikhlas? Hey. Aku bungsu yang ikhlas. Lihat kakak-kakakku, mereka tampan dan cantik. Aku? Tentunya bungsu yang ikhlas. Lalu aku bertanya, kalau yang sisa itu dapet apa? “Ampas” jawabmu dengan datar. Lalu kita tertawa, bersama.

Aluya, kamu tahu. Aku ingin anak-anakku nanti dibesarkan ibu yang cerdas, dan aku tahu itu ada pada dirimu. Setiap dari kita memiliki kekurangan. Dan aku yakin kekuranganku jauh lebih banyak daripada milikmu.

Aluya, apapun yang kamu katakan tentang keburukan dirimu : Saya tetap memilihmu untuk menjadi ibu bagi anak kembar kita nantinya.

pe mi lu bikin ngi lu

Sebenernya tulisan ini saya arahkan menjadi cerita saya sepanjang hari ini tentang pemilu hari ini. Banyak sekali kejadian. Bahkan, tulisan ini sebelumnya udah 6 paragraf panjang berisi opini fakta. Tapi yah, tiba-tiba saja Allah berkehendak untuk mengganti topik tulisan blog kali ini. ctrl+a then.. delete.

Orang yang cerdas adalah orang yang berfikir dahulu sebelum berbicara. Begitulah guru saya Habib Segaf Baharun selalu katakan. Sehingga pasti nilai kesalahannya tak akan sebesar dengan orang ngomong tanpa mikir. Ungkapan ustad langsung terngiang begitu saja melihat fenomena pemilu disekitarku, bahkan di pikiranku. Sungguh.

Pemilu ini mengajarkanku melihat orang yang memiliki perspektif bermacam-macam. Mulai dari yang berfikir ngapain bawa-bawa agama sebagai atribut politik, tipe there’s no good between that two, dan tipe bahwa agama harus dilekatkan dalam setiap sendi kehidupan. Itu terserah mereka untuk memilih yang mana. Kalaupun saya menentang mereka karena tak sejalan dengan paham saya, ya gw bisa apa? Ya geleng-geleng aja. Dan bukan kelas gw untuk menasehati mereka terhadap pilihan mereka.

Asik. Ngelihat timeline rame yang asik-asik positif. Tapi kalo udah yang konten negatif, jujur- gw eneg juga. Gw takut ketawa menghina gw ntar jadi saksi atas keburukanku nanti. Memandang orang lain lebih rendah pun dengan tatapan menghina kata Habib Ali Jufri ‘bagaimana bisa ia memandang Rasulullah di mimpinya dengan mata yang suka menghina?’

Udah gitu aja. Tulisan ini sebenernya mau panjang banget. Tapi ya, itu ajalah. Semoga bisa diambil manfaatnya.

 

((Tulisan ini tak memihak pada kubu manapun))

 

(dot) feel (dot) ing

Aluya.

Bagaimana kabarmu? Tepat 2 bulan tak ada surat yng kuterima. Tak ada kata yang kau sampaikan hingga saat ini kecuali ucapan “Tenang saja.” yang tertransformasikan dalam percakapan rumitmu bersama mereka, bulan dan matahariku.

Bolehkah aku bertanya sekali lagi tentang ada apa dibalik semua ini?

Aku memahami betul konsep makhluk merencanakan sedangkan Penciptalah yang menakdirkan. Makhluk tak ada kuasa tetapi Khaliq lah yang berkuasa.

Tetapi aku juga menganut teori ada udang dibalik batu. Mungkin konotasi ini bukan mengarah pada individu lain,  karena bisa jadi pada amal kita. Amal yang seharusnya tulus persembahan pada Khaliq namun tercemari dengan niatan yang dianggap-Nya kurang menyenangkannya. Bisa jadi.

Tetapi disisi lain aku juga yakin. Bahwa segala masalah yang terhampar adalah bukti cinta-Nya kepada kita. Kitanya saja yang tak mampu menghadapi, tak sabar, mengumpat dengan halus “Tak seharusnya ini terjadi” yang mengarah pada pembangkangan atas kuasa-Nya.

Kuputuskan. Terserah apa yang akan kau lakukan. Aku akan fokus pada ujianku dan kau harus tetap mengajar, dimanapun itu. Asal tidak di ibukota.

 

 

3 Dari Beliau

Pada malam itu, aku berbincang-bincang hangat dengan teman-teman berbalut dingin malam. Awalnya hanya aku dan seorang saja. Namun perlahan menjadi ramai tawa lepas kita yang menarik perhatian. Topik yang diambil pun bermacam-macam, mulai dari masalah kamar, urgensi menjadi seorang qudwah, bahkan bertukar-pikir tentang karakter pribadi yang mana yang harus dikembangkan dan yang dihilangkan. Seru.

“Ya Allah.. Sa.. Akhirnya ane nemuin ente. Ane udah cari ente dimana-mana!” Tiba-tiba ada suara dari arah belakang. Perempuan dengan blouse merah, rok jeans dan pasmina merah. Kak L.

“Hehe, ane kalau gak ada di kamar, di mantiqoh sini kak.” Tentunya jawabku dengan mesem-mesem.

“Ayo cepetan! Kamu dicari ustadzah F dari tadi.”

“Loh, sekarang?”

“Iya! Ayo!” Pantas jika aku harus menanyakan ‘sekarang’, karena saat itu sudah pukul setengah 12 malam.

Mendengar nama ustadzah F saja sudah membuat jantung berdebar lebih dari biasanya. Kami berjalan cepat di gulita langit malam, diantara lampu-lampu hias pondok, diantara sudut-sudut sepi senyap menuju ruangan yang biasa dibuat rapat.

Seraya berjalan, aku menanyakan perihal apa yang akan terjadi padaku?

“Pakai gamis hitam.” Ujar ustadzah singkat kepada kami, 3 orang. Wajah-wajah kami memucat seketika. “Lho, jangan tegang. Biasa aja.” Ustadzah tertawa melihat reaksi kami :/

Setelah menggunakan gamis hitam, kami memasuki rumah seseorang yang memiliki pengaruh besar dengan pondok ini. Disana, betapa bersyukurnya aku bisa bertemu beliau dengan spesial. Beliau bertanya nama kami dan asal kami. Senang sekali rasanya, karena guru di hati murid itu sudah biasa, namun jika murid di hati guru adalah hal luar biasa.

Kemudian beliau memberi kami nasehat dan motivasi untuk selalu memiliki gairah dalam beramal akhirat. Beliau memandang kami bergantian seraya menjelaskan banyak hal tentang kehidupan.

Lalu beliau memberi kami 3 pemberian dengan menjelaskan filosofinya.

Sajadah. “Sebagai sarana kalian dekat dengan Allah.”

Tasbih. “Agar kalian selalu ingat Rasulullah.”

Jam tangan. “Agar kalian terus memanfaatkan waktu dengan kebaikan dan sadar bahwa waktu yang telah terlewat tak akan kembali.”

Sepulang dari rumah beliau, aku yakin dalam setiap hati kami berbisik, “Semoga aku bisa menjalankan amanah ini.”

 

Tentang Sydt. Fatimah – Tentang Kita Esok

Di malam mengenang hari lahirnya, aku mendengar sekapur sirih tentang sosok yang namanya selalu dielukan bumi dan langit. Habib Segaf Baharun dengan ikhlasnya menguntai kata yang begitu dalam dan makna kepada kami. Menyodorkan kepada kisah seorang perempuan yang seharusnya menjadi pelita jiwa di dunia tuk sampai di akhirat.

Sydt. Fatimah Azz-zahra.

Aku belajar sebuah kisah cinta yang indah. Bukan dengan buaian kegombalan dan tipu muslihat setan demi kesenangan semata.

Yang aku harap ini akan menjadi kisah cinta, diantara kita. Esok.

Dimulai dari mahar.

Syd. Ali memberikan mahar berupa baju perang lalu dinominalkan. Yang seharga 400 dirham. 5,6 juta kalau di nominalkan rupiah. Lalu 1/3 di gunakan untuk beli wewangian, 1/3 lain untuk makanan dan 1/3 sisa untuk selimut, kasur, dan bantal. Bukan bantal dakron, tetapi anyaman tanaman yang didalamnya diisi dedaunan kering, agar tak keras. Bukan kasur spring bed, tetapi hamparan ayakan pasir yang lembutnya kita majaskan dengan kelembutan permadani.

Rasulullah mendoakan sydt. Fatimah banyak kali. Mendoakan agar keturunannya menjadi keturunan yang banyak dan baik. Maka, lihatlah di bumi Indonesia ini. Para habaib, cucu Rasulullah dengan akhlak mulianya menghiasi setiap penjuru, menjadi pusat cucuran rahmat tak lain karena didalam dirinya ada darah, ada cahaya dari sang Nabi.

Lalu malam selepas akad nikah.

Terdengar percikan air wudhu, lalu perempuan itu masuk kedalam ruangannya. Syd. Ali menunggu, Sydt. Fatimah menunaikan sholat. Syd. Ali tetap menunggu, tetapi sydt. Fatimah terus menunaikan sholat selepas salam. Sehingga ia bertanya, “Mengapa engkau sholat terus?”. Dengan tersenyum sang perempuan menjawab, “Aku sholat karena aku bersyukur mendapatkanmu.” Ia tersenyum, meluluhkan hati suaminya. Demi keindahan rasa syukur dengan sholat, merekapun menghabiskan malam bersama dengan ibadah khusus umat ayah sang perempuan. Hingga pagi.

Habib Segaf mengatakan, untuk mendapatkan ridho suami, cukupklah dengan akhlak mulia pada suami disertai jiwa mulia dan cinta tulus sebagai pengikat melebihi ikatan sihir.

Di suatu hari.

Sydt. Fatimah pernah melakukan sebuah salah kata mungkin. Menyebabkan kekasihnya merah wajahnya. Sydt. Fatimah takut, ia takut ketidak ridhoan sang suami menyebabkan murka Allah. Ia tahu bahwa surganya ada di tangan suaminya. Lalu ia memutari sang suami berkali-kali meminta maaf, dengan kesungguhan seperti tawaf. Merengek untuk dimaafkan, hingga akhirnya Syd. Ali tersenyum, tertawa karena tingkah istrinya. Ia ridho.

Apakah ada istri yang sebegitunya meminta ridho sang suami di zaman ini? Salah satu kerusakan di bumi ini adalah apabilah istri cuek dengan sebuah kata –ridho-. Sang istri lebih sibuk sendiri dengan dunianya, sibuk dengan ego selangit dibanding memantik perhatian suami.

Lalu pada hari itu.

Tak seperti biasanya sydt. Fatimah memandikan Syd. Hasan dan Syd. Husein dengan air mawar. Ia menyisiri mereka dan menyuruh untuk berziarah ke Baqi. Ia telah merasa bahwa waktu untuk menyusul sang ayah begitu dekat. Ia tak ingin melihat kedua anaknya menyaksikannya disaat hembusan nafas terakhir. Namun sang anak pulang. Ia menyuruh lagi kedua anaknya untuk ziarah ke Raudhah. Berkatalah ia kepada sang suami,

“Wahai Ali, kau adalah cahaya mataku. Jangan lupa, aku mencintaimu.. Berikan ridho dan maafmu.. Jagalah putraku, Hasan dan Husein.”

Tepat setelah itu, kedua buah hati pulang, ia pun memeluknya. Berpesan, “Jangan lawan ayahmu.”

Terasa begitu dekat sekali. Ia memanggil Asma’, berwasiat agar tidak dikuburkan pada siang hari. Ia tak ingin ada yang melihatnya, padahal.. beliau sudah berpindah alam. Ia meminta untuk dibuatkan keranda seperti orang habasyah, yang tertutupi dengan kain. Agar tak ada yang bisa melihat bentuk lekuk tubuhnya, walau ia sudah terbungkus kain kafan….

Sang anak memeluk ibu mereka, “Aku tau ibu akan pergi..” “Begitulah kehidupan nak, ada pertemuan dan perpisahan.”

Bagaimana dengan muslimah saat ini. Sydt. Fatimah adalah pemimpin para wanita di hari akhir nanti. Semua pesannya, adalah komando bagi kita. Semua akhlaknya, adalah cermin permata yang harus selalu kita berkaca dengan itu.

Wajah dan badan adalah amanat. Yang harus selalu ditutup dari ajnabi. Begitu.

Banyak sekali permata yang patut kita contoh.

Sydt. Fatimah, Sydt. Khodijah, Sydt. Aisyah dan lain sebagainya. Tapi kita buta, terbutakan oleh mereka yang di akhir jaman ini lebih memukau sisi dunianya.

Banyak cerita hikmah tinggi yang kita dapatkan dari mereka yg tak akan lekang oleh masa. Tetapi kita lebih memilih kisah cinta sesaat, yang mengedapankan syahwat, ego, dan kesenangan sementara tanpa memperhatikan nilai syariat.

“If jannah is your dream then hold tight your deen.”

Hubaba Umm Zayn bint Al-Habib Ali Al Masyhur ke PONDOK DALWA

Pondok DALWA PUTRI kedatangan tamu agung dari Tarim-Yaman, Hubaba Umm Zayn. Para santriwati sangat antusias dengan kehadiran beliau, mereka mulai memboking tempat dengan menaruh sajadah di musola. Acara pertama adalah pembacaan maulid simthut-durar bersama. Lalu dilanjut dengan mutiara hikmah yang beliau sampaikan.

Beliau memerintahkan kita untuk selalu bersholawat kepada nabi. Karena jika dalam sebuah mejelis disebut nama Nabi Muhammad sollallahu alaihi wasalaam, maka akan ada cahaya yang terpancar ke langit. Dengan selalu menyebut namanya, bisa bertambah takwa hati ini dan jauh dari neraka.

Wanita itu adalah aurat, semuanya. Dari atas sampai bawah, ujar beliau. Allah perintahkan wanita untuk menjulurkan jilbabnya sampai dada, apalagi untuk menutupi muka. Itu hal yang penting. Karena kecantikan wanita dari wajahnya. Imbas dari kecantikan wanita yang dilihat oleh laki-laki bisa menimbulkan fitnah. Beliau juga menekankan dengan nada lantangnya “kedua mata wanita lebih bisa menyihir daripada sihir Harut Marut”

Disamping itu terdengar beberapa kali beliau utarakan perasaan takut dan cemas kepada kami. Saat kami disini menutup aurat dan wajah kami, bagaimana nanti jika saat pulang justru membuka kembali wajah kami pada para ajnaby. Apalagi keluar rumah dengan BERDANDAN. Menggunakan lipstik, eye-shadow, mencukur alis dan lain sebagainya lalu disaksikan para ajnaby, nauudzubillah min dzalik..

Dalam kitab Risalatul Jamiah dalam fasl wudhu, dikatakan bahwa wanita memboleh buka wajahnya dengan dua syarat : Aman dari fitnah dan menghindari make up.

Beliau juga kaget ketika melihat wanita di Indonesia banyak yang membuka auratnya, rambutnya. Beliau bertanya, apakah dia muslimah? Ya. Beliau kaget, bagaimana bisa membuka aurat seperti itu? Padahal nanti azabnya adalah ia masuk neraka dengan ditarik rambut itu. Naudzubillah…

Pun, dikatakan bahwa TIDAK AKAN PERGI SESEORANG KE ASIA TENGGARA KECUALI HANYA DENGAN IMAN YANG KUAT… Lihatlah, ini merupakan kalimat dengan ekspresi makna betapa maksiat begitu mudahnya ditemui, terbentang luas. Semoga Allah menjaga kita dan keluarga kita dari fitnah-fitnah yang merajalela.. Amin

Selain itu beliau menjelaskan banyak hal tentang keistimewaan ulama yaman, siksaaan-siksaan neraka dan fadhilah ilmu.

Di akhir acara, pembacaan doa yang dipimpin oleh Hubaba Khadijah Al-Hinduan lalu dilanjutkan qasidah-qasidah.

Tumpah Ruah

Disini aku belajar, bagaimana menjadi seorang pendakwah yang memiliki hikmah. Tetapi, tidak semudah itu dalam mendapatkan tujuan-tujuan dakwah. Tekanan psikis yang merayapi hati, linangan air mata, cemas yang menyusup, membangun terus dinding-dinding kesabaran.

Ini ujianmu sekarang, inget aja kalau Rasulullah itu disakiti bukan menyakiti, diludahi bukan meludahi, dilempari kotoran bukan yang melempari.

Kalau kamu gak berhasil dalam ujian ini itu ya berarti enggak lulus. Ujiannya ya kamu ulang lagi.

Jangan lupakan kalam hikmah, nduk.

Memang semua ini harus kuhadapi. Aku tak tau kapan manisnya kudapat. Aku berharap, Allah menghitungku sebagai orang yang ikhlas. Aku juga berharap, Allah bersihkan hatiku dari hasad, dengki dan sombong.

Allah jaga lisanku dari adu domba, ghibah dan dusta.

Allah jaga tanganku dari perbuatan keji yang dimurkai.

Allah jaga kakiku dari melangkah pada kemaksiatan dan berdiam pada antara kemaksiatan.

Katanya, tahun kelima di pondok adalah puncak segala masalah yang menguji mental.

Dan benar, ini tahun kelima, 2 aly-ku. Saat aku diuji ekstra pengamalan keikhlasan, pengorbanan, pengabdian dan keilmuan.

Allah menguji lisanku, apakah penuh provokasi kebencian atau kebaikan?

Allah menguji hatiku, penuh dengan nilai sabar atau mementingkan diri sendiri?

Ya, saat ini kamu memang berjuang sendiri ca. Tapi semua itu akan ada hasilnya. Jangan kamu kira apa yang aku dapat sekarang karena tidak ada usahanya… Cobaanku saat 2 aly semester 1 melebihi kamu saat ini. Lihat saja nanti hasilnya, entah 1-2-3 tahun lagi.

Semua ini akan terus teringat dalam memori. Ambil ibrahnya, jadi orang yang mengambil ibrah, bukan yang diambil ibrahnya oleh orang-orang. Jika lisan memang tak mampu lagi, jadilah pengamat bukan pengkritik. Ambil ibrahnya.

Suatu saat nanti, kamu yang akan didatangi orang-orang untuk memberi nasehat karena pengalamanmu. Sebagaimana kamu ke aku ini. Kalau kelas 3 aly, sbegai pengingatmu saja, ujiannya lebih ke hati diri sendiri. Kamu akan lebih banyak pertanyaan kepada dirimu “apakah kamu bisa menjadi orang yang bertakwa disisi Allah? Gimana masa akhirmu belajara nanti? Kelas 3 aly adalah kelas teratas, tetapi harus ingat. Semakin tinggi kelas, semakin banyak pertanggungjawaban.

Aku tahu, Allah sedang menyaksikanku yang bermuram durja kala akhir waktu ini. Mukaku kusut, karena tekanan hati dan pikir tiada habis. Ditambah.. senyum yang sulit melebar seperti biasanya..

Aku tahu, Allah selalu mendengar munajat yang menyeru kepada-Nya di kosong waktu, di sepi tempat.

Aku tahu, Allah tidak ciptakan aku sia-sia.

Aku tahu, nafas ini tidak tercipta hanya untuk kesia-siaan.

Aku tahu, aku tahu.

Allah, beri aku kekuatan untuk terus beribadah kepada-Mu dan menjadi yang selalu Kau sayangi. Jangan kecewakan aku, walaupun aku terlampau sering mengecewakan-mu.. Engkaulah yang Maha Pengampun.

Ampunilah aku, jika bukan kepada-Mu, maka pada siapa lagi ampunan kudapat?

11/18

MENYIKAPI HADIST DHOIF DAN HUKUM HADIST DHOIF

sumber : stocksnap

Banyak dari umat muslim saat ini menganggap bahwa hadist dhoif sebagai hadist yang tak layak disentuh sama sekali. Menolak mentah-mentah tanpa mengetahui maksud dari klasifikasi hadist yang telah ditetapkan para muhaditsin. Penting kiranya bagi umat muslim memahami betul-betul agar tidak terjebak dalam ambiguitas pengambilan dalil untuk amal tertentu.

anyak dari umat muslim saat ini menganggap bahwa hadist dhoif sebagai hadist yang tak layak disentuh sama sekali. Menolak mentah-mentah tanpa mengetahui maksud dari klasifikasi hadist yang telah ditetapkan para muhaditsin. Penting kiranya bagi umat muslim memahami betul-betul agar tidak terjebak dalam ambiguitas pengambilan dalil untuk amal tertentu

Dhoif secara bahasa bermakna lemah, lawan dari kuat. Istilah : hadist yang tidak terkumpul didalamnya sifat-sifat untuk dapat diterima (bersambung sandanya, diriwayatkan dari orang yang adil, terpercaya, tidak syadz, tidak ada cacat yang mampu menciderai hadist tersebut).

Contoh hadist dhoif : Hadist bahwa nabi berwudhu dan mengelap diatas kedua kaos kakinya. Ini dhoif karena diriwayatkan oleh Abi Qoys Al-Awdiy.

Pembagian hadist dhoif : Ulama berbeda pendapat dalam pembagiannya. 81/49/42. Tetapi pembagiaan ini tak ada manfaatnya, sebgaimana dikatakan Ibn Hajar “Pembagian itu melelahkan dan tak ada hajat dibaliknya”. Begitupla yang dikatan Syekh Hasan Al-Misyat dalam kitab Raf-ul Astar “Hal itu melelahkan sekali dan sedikit faedahnya”.

Hukum hadist dhoif :

  1. Tidak boleh diamalkan dalam segi akidah dan hukum
  2. Boleh diamalkan untuk mendapatkan keutamaan, menyemangati dan menakut-nakuti dan penyebutan biografi. Ini sudah merupakan kesepakatan mu’tamad para imam. Ada juga yang berbeda pendapat dalam mengamalkannya dengan memberikan syarat yg disebutkan Al-Hafidz Ibn Hajar : 1. Untuk mendapat fadhilah amal 2. Tidak keterlaluan lemahnya, dan tidak boleh diamalkan bila orang itu benar-benar berdusta dan punya indikasi suka berdusta 3. Harus dibawah naungan dalil asli secara umum 4. Tidak meyakini ketetapan hadist itu saat mengamalkan, namun dengan keyakinan untuk berhati-hati.

Telah dinashkan diterimanya hadist dhoif pada fadhoil (keutamaan) oleh Imam Nawawi dalam kitabnya ‘At-Taqrib’, dan Imam Al-‘Iraqi ‘Syarh Alfiyah’, Ibn Hajar Al-Asqolani ‘Syarh An-Nukhbah’, Syekh Zakaria Al-Anshory ‘Syarh Alfiyah Al ‘Iraqi, Al Hafidz As-Suyuthi ‘At-Tadrib’, Ibn Hajar Al-Makiy ‘Syarh Ala Arbain’, Al-Allamah Al Kanawiy dalam risalahnya ‘Al-Ajwiatul Fadhilah’. Ia menjelaskan dengan penjelasan yang berharga dan Sayyid Al-Imam Al-Walid As-Sayyid Alawi Al-Maliki rahimahullah dalam risalah khusus tentang hukum-hukum hadist dhoif.

Bagi yang melihat hadist dengan sanad yang lemah, hendaknya ia berkata : ‘Hadist itu menjadi dhoif karena sanad itu’ Dan tidak boleh mengatakan : ‘Dhoif matan (isi hadist).

Terhadap hadist yang lemah selain sanadnya, jangan mengakatan ‘Rasulullah berkata’ tetapi ‘diriwayatkan dari beliau…’ / ‘telah sampai pada kami..’ dan sejinisnya dari bentuk shigot tamridh (dengan penggunaan lafadz ‘katanya’.

Tetapi jika menggunakan lafadz tamridh untuk hadist shohih justru membuat hadist itu menjadi jelek.

Dalam hadist yang diriwaytkan Abu As-Syekh Ibn Hayan dalam kitab ‘At-Tsawab’ dari Jabir dan ibn Abdil Bar dari Anas secara marfu’ : Barang siapa yang telah sampai padanya sesuatu dari fadhilah amal lalu ia mengambilnya dengan yakin dan berharap pahala dari itu. Maka Allah akan memberikannya walaupun ternyata tidak (tidak benar ada).

Jadi, boleh saja mengambil fadhilah dari suatu hadist dhoif asal dengan syarat diatas tadi. Dan boleh menggunakan hadist dhoif pada biografi. Bahkan dalam kitab Tahdzib Ibn Hisyam banyak ditemukan riwayat dhoif. Namun itu tak menjadi masalah karena tidak mengapa.

Referensi Kitab : Al-Manhalul Lathif – As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani dan Rof-ul Astar – Syekh Hasan bin Muhammad Al-Misyat.