Santri Punya GELAR?

Di kelas 2 aliyah ini cukup membuat saya pusing. Karena pada akhirnya saya mengambil sebuah keputusan yang mempunyai konsekuensi cukup tinggi. Apa itu? Ya, saya memilih melanjutkan program pascasarjana seraya menyelesaikan program dinniyah di pondok saya tercinta. DALWA.

Programnya pun bukan main-main, Pendidikan Bahasa Arab. Dahulunya saya memakan segala hal berkaitan dengan keuangan, perencanaan keuangan, kehidupan ekonomi dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Kini, tulisan-tulisan arab harus saya kunyah lumat-lumat di siang dan malam hari. Padahal sepagian sudah menari riang bersama font arab di kitab bewarna kuning kunyit maupun putih telur. Allahuakbar.

2 Faktor utama melanjutkan jenjang ini: 

  1. Mengikuti jejak (Ittiba’) Al Habib Segaf Baharun (rektor IAI DALWA dan Mudir Ma’had Putri DALWA)
  2. Ittiba’ Asy Syarifah Fathimah bin Syekh Abu Bakar bin Salim (Istri Mudir Ma’had DALWA Putra-Putri)

Saat ini kita hidup di zaman dimana orang suka melihat casing dibanding komponen dalamnya. Orang lebih percaya kalau yang menasehati mereka adalah profesor-doktor atau semacamnya. Seakan-akan perkataan mereka itu sangat akurat sekali. Ya memang sih, bisa jadi. Karena mereka telah mendalami ilmu-ilmu itu.

Sebenarnya sudah muncul banyak sekali santri yang menjadi mubaligh-dai-penyeru kebaikan. Tapi kembali ke salah satu fakta orang jaman sekarang. Ditanya dulu, gelarnya apa? S berapa?

Guru kami, Habib Segaf Baharun, alhamdulillah dalam usianya yang cukup belia mendapatkan gelar doktor dan dalam proses untuk gelar profesor telah membuktikan bahwa dari kalangan santri memiliki potensi lebih.

Oke, well. Sebenarnya kita para santri tidak menginginkan segala gelar itu. Bagi kami, gelar sebagai santri yang ikhlas dan terhitung menuntut ilmu agama sampai akhir hayat adalah sebuah kecukupan yang amat sangat bagi kami. Tetapi dengan adanya kalam Rasulullah sallallah ailihi wasallam :

بلغو عني ولو أية

Yang artinya : Sampaikan dariku walaupun satu ayat.

Maka dalil ini menjadi sebuah tanggungan bagi seorang santri untuk menyebarluaskan ilmunya. Memberi petunjuk kepada orang-orang untuk kebaikan. Disebutkan juga ancaman-ancaman bagi yang menyembunyikan ilmu seperti akan dilaknat. Lalu dalam kitab Zubad dikatakan bahwa yang tidak mengamalkan ilmunya akan di adzab sebelum penyembah berhala. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang membuat Allah murka. Amin

Nah oleh sebab itu, penting kiranya bagi para santri disamping memperbaiki dan mengembangkan kapabilitasnya sebagi seorang dai untuk mengambil program formal. Setinggi mungkin. Dengan diniatkan untuk syiar agama Islam, insya Allah akan selalu dimudahkan.

39494048_259744458071731_5832521560760124897_n
Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.H.I
Advertisements

PEMUDA: POTRET MASA DEPAN

MUHAMMAD ULIL ALBAB

Bung Karno pernah berkata: “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ini merupakan salah satu bentuk apresiasi Bung Karno kepada para pemuda. Para pemuda memiliki peran besar untuk masa depan bangsa dan agama.

View original post 1,328 more words

Dhaka Kakrail, Burung Gagak dan Cadar (Cerita)

Aluya

Kamu pagi itu bercerita. Suaramu masih serak, nafasmu terdengar berat. Suara batuk sebagai intro dari awal percakapan kita. Kamu flu, tidak enak badan. Kalau aku sebut, masuk angin. ‘Semoga lekas sembuh’ itu yang keluar dari bibirku. Aku juga ingin mengatakan ‘Coba minum tolak angin, it works biasanya’. Tapi tertahan begitu saja.

Seperti biasa saja, pertanyaan basa-basi. Kamu menanyaiku kapan aku pulang dari Bandung? Aku jawab tengah malam. Terus ngapain? Ya aku mandi dan istirahat. Mandi? Kamu terheran. Gak kedinginan? Enggak, itu sudah jadi rutinitasku selama di asrama. Aku sudah biasa mandi jam 2 pagi. Dan mungkin akan terus berlangsung sampai kamu tahu nanti sendiri, aku terbangun dari sampingmu di masa mendatang.

Aku suka tawamu. Padahal baru kemarin melihatmu, tapi kita tidak bertukar kata bahkan senyum apalagi tawa. Pun hanya memandangmu 2 detik, tidak lebih. Sedang waktu yang kita miliki adalah dua jam. Menarik bukan?

Pagi itu kamu bercerita bahwa ibumu mengatakan logat jawaku ternyata tak kentara. Tak ada sama sekali. Padahal selama di asrama akulah yang paling fasih berbahasa  Indonesia dengan aksen Jawa. Aku hanya bilang ‘Wah, padahal aku tidak berkamuflase. Sungguh ‘. Aku tertawa. Kamu tertawa.

Tawaku tak selepas itu. Masih ada satu hal yang harus kuutarakan. Keganjalanku. Aku bercerita bahwa pakaian hitam terkadang membuatku tidak bebas. Semua mata memandangku ketika aku berjalan, dimanapun. Kapanpun. Apakah aku perlu melepasnya?

Aluka

Aku menyukaimu karena kau konsisten dengan pakaian hitam itu. Karena kau mendalami ajaran keyakinan kita, begitu dalam. Memang tak semudah itu untuk mengatakan alasan menyukai seseorang. Tapi begitulah secuil rasa ini yang mampu kudefinisikan.

Kondisiku yang flu saat ini menjadi lebih baikan ketika mendengar suaramu. Aku duduk bersandar diatas sofa coklat ini. Sesekali meneguk teh panas.

Kau ingin melepasnya? Tiba-tiba saja kata-katamu ini mengingatkan kenanganku berada di Dhaka Kakrail, Bangladesh. Tepat setahun sebelum mengenalmu. Tepat setahun aku berdoa penuh harap pada Allah agar aku bisa bertemu denganmu dan mengenalmu lebih jauh. Tepat setahun kamu beberapa kali menolak untuk bertemu denganku, membuatku ingin mundur. Aku melihat banyak sekali burung gagak. Mereka bewarna hitam.

Aku menanyakan kepadamu, apakah kamu belajar kitab bernama Fathul Mu’in? Kamu menjawab iya, tetapi tidak semua terbaca. “Perumpamaan wanita sholihah itu seperti burung gagak yang sayapnya bewarna putih. Unik kan? Semua orang pasti tertarik untuk melihat burung gagak dengan sayap putih. Apakah warna cadarmu? Hitam kan? Memang seperti itu. Dimanapun kamu, kamu akan terlihat mencolok. Semua akan tetap melihatmu. Sudah tertulis di kitab salaf. Tenanglah dan jalani keyakinan ini.”

Lalu kamu menanyakan bagaimana jika cadarnya berwarna? Aku tak sanggup menahan tawaku saat itu. Kamu terlalu banyak memiliki pertanyaan. Aku hanya kembali bertanya ‘Burung gagak itu warnanya apa?’

crow art

Kakrail_Mosque,_Dhaka
Dhaka Kakrail Mosque, sumber klik disini 

Salam readers. Ini tulisan terakhir saya di liburan kali ini. Jadi untuk beberapa bulan, saya akan vacuum internet dan menulis. Mohon maaf jika pada posting-posting saya terdapat kesalahan dan membuat tidak enak hati. Terimakasih atas segala dukungan, komentar, kritik dan hal-hal yang berkaitan dengan kepenulisan disini 🙂

 

Aku dan Wali DALWA Abuya Zein Baharun

17 April 2017

Pelajaran Mustolah Hadist, duduk di shof terdepan.

Aku harus bersyukur sekali karena aku memiliki kesempatan duduk di shof depan. Mengingat saat itu adalah pelajaran Mustolah terakhir di jenjang 3 Tsanawi ini. Jauh hari aku merencanakan bahwa setiap pelajaran harus memiliki ending terbaik, husnul khotimah. Husnul khotimah di kelas 3 Tsanawi.

Belum lagi saat pelajaran Mustolah aku senang karena berkesempatan untuk menjawab pertanyaan abuya walaupun sekedar jawaban “Alhamdulillah” ataupun jawaban singkat tentang materi singkat yg sedang dibahas. Tetapi yang tak akan pernah terlupakan adalah ketika abuya bertanya arti “musytasyrikun” dan hanya aku seorang yg menjawab. Orientalis. Selesai menjawab ada perasaan bahagia yg menggelora, karena aku berharap abuya mendoakanku dalam kebaikan. Dan berada dalam pandangan kewaliannya. Bagaimana tidak wali karena santri nya saja sudah hampir mencapai 10.000. Masya Allah, sudah pasti ia wali besar.

Disela-sela penjelasan, terbesit dalam hatiku.. apa yang bisa kupersembahkan untuk ma’had sehingga beliau mengenalku? Dan bukankah wajar untuk mencari perhatian wali bahkan jika suatu hari menjadi orang yang dekat dengannya? Yakni semua ini karena harapan akan cipratan rahmat-ridho Allah dan keberkahan hidup dan bahagia dunia akhirat.

Mustolah_1

 

Oksigen Sofia Benjamin (Cerpen)

Sofia.

Lulusan sebuah universitas bergengsi di negeri siapa sih yang tidak suka? Semua mengelu-elukannya. Bahkan jika setelah acara wisuda ini ada tradisi yang harus diadakan adalah tidak lain pawai. Mengarak keliling sang wisudawan kemanapun, bisa di daerah kampus saja, atau keluar kampus. Tergantung bagaimana luapan emosi kebahagiaan sang teman-teman dan tentunya yang peduli.

Ia masih mengenakan toga, sibuk dengan ponselnya sedari tadi. Hanya beberapa kali saja mengikuti sesi foto bersama. Setelan kebaya bewarna pink salem, selempang bertuliskan cumlaude  dan parasnya yang menarik hati. Siapapun akan berfikir bahwa dia sudah mendapatkan kesuksesan lebih dari apa yang ia dapatkan hari ini. Keberuntungan.

Benjamin.

Ah sial! Terlambat. Ia melihat waktu di ponselnya dan notifikasi salah satu aplikasi pesan yang sudah berpuluh. Pukul 4 sore. Sedangkan di belahan dunia sebagian Asia pukul 10 pagi. Belahan dunia sebagian Afrika 11 pagi. Lemburnya semalam demi mendapatkan satu hari libur justru membuatnya terlelap lelah pada hari yang ia janjikan. Cepat ia menuju lemari bajunya, memilih setelan yang cocok untuk acara kelulusan. Sambil berfikir lebih baik mandi atau tidak?

Sofia.

Tidak ada yang terlihat tidak bahagia pada hari ini. Ratusan blitz pada pagi ini memberi kesan dalam pada para wisudawan. Berfoto dengan para dosen yang bermurah hati, tidak langsung pulang setelah acara wisuda. Berfoto bersama teman almamater dengan pose-pose gila juga raut kebahagiaan. Juga berfoto bersama kekasih mereka dengan bunga sebagai aksesoris. Duh, seperti acara nikahan saja. Batin Sofia.

Itu lebih baik, daripada hanya Sofia yang menyendiri di lorong tangga auditorium dengan ponselnya. Sesekali ia diminta minggir karena lorong tangga ini memang clickable sekali untuk pengabadian momen. Sesekali diminta untuk memfotokan teman-temannya dan temannya temannya. Dan sesekali diajak berfoto bersama, bukankah suatu kebanggaan memiliki teman lulus dengan predikat cumlaude? Atau mungkin lebih tepatnya akan menjadi gambar yang menarik di aplikasi berbagi foto dan video.

Benjamin.

Entah apa yang harus ia katakan kepada Sofia, keterlambatannya sekali ini benar-benar fatal. Membuat Sofia menunggu lama. Benjamin tahu bahwa Sofia pasti sedang merasa tak nyaman. Perempuan itu membenci keramaian, tetapi ia juga membenci kesendirian. Di pertigaan avenue ia melihat toko bunga yang ramai. Pembeli membawa pulang buket-buket bunga yang indah.

Sofia.

Selalu saja Benjamin seperti ini. Terlambat dalam setiap pertemuan. Pesan suara yang terakhir ia dapat adalah “Hey my cutie pie, aku sedang bersiap-siap. Yah, lebih tepatnya memanaskan sedan tua ini. Tunggu aku dan jangan cemberut. See ya”

Kebiasaan. Sofia selalu dibuat menunggu. Benjamin lelaki yang sudah dua tahun menemaninya secara 24/7. Menemaninya saat Sofia mendapatkan mimpi-mimpi buruk, menyanyikan lagu-lagu kesukaan Sofia walaupun ia sendiri tidak suka pada genre Electro Pop, membantu penelitian Sofia yang sangat sulit. Aku ingin tugas akhirku benar-benar cemerlang, begitulah yang sering ia katakan kepada Benjamin setelah ia memaksa Sofia untuk mengganti topik penelitiannya.

Benjamin.

Benjamin tahu bahwa kesalahannya selalu sama. Membuat Sofia menunggu lama. Kesibukannya dan kejadian yang diluar rencananya selalu merusak. Ingin sekali ia memperbaiki kesalahannya. Pernah Sofia dibuatnya rela bangun terkantuk-kantuk untuk menunggunya pulang dari kerja.

Sofia adalah perempuan tercantik yang pernah ia temui. Sesekali ia melihat matanya yang kosong. Sofia tak memiliki kenangan yang indah. Orang tuanya telah meninggal semenjak ia masih kecil. Kasih sayang kakeknya dan pamannya tentunya tidak mencukupi untuk ruang hati Sofia yang dibutuhkan. Semua orang menyukai Sofia dan ingin berteman dengan Sofia. Tapi sebaliknya, Sofia selalu menarik diri dari kerumunan, dan keramaian. Ia hanya meladeni yang penting saja. Sofia tidak pernah bisa menahan senyumnya ketika memandang wajah Benjamin. Seberapa lama keterlambatan Benjamin, Sofia memaafkan dan menenangkannya dengan senyumnya. Sofia jarang tertawa terbahak-bahak, itu salah satu yang membuatnya selalu menarik bagi Benjamin.

Sofia. 

My cutie pie, aku sudah datang.” Pesan baru masuk. Sofia tersenyum, ia berjalan cepat menuju taman kampusnya. Mencari bangku taman kosong. Melepas toga dan jubah hitam beserta selempang.

Benjamin.

Memotivasinya untuk segera meluluskan program studi pada tahun ini sudah menjadi ritual tersendiri dalam setiap pertemuannya dengan Sofia. Pernah Sofia bertanya, mengapa ia begitu ngotot agar Sofia lulus pada tahun ini. Sampai-sampai ia rela membantu menyelesaikan penelitian yang tergolong rumit. Benjamin hanya tersenyum penuh teka-teki sambil berucap, “Sofia, bukankah kamu mempunyai mimpi? Aku hanya ingin membantumu merealisasikannya. Mimpimu adalah mimpiku, Sofia.”

Benjamin sudah berada di taman. Ia mengenakan jas bewarna abu-abu dengan dasi putih motif garis abu-abu tipis. Satu buket bunga  matahari dan mawar merah muda  ditangannya. Semoga aku tidak kacau hari ini, dan semoga Sofia menyukainya. Benjamin tak henti-hentinya tersenyum membayangkan senyum Sofia dan setelan kebaya yang Sofia ceritakan jauh hari sebelum acara kelulusan, tentunya Sofia tidak memperlihatkan dahulu kepadanya. Kejutan.

Sofia.  

Suasana kampus menjadi begitu ramai. Orang tua dan wisudawan berfoto ria. Sofia tahu bahwa ia tidak akan memiliki foto seperti itu dari jenjang SD. Selalu kakek dan paman. Tetapi tahun ini kakek dan paman sudah mendahuluinya. Sofia benar-benar sendiri.

Sofia tersenyum, menenangkan pikirannya. Membayangkan Benjamin dengan jasnya. Ia jatuh cinta kepada Benjamin, tetapi tak pernah mengungkapkannya. Sulit dan rumit. Begitupula Benjamin, tak pernah sekalipun mengucapkan ‘I love you’ padanya. Benjamin adalah orang ketiga yang berjasa dalam hidupnya setelah kakek dan paman. Ia selalu memberi Sofia banyak hal, pengalaman, perhatian dan semua kebutuhan Sofia walaupun ia tak memintanya.

Benjamin.

Benjamin menelpon Sofia dengan fitur tambahan berupa video live. Ia sudah siap bertemu dengan Sofia.

Sofia.

Suara dering panggilan masuk berbunyi, belum sempat 3 detik ia langsung mengangkatnya. Dari layar hapenya, ia melihat Benjamin dengan jas abu-abunya, lalu menunjukkan buket bunga mawar dan matahari. Cantik. Ia tersenyum. Benjamin mengucapkan selamat atas kelulusannya. Pastinya kata-kata maaf berungkali ia ucap karena membuat Sofia menunggu lama. Sofia mulai bercerita banyak hal. Benjamin mendengarkan dan memberikan komentar-komentarnya.

Pertemuan mereka terjadi seperti biasanya.

Benjamin. 

Setelah lama tidak mendengar suara Sofia membuat hatinya begitu senang. Ia girang bukan main. Dan Sofia terlihat begitu cantik dalam balutan kain pink di kepalanya juga kebaya pink, baju adat negaranya katanya. Sofia bercerita banyak hal lagi seperti biasanya. Banyak cerita yang ia simpan karena Benjamin memang sedang menjalani minggu-minggu yang sibuk. Ia sedang membangun bisnis software sendiri, untuk mimpi yang lebih besar.

“Benjamin, aku sudah mengajukan tiga permintaan kerja di perusahaan ternama disini. Berhubung kamu tidak memberi kabar lagi tentang perusahaan tempat kerjamu apakah menerima lowongan atau tidak. Jadi, ya aku coba saja. Dua dari mereka akan melakukan seleksi wawancara 2 minggu lagi. Semoga aku beruntung.”

“Ohya? Tanggal berapa?” Benjamin kaget mendengar berita ini. 2 Minggu lagi?

“Tanggal 25, hari Kamis.”

Sofia.

Benjamin pernah menjanjikan padaku untuk bekerja di negaranya. Lebih rincinya lagi di perusahaan tempat ia bekerja. Tetapi itu dahulu dan sepertinya Benjamin sudah lupa. Mengambil keputusan untuk mendaftar pekerjaan mau tidak mau harus kulakukan. Asuransi Sofia sudah habis pada tahun esok. Dan ia tidak akan membiarkan Benjamin terus menerus membantuku. Sudah banyak pengorbanan Benjamin.

“Bagaimana dengan ini?” Benjamin mengeluarkan cek transfer. Hingga cek transfer itu memenuhi layar hape Sofia. Terkirim untuk rekening Sofia, dengan jumlah yang tak sedikit.

“Sofia, apakah kau ingat ketika kamu mulai membicarakan mimpimu untuk menghirup oksigen dari negara yang kutempati saat ini? Kukira itu hanya lelucon. Tetapi, semenjak saat itu aku sadar bahwa ternyata aku suka kepadamu, dan lebih dari suka. Frekuensi pertemuan kita menjadi berkurang. Aku sering terlambat bangun dan ketiduran untuk menjawab pesan teksmu. Karena hal ini Sofia. Aku benar-benar ingin kau merasakan oksigen negaraku. Oksigen yang kuhirup saat ini. Sampai akhir hayat kita. Selamanya.”

Benjamin.

Kelulusan Sofia dari perguruan tingginya mungkin adalah momen yang tepat untuk pengakuan ini. Sofia pasti akan kaget. Dan entah ekspresi kaget seperti apa yang ia berikan. Apakah sama seperti beberapa bulan lalu saat ia mengirim novel-novel dari negaranya? Ataukah seperti saat ia mengirim tirai ruang tamunya karena Sofia suka dengan motifnya? Atau mungkin seperti ia mengirim hadiah-hadiah lain?

Tidak. Sofia tidak memberi respon yang sama pada setiap pemberiannya. Saat paket novel itu datang, justru ia memarahi Benjamin. Aku bisa membelinya di amazon atau ebay sehingga kau tidak perlu repot mengeluarkan banyak biaya dan waktumu untuk hal ini, begitu katanya. Dan untuk korden itu, Sofia justru tertawa kecil sulit untuk berhenti. Ia langsung memasang tirai itu dikamarnya, di hadapan Benjamin, di pertemuan biasanya.

Sofia sekarang menangis. Ia benar-benar tak peduli dengan kebersamaan orang-orang disekitarnya. Ia tak peduli orang-orang yang memandangnya heran. Sendiri, tak memiliki teman, sibuk menatap seseorang di layar.

Dengan terpatah-patah ia mengatakan “Terima kasih Benjamin. Aku menerima tawaranmu untuk menghirup oksigen yang sama, bersamamu.”

air balloon

Halo readers. Mohon kritik, saran dan komentarnya. Karena saya benar-benar sedang belajar menulis. Dan menulis cerita itu butuh daya khayal yang tinggi dan daya pikat tersendiri. Semoga saya bisa menulis lebih baik dan lebih baik lagi. Amin. 🙂

Buka Puasa Hari Akhir Ramadhan 1439 H

“Bro bangun. Itu brokatnya kurang banyak, potongin lagi.” Kata Lala dengan nada mencak-mencak.

“Mbak, mbak. Bangun mbak, siap-siap. Udah sore ini.” Akmal, adik saya yang lain mengetuk pintu.

Samar-samar setelah Akmal membangunkan ada sesosok kecil masuk ke kamar biru saya mengenakan koko putih. Ia mulai mencolek pundak saya, “Mbak bangun. Udah pada mau dateng lho. Bangunnn bangunn. Mbak Anca ni cepetan bangun to. Disuruh ami bangun. Huh kenapa sih mbak Anca gak mau bangun.”

“Ya.” Jawab saya singkat. Si Ammar masih menepuk dan mencolek pundak saya. “Jam berapa sekarang? Liatin sana.” Benar-benar mengantuk. “Lho kenapa sih harus lihat jam, gak penting. Lho itu mbak Anca ada jam kok.” Katanya sambil menunjuk jam weker hitam di kasur saya. “Rusak, kecepetan.” Jawab saya lirih. “Ah, mbak Anca tu bangun aja nggak penting liatin jam.” Celoteh Ammar, adek saya yang paling kecil dan yang paling bawel.

Jadi setelah sholat Asar saya membaca sebuah buku, dan blek. Saya terjatuh tidur.

Jam 5 saya langsung bersiap-siap, berganti baju yang pantas karena akan ada tamu mulia. Tidak lain adalah keluarga Tante Lisa. Tante Lisa adalah single parent. Suaminya meninggal setahun yang lalu karena sakit, meninggalkan 4 anak laki-laki yang masih kecil-kecil dan satu bayi perempuan.

Tante Lisa dan Alm. Om Toni adalah teman dekat ami dan abi sejak lama. Mereka saling membantu dalam kesulitan dan saling support dalam banyak hal.

Setelah baca-baca wirid sore, samar-samar abi mulai membaca sebuah kitab terjemahan. Jam 5 lewat 15, mendengar faedah-faedah dan pembacaan hadist. Suara anak-anak kecil mulai riuh diluar rumah. Aya membukakan pagar. DAN YAAA…

Akhirnya datang juga tamu mulia kami ^^

Menjelang buka puasa, kita nonton video bersama di tv. Video anak tante Lisa yang pertama si Ghulam yang mengikuti program pramuka di Gedung Songo yang kebetulan adik saya si Akmal adalah sie dokumentasinya.

Adek-adek Ghulam berseru-seru bahagia, wah itu kakak mi, itu kakak. Jujur saya terharu sekali dan sedih juga bercampur rasa syukur. Terlebih saat saya memangku si bungsu Aisyah. Bersyukur karena masih memiliki orang tua yang lengkap. Dan sedih karena melihat mereka ditinggal oleh sang ayah saat kecil. Ketika melihat mereka, paling tidak selalu ada sebulir atau dua bulir air mata merembes.

Setelah menonton video singkat, abi mulai memimpin doa bersama-sama. Kami mengamini.

Dilanjutkan adzan maghrib berkumandang dan makan-makan. Banyak sekali celoteh-celoteh lucu mereka. Rumah menjadi ramai 3 kali lipat. Apalagi saat si kecil Aisyah berlari ke arah tangga dan mulai menaikinya.

Kelakuan nakal Athar yang sholat sambil membawa mainan, si Asyad yang polos menjawab protes saat Tante Lisa menegur anak-anaknya untuk tidak main di tangga, El Hakim yang anteng tapi makan terus, dan si kakak Ghulam yang selalu menegur adiknya dengan halus untuk tidak membuat kesalahan.

Semoga keluarga Tante Lisa selalu diberikan kemudahan selalu, anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan hafal Al-Quran sebagaimana harapan Om Toni dahulu. Amin.

Dan yang terpenting semoga esok berjumpa dengan Ramadhan, lagi. Walaupun selalu saja (bagi saya) ada yang mengecewakan dalam setiap amal di Ramadhan. Menjadi lebih baik setelah Ramadhan ini dan diberi kenikmatan selalu dalam beribadah. Amin.

Sekalian, Khonsa mau minta maaf atas segala salah Khonsa. Atas segala komentar yang tak berkenan di hati, juga jika posting-posting yang membuat hati tidak sreg bagi siapapun. Mohon maaf lahir dan batin, taqabbalallah minna wa minkum – taqabbal yaa kareem.

 

edit 6
Iya, ini abi saya. Sama si bungsu, Ammar.
edit 12
Nonton bareng video Ghulam. Ghulam pakai baju abu-abu kopiah hitam putih 😀
edit 3
Jadi keluarga kami suka sekali makan bareng-bareng. Gelar sufrah seperti itu 
edit 2
Amin.. Amin…
edit 5
El Hakim, Asyad, Akhtar, Ammar (kanan ke kiri)

 

edit 4
Sholat maghrib berjamaah. Lucu nyaaa x) Semoga esok mereka jadi anak-anak yang sholih. Amin
IMG_0278
Akmal dan Asyad. Si Akmal nih kok pakai jaket di rumah, heran saya.
IMG_0339
Ayo gambar benteng-bentengan!
edit 7
“Pamit dulu ya nak”.. “Tante foto duluuu”><

Tiga Lelaki Egois (Mini Story)

Semua orang senang kepadanya. Dia adalah aktivis suatu organisasi ternama di kota ini. Pendapatnya dihargai oleh orang-orang. Orasinya membuat pendengar semangat dalam mengerjakan kebaikan. Ketika ia berjalan, semua akan menyapanya. Tidak banyak bicara dan tidak banyak bertingkah. Semakin menunjukkan wibawanya. Ia terkenal dengan mendidik anak-anaknya sejak usia belia untuk mencintai rumah ibadah. Anak-anaknya dididik dalam tuntunan agama yang indah secara ketat. Tak dibiarkan satu helai rambut terlihat oleh orang asing. Warna ceria mencolok dalam pakaian pun akan menjadi perhatian penuh. Dia sangat memperhatikan keluarganya.


Menjadi seseorang yang sukses memang tidak semudah diucapkan. Pengorbanan dan usaha keras menjadi kunci utamanya. Tetapi baginya ridho Tuhan yang terpenting. Hanya itu cita-citanya. Segala hal ia lakukan dengan penisbatan yang begitu relijius. Kehidupannya mengalami banyak banting setir, catatan segala pengalamannya menunjukkan kalau ia adalah orang yang berintelegensi. Ucapannya teratur dan membuat orang selalu ingin mendengarkan dan duduk bersamanya. Tidak menggurui dan tidak menjustifikasi.


Kehidupan yang layak adalah keinginan semua orang. Segala hal akan dilakukan demi mencapainya. Keputusan menjadi imigran di negeri yang kaya minyak salah satunya. Menjadi kaum minoritas dengan nihil kemampuan bahasa tempat imigrasi menjadi kendala yang sulit terkadang walaupun ia mahir dalam berbahasa internasional. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungannya bahkan tertarik untuk mengikuti keyakinan yang dianut mayoritas. Berpikir bebas adalah ciri utamanya. Ia akan melakukan hal yang ia sukai. Belajar banyak hal dari bertanya dan bergaul. Paras dan pesonanya akan membuat siapapun yang berbicara dengannya barang sedetik akan terpikat.




Seseorang akan hidup dan berpegang teguh atas apa yang diyakininya. Terkadang ia tak memberi peluang untuk segala perubahan. Menganggap perubahan dan ketidakserasian dalam hidup sebagai ancaman yang memalukan. Memaksa orang disekelilingnya untuk mengikuti pahamnya. Ah tidak semuanya, ada juga yang tidak memaksa tapi meninggalkan efek yang luar biasa pada orang sekitar.




Menikahkan seorang anak bukanlah perkara yang mudah. Terlebih anak perempuan. Seperti yang diketahui, anak perempuan akan dibawa oleh sang suami. Harus mengikuti perintah suami karena taat pada orangtua bukan lagi opsi nomer satu. Sebelum tahap pernikahan adalah tahap pengenalan. Jika kedua pihak telah cocok satu sama lain, tinggal hanya diadakan pertemuan keluarga besar dan tentukan tanggalnya. Begitulah secara teori. Semua ini bisa saja terhambat karena perbedaan. Perbedaan kepentingan organisasi dan misi yang berbeda benar-benar terjadi. Memisahkan dua orang yang sudah seharusnya di jenjang berikutnya. Menyisakan atmosfer dingin dan abai terhadap satu hal, perasaan anak perempuan itu. Menggantungkan segala harap yang pernah terpikir.


Memiliki pasangan hidup adalah hal yang didambakan bagi kebanyakan orang. Terlebih lagi bagi para kaum relijius. Menggenapkan separuh keyakinan mereka, katanya. Tetapi untuk memilikinya tidak semudah mengangankannya. Bagaimana jika keluarga wanita yang sudah diyakininya justru memiliki satu paham yang berbeda? Walaupun bukan hal prinsip, bukankah itu akan sedikit menyulitkan untuk memiliki keluarga yang satu visi dan misi. Mundur perlahan akan sulit dilakukan. Bagaimanapun ia telah memulai. Memikirkan perasaan sang wanita itulah yang memang harus dilakukan. Tetapi dengan perbedaan seperti ini, lebih baik memikirkan kelanjutan studinya. Mengejar segala mimpi tetapi justru memburamkan mimpi seseorang.


Asing di negeri orang. Jauh dari keluarga. Teman-teman dengan beraneka ragam budaya. Menjadi sebuah kesatuan ujian sekaligus kesenangan tersendiri. Ditambah banyak melakukan observasi terhadap lingkungan baru membuat hidup semakin menarik. Mendebat dan melakukan brainwashing kepada siapa saja yang tak sepakat. Menampar keras dengan sikap ‘meninggalkan’ dan acuh kepada orang yang selama ini ia cintai karena perbedaan itu. Lalu kembali lagi dengan segala perubahan demi wanita yang ia cintai. Memaksakan cintanya untuk selalu terbalas. Hanya memberi dua hal menyakitkan, ‘bersamaku dan tunggu aku’.




Tidak ada yang memahami dan tidak ada yang peduli. Semua ingin perasaannya yang diperhatikan. Tidak memperhatikan siapakah yang paling merasakan derita. Tidak ada yang tahu hatinya bergelayut kesedihan dan harap yang telah tertebas oleh ketidakpastian. Tidak ada keseriusan diantara gelombang-gelombang perasaan yang telah mereka berikan. 

Lelaki pertama. Membuatnya tak mampu untuk mengutarakan semua yang ia rasakan. Dengan dalil perbedaan dan ekspektasi keluarga besar dengan satu misi yang sama. Padahal dua tahun yang lalu, ia yang paling bersemangat dalam hubungan serius itu. Ia terjebak dalam paham kepentingan organisasi, mengorbankan perasaan putrinya.

Lelaki kedua. Diam dan diam. Masih mempertahankan perbedaan yang ia miliki. Tetapi ia mentolelir, berjanji tak akan ada doktrin keras dalam kehidupan selanjutnya, jika memang itu akan terjadi. Tetapi diamnya telah menyiksa perasaan sang wanita. Kenapa dalam waktu terakhir tidak ada kelanjutan komunikasi antara dia dan sang ayah? Seakan tidak terjadi apa-apa. Kepergiannya akan menjadi tanda tanya besar atas keseriusannya.

Lelaki ketiga. Mungkin wanita itu benar-benar telah mempengaruhi setiap sisi kehidupannya. Merubah keyakinan lamanya terhadap ajaran yang damai. Mampu menghentikan kebiasaan membakar tembakau demi yang dicintai. Tetapi meminta seorang wanita untuk bertahan dengannya setelah mengetahui segala hal yang terjadi pada wanita itu bukanlah solusi yang tepat. Selalu menjumpainya di berbagai kesempatan, seolah pertemuan itu tak bermasalah. Memaksakan cinta terbalas dan membuat wanita berpura-pura mencintainya demi keabadian keyakinan yang baru saja ia peluk, bukanlah perkara main-main.   

dark-forest-moon-wallpaper-2
sumber gambar klik disini

Cerita ini fiktif bisa dan yang lain juga boleh deh. Kalau ada kesamaan atau agak mirip dengan beberapa bagian kehidupan kalian, semoga bisa ditilik kembali dan diambil ibrah yang sesuai. Juga menjadi dewasa dengan segala hal yang menghadapi kita. Kritik dan masukan you’re very welcome 😉