Aku dan Wali DALWA Abuya Zein Baharun

17 April 2017

Pelajaran Mustolah Hadist, duduk di shof terdepan.

Aku harus bersyukur sekali karena aku memiliki kesempatan duduk di shof depan. Mengingat saat itu adalah pelajaran Mustolah terakhir di jenjang 3 Tsanawi ini. Jauh hari aku merencanakan bahwa setiap pelajaran harus memiliki ending terbaik, husnul khotimah. Husnul khotimah di kelas 3 Tsanawi.

Belum lagi saat pelajaran Mustolah aku senang karena berkesempatan untuk menjawab pertanyaan abuya walaupun sekedar jawaban “Alhamdulillah” ataupun jawaban singkat tentang materi singkat yg sedang dibahas. Tetapi yang tak akan pernah terlupakan adalah ketika abuya bertanya arti “musytasyrikun” dan hanya aku seorang yg menjawab. Orientalis. Selesai menjawab ada perasaan bahagia yg menggelora, karena aku berharap abuya mendoakanku dalam kebaikan. Dan berada dalam pandangan kewaliannya. Bagaimana tidak wali karena santri nya saja sudah hampir mencapai 10.000. Masya Allah, sudah pasti ia wali besar.

Disela-sela penjelasan, terbesit dalam hatiku.. apa yang bisa kupersembahkan untuk ma’had sehingga beliau mengenalku? Dan bukankah wajar untuk mencari perhatian wali bahkan jika suatu hari menjadi orang yang dekat dengannya? Yakni semua ini karena harapan akan cipratan rahmat-ridho Allah dan keberkahan hidup dan bahagia dunia akhirat.

Mustolah_1

 

Advertisements

Oksigen Sofia Benjamin (Cerpen)

Sofia.

Lulusan sebuah universitas bergengsi di negeri siapa sih yang tidak suka? Semua mengelu-elukannya. Bahkan jika setelah acara wisuda ini ada tradisi yang harus diadakan adalah tidak lain pawai. Mengarak keliling sang wisudawan kemanapun, bisa di daerah kampus saja, atau keluar kampus. Tergantung bagaimana luapan emosi kebahagiaan sang teman-teman dan tentunya yang peduli.

Ia masih mengenakan toga, sibuk dengan ponselnya sedari tadi. Hanya beberapa kali saja mengikuti sesi foto bersama. Setelan kebaya bewarna pink salem, selempang bertuliskan cumlaude  dan parasnya yang menarik hati. Siapapun akan berfikir bahwa dia sudah mendapatkan kesuksesan lebih dari apa yang ia dapatkan hari ini. Keberuntungan.

Benjamin.

Ah sial! Terlambat. Ia melihat waktu di ponselnya dan notifikasi salah satu aplikasi pesan yang sudah berpuluh. Pukul 4 sore. Sedangkan di belahan dunia sebagian Asia pukul 10 pagi. Belahan dunia sebagian Afrika 11 pagi. Lemburnya semalam demi mendapatkan satu hari libur justru membuatnya terlelap lelah pada hari yang ia janjikan. Cepat ia menuju lemari bajunya, memilih setelan yang cocok untuk acara kelulusan. Sambil berfikir lebih baik mandi atau tidak?

Sofia.

Tidak ada yang terlihat tidak bahagia pada hari ini. Ratusan blitz pada pagi ini memberi kesan dalam pada para wisudawan. Berfoto dengan para dosen yang bermurah hati, tidak langsung pulang setelah acara wisuda. Berfoto bersama teman almamater dengan pose-pose gila juga raut kebahagiaan. Juga berfoto bersama kekasih mereka dengan bunga sebagai aksesoris. Duh, seperti acara nikahan saja. Batin Sofia.

Itu lebih baik, daripada hanya Sofia yang menyendiri di lorong tangga auditorium dengan ponselnya. Sesekali ia diminta minggir karena lorong tangga ini memang clickable sekali untuk pengabadian momen. Sesekali diminta untuk memfotokan teman-temannya dan temannya temannya. Dan sesekali diajak berfoto bersama, bukankah suatu kebanggaan memiliki teman lulus dengan predikat cumlaude? Atau mungkin lebih tepatnya akan menjadi gambar yang menarik di aplikasi berbagi foto dan video.

Benjamin.

Entah apa yang harus ia katakan kepada Sofia, keterlambatannya sekali ini benar-benar fatal. Membuat Sofia menunggu lama. Benjamin tahu bahwa Sofia pasti sedang merasa tak nyaman. Perempuan itu membenci keramaian, tetapi ia juga membenci kesendirian. Di pertigaan avenue ia melihat toko bunga yang ramai. Pembeli membawa pulang buket-buket bunga yang indah.

Sofia.

Selalu saja Benjamin seperti ini. Terlambat dalam setiap pertemuan. Pesan suara yang terakhir ia dapat adalah “Hey my cutie pie, aku sedang bersiap-siap. Yah, lebih tepatnya memanaskan sedan tua ini. Tunggu aku dan jangan cemberut. See ya”

Kebiasaan. Sofia selalu dibuat menunggu. Benjamin lelaki yang sudah dua tahun menemaninya secara 24/7. Menemaninya saat Sofia mendapatkan mimpi-mimpi buruk, menyanyikan lagu-lagu kesukaan Sofia walaupun ia sendiri tidak suka pada genre Electro Pop, membantu penelitian Sofia yang sangat sulit. Aku ingin tugas akhirku benar-benar cemerlang, begitulah yang sering ia katakan kepada Benjamin setelah ia memaksa Sofia untuk mengganti topik penelitiannya.

Benjamin.

Benjamin tahu bahwa kesalahannya selalu sama. Membuat Sofia menunggu lama. Kesibukannya dan kejadian yang diluar rencananya selalu merusak. Ingin sekali ia memperbaiki kesalahannya. Pernah Sofia dibuatnya rela bangun terkantuk-kantuk untuk menunggunya pulang dari kerja.

Sofia adalah perempuan tercantik yang pernah ia temui. Sesekali ia melihat matanya yang kosong. Sofia tak memiliki kenangan yang indah. Orang tuanya telah meninggal semenjak ia masih kecil. Kasih sayang kakeknya dan pamannya tentunya tidak mencukupi untuk ruang hati Sofia yang dibutuhkan. Semua orang menyukai Sofia dan ingin berteman dengan Sofia. Tapi sebaliknya, Sofia selalu menarik diri dari kerumunan, dan keramaian. Ia hanya meladeni yang penting saja. Sofia tidak pernah bisa menahan senyumnya ketika memandang wajah Benjamin. Seberapa lama keterlambatan Benjamin, Sofia memaafkan dan menenangkannya dengan senyumnya. Sofia jarang tertawa terbahak-bahak, itu salah satu yang membuatnya selalu menarik bagi Benjamin.

Sofia. 

My cutie pie, aku sudah datang.” Pesan baru masuk. Sofia tersenyum, ia berjalan cepat menuju taman kampusnya. Mencari bangku taman kosong. Melepas toga dan jubah hitam beserta selempang.

Benjamin.

Memotivasinya untuk segera meluluskan program studi pada tahun ini sudah menjadi ritual tersendiri dalam setiap pertemuannya dengan Sofia. Pernah Sofia bertanya, mengapa ia begitu ngotot agar Sofia lulus pada tahun ini. Sampai-sampai ia rela membantu menyelesaikan penelitian yang tergolong rumit. Benjamin hanya tersenyum penuh teka-teki sambil berucap, “Sofia, bukankah kamu mempunyai mimpi? Aku hanya ingin membantumu merealisasikannya. Mimpimu adalah mimpiku, Sofia.”

Benjamin sudah berada di taman. Ia mengenakan jas bewarna abu-abu dengan dasi putih motif garis abu-abu tipis. Satu buket bunga  matahari dan mawar merah muda  ditangannya. Semoga aku tidak kacau hari ini, dan semoga Sofia menyukainya. Benjamin tak henti-hentinya tersenyum membayangkan senyum Sofia dan setelan kebaya yang Sofia ceritakan jauh hari sebelum acara kelulusan, tentunya Sofia tidak memperlihatkan dahulu kepadanya. Kejutan.

Sofia.  

Suasana kampus menjadi begitu ramai. Orang tua dan wisudawan berfoto ria. Sofia tahu bahwa ia tidak akan memiliki foto seperti itu dari jenjang SD. Selalu kakek dan paman. Tetapi tahun ini kakek dan paman sudah mendahuluinya. Sofia benar-benar sendiri.

Sofia tersenyum, menenangkan pikirannya. Membayangkan Benjamin dengan jasnya. Ia jatuh cinta kepada Benjamin, tetapi tak pernah mengungkapkannya. Sulit dan rumit. Begitupula Benjamin, tak pernah sekalipun mengucapkan ‘I love you’ padanya. Benjamin adalah orang ketiga yang berjasa dalam hidupnya setelah kakek dan paman. Ia selalu memberi Sofia banyak hal, pengalaman, perhatian dan semua kebutuhan Sofia walaupun ia tak memintanya.

Benjamin.

Benjamin menelpon Sofia dengan fitur tambahan berupa video live. Ia sudah siap bertemu dengan Sofia.

Sofia.

Suara dering panggilan masuk berbunyi, belum sempat 3 detik ia langsung mengangkatnya. Dari layar hapenya, ia melihat Benjamin dengan jas abu-abunya, lalu menunjukkan buket bunga mawar dan matahari. Cantik. Ia tersenyum. Benjamin mengucapkan selamat atas kelulusannya. Pastinya kata-kata maaf berungkali ia ucap karena membuat Sofia menunggu lama. Sofia mulai bercerita banyak hal. Benjamin mendengarkan dan memberikan komentar-komentarnya.

Pertemuan mereka terjadi seperti biasanya.

Benjamin. 

Setelah lama tidak mendengar suara Sofia membuat hatinya begitu senang. Ia girang bukan main. Dan Sofia terlihat begitu cantik dalam balutan kain pink di kepalanya juga kebaya pink, baju adat negaranya katanya. Sofia bercerita banyak hal lagi seperti biasanya. Banyak cerita yang ia simpan karena Benjamin memang sedang menjalani minggu-minggu yang sibuk. Ia sedang membangun bisnis software sendiri, untuk mimpi yang lebih besar.

“Benjamin, aku sudah mengajukan tiga permintaan kerja di perusahaan ternama disini. Berhubung kamu tidak memberi kabar lagi tentang perusahaan tempat kerjamu apakah menerima lowongan atau tidak. Jadi, ya aku coba saja. Dua dari mereka akan melakukan seleksi wawancara 2 minggu lagi. Semoga aku beruntung.”

“Ohya? Tanggal berapa?” Benjamin kaget mendengar berita ini. 2 Minggu lagi?

“Tanggal 25, hari Kamis.”

Sofia.

Benjamin pernah menjanjikan padaku untuk bekerja di negaranya. Lebih rincinya lagi di perusahaan tempat ia bekerja. Tetapi itu dahulu dan sepertinya Benjamin sudah lupa. Mengambil keputusan untuk mendaftar pekerjaan mau tidak mau harus kulakukan. Asuransi Sofia sudah habis pada tahun esok. Dan ia tidak akan membiarkan Benjamin terus menerus membantuku. Sudah banyak pengorbanan Benjamin.

“Bagaimana dengan ini?” Benjamin mengeluarkan cek transfer. Hingga cek transfer itu memenuhi layar hape Sofia. Terkirim untuk rekening Sofia, dengan jumlah yang tak sedikit.

“Sofia, apakah kau ingat ketika kamu mulai membicarakan mimpimu untuk menghirup oksigen dari negara yang kutempati saat ini? Kukira itu hanya lelucon. Tetapi, semenjak saat itu aku sadar bahwa ternyata aku suka kepadamu, dan lebih dari suka. Frekuensi pertemuan kita menjadi berkurang. Aku sering terlambat bangun dan ketiduran untuk menjawab pesan teksmu. Karena hal ini Sofia. Aku benar-benar ingin kau merasakan oksigen negaraku. Oksigen yang kuhirup saat ini. Sampai akhir hayat kita. Selamanya.”

Benjamin.

Kelulusan Sofia dari perguruan tingginya mungkin adalah momen yang tepat untuk pengakuan ini. Sofia pasti akan kaget. Dan entah ekspresi kaget seperti apa yang ia berikan. Apakah sama seperti beberapa bulan lalu saat ia mengirim novel-novel dari negaranya? Ataukah seperti saat ia mengirim tirai ruang tamunya karena Sofia suka dengan motifnya? Atau mungkin seperti ia mengirim hadiah-hadiah lain?

Tidak. Sofia tidak memberi respon yang sama pada setiap pemberiannya. Saat paket novel itu datang, justru ia memarahi Benjamin. Aku bisa membelinya di amazon atau ebay sehingga kau tidak perlu repot mengeluarkan banyak biaya dan waktumu untuk hal ini, begitu katanya. Dan untuk korden itu, Sofia justru tertawa kecil sulit untuk berhenti. Ia langsung memasang tirai itu dikamarnya, di hadapan Benjamin, di pertemuan biasanya.

Sofia sekarang menangis. Ia benar-benar tak peduli dengan kebersamaan orang-orang disekitarnya. Ia tak peduli orang-orang yang memandangnya heran. Sendiri, tak memiliki teman, sibuk menatap seseorang di layar.

Dengan terpatah-patah ia mengatakan “Terima kasih Benjamin. Aku menerima tawaranmu untuk menghirup oksigen yang sama, bersamamu.”

air balloon

Halo readers. Mohon kritik, saran dan komentarnya. Karena saya benar-benar sedang belajar menulis. Dan menulis cerita itu butuh daya khayal yang tinggi dan daya pikat tersendiri. Semoga saya bisa menulis lebih baik dan lebih baik lagi. Amin. 🙂

Buka Puasa Hari Akhir Ramadhan 1439 H

“Bro bangun. Itu brokatnya kurang banyak, potongin lagi.” Kata Lala dengan nada mencak-mencak.

“Mbak, mbak. Bangun mbak, siap-siap. Udah sore ini.” Akmal, adik saya yang lain mengetuk pintu.

Samar-samar setelah Akmal membangunkan ada sesosok kecil masuk ke kamar biru saya mengenakan koko putih. Ia mulai mencolek pundak saya, “Mbak bangun. Udah pada mau dateng lho. Bangunnn bangunn. Mbak Anca ni cepetan bangun to. Disuruh ami bangun. Huh kenapa sih mbak Anca gak mau bangun.”

“Ya.” Jawab saya singkat. Si Ammar masih menepuk dan mencolek pundak saya. “Jam berapa sekarang? Liatin sana.” Benar-benar mengantuk. “Lho kenapa sih harus lihat jam, gak penting. Lho itu mbak Anca ada jam kok.” Katanya sambil menunjuk jam weker hitam di kasur saya. “Rusak, kecepetan.” Jawab saya lirih. “Ah, mbak Anca tu bangun aja nggak penting liatin jam.” Celoteh Ammar, adek saya yang paling kecil dan yang paling bawel.

Jadi setelah sholat Asar saya membaca sebuah buku, dan blek. Saya terjatuh tidur.

Jam 5 saya langsung bersiap-siap, berganti baju yang pantas karena akan ada tamu mulia. Tidak lain adalah keluarga Tante Lisa. Tante Lisa adalah single parent. Suaminya meninggal setahun yang lalu karena sakit, meninggalkan 4 anak laki-laki yang masih kecil-kecil dan satu bayi perempuan.

Tante Lisa dan Alm. Om Toni adalah teman dekat ami dan abi sejak lama. Mereka saling membantu dalam kesulitan dan saling support dalam banyak hal.

Setelah baca-baca wirid sore, samar-samar abi mulai membaca sebuah kitab terjemahan. Jam 5 lewat 15, mendengar faedah-faedah dan pembacaan hadist. Suara anak-anak kecil mulai riuh diluar rumah. Aya membukakan pagar. DAN YAAA…

Akhirnya datang juga tamu mulia kami ^^

Menjelang buka puasa, kita nonton video bersama di tv. Video anak tante Lisa yang pertama si Ghulam yang mengikuti program pramuka di Gedung Songo yang kebetulan adik saya si Akmal adalah sie dokumentasinya.

Adek-adek Ghulam berseru-seru bahagia, wah itu kakak mi, itu kakak. Jujur saya terharu sekali dan sedih juga bercampur rasa syukur. Terlebih saat saya memangku si bungsu Aisyah. Bersyukur karena masih memiliki orang tua yang lengkap. Dan sedih karena melihat mereka ditinggal oleh sang ayah saat kecil. Ketika melihat mereka, paling tidak selalu ada sebulir atau dua bulir air mata merembes.

Setelah menonton video singkat, abi mulai memimpin doa bersama-sama. Kami mengamini.

Dilanjutkan adzan maghrib berkumandang dan makan-makan. Banyak sekali celoteh-celoteh lucu mereka. Rumah menjadi ramai 3 kali lipat. Apalagi saat si kecil Aisyah berlari ke arah tangga dan mulai menaikinya.

Kelakuan nakal Athar yang sholat sambil membawa mainan, si Asyad yang polos menjawab protes saat Tante Lisa menegur anak-anaknya untuk tidak main di tangga, El Hakim yang anteng tapi makan terus, dan si kakak Ghulam yang selalu menegur adiknya dengan halus untuk tidak membuat kesalahan.

Semoga keluarga Tante Lisa selalu diberikan kemudahan selalu, anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan hafal Al-Quran sebagaimana harapan Om Toni dahulu. Amin.

Dan yang terpenting semoga esok berjumpa dengan Ramadhan, lagi. Walaupun selalu saja (bagi saya) ada yang mengecewakan dalam setiap amal di Ramadhan. Menjadi lebih baik setelah Ramadhan ini dan diberi kenikmatan selalu dalam beribadah. Amin.

Sekalian, Khonsa mau minta maaf atas segala salah Khonsa. Atas segala komentar yang tak berkenan di hati, juga jika posting-posting yang membuat hati tidak sreg bagi siapapun. Mohon maaf lahir dan batin, taqabbalallah minna wa minkum – taqabbal yaa kareem.

 

edit 6

Iya, ini abi saya. Sama si bungsu, Ammar.

edit 12

Nonton bareng video Ghulam. Ghulam pakai baju abu-abu kopiah hitam putih 😀

edit 3

Jadi keluarga kami suka sekali makan bareng-bareng. Gelar sufrah seperti itu 

edit 2

Amin.. Amin…

edit 5

El Hakim, Asyad, Akhtar, Ammar (kanan ke kiri)

 

edit 4

Sholat maghrib berjamaah. Lucu nyaaa x) Semoga esok mereka jadi anak-anak yang sholih. Amin

IMG_0278

Akmal dan Asyad. Si Akmal nih kok pakai jaket di rumah, heran saya.

IMG_0339

Ayo gambar benteng-bentengan!

edit 7

“Pamit dulu ya nak”.. “Tante foto duluuu”><

Tiga Lelaki Egois (Mini Story)

Semua orang senang kepadanya. Dia adalah aktivis suatu organisasi ternama di kota ini. Pendapatnya dihargai oleh orang-orang. Orasinya membuat pendengar semangat dalam mengerjakan kebaikan. Ketika ia berjalan, semua akan menyapanya. Tidak banyak bicara dan tidak banyak bertingkah. Semakin menunjukkan wibawanya. Ia terkenal dengan mendidik anak-anaknya sejak usia belia untuk mencintai rumah ibadah. Anak-anaknya dididik dalam tuntunan agama yang indah secara ketat. Tak dibiarkan satu helai rambut terlihat oleh orang asing. Warna ceria mencolok dalam pakaian pun akan menjadi perhatian penuh. Dia sangat memperhatikan keluarganya.


Menjadi seseorang yang sukses memang tidak semudah diucapkan. Pengorbanan dan usaha keras menjadi kunci utamanya. Tetapi baginya ridho Tuhan yang terpenting. Hanya itu cita-citanya. Segala hal ia lakukan dengan penisbatan yang begitu relijius. Kehidupannya mengalami banyak banting setir, catatan segala pengalamannya menunjukkan kalau ia adalah orang yang berintelegensi. Ucapannya teratur dan membuat orang selalu ingin mendengarkan dan duduk bersamanya. Tidak menggurui dan tidak menjustifikasi.


Kehidupan yang layak adalah keinginan semua orang. Segala hal akan dilakukan demi mencapainya. Keputusan menjadi imigran di negeri yang kaya minyak salah satunya. Menjadi kaum minoritas dengan nihil kemampuan bahasa tempat imigrasi menjadi kendala yang sulit terkadang walaupun ia mahir dalam berbahasa internasional. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungannya bahkan tertarik untuk mengikuti keyakinan yang dianut mayoritas. Berpikir bebas adalah ciri utamanya. Ia akan melakukan hal yang ia sukai. Belajar banyak hal dari bertanya dan bergaul. Paras dan pesonanya akan membuat siapapun yang berbicara dengannya barang sedetik akan terpikat.




Seseorang akan hidup dan berpegang teguh atas apa yang diyakininya. Terkadang ia tak memberi peluang untuk segala perubahan. Menganggap perubahan dan ketidakserasian dalam hidup sebagai ancaman yang memalukan. Memaksa orang disekelilingnya untuk mengikuti pahamnya. Ah tidak semuanya, ada juga yang tidak memaksa tapi meninggalkan efek yang luar biasa pada orang sekitar.




Menikahkan seorang anak bukanlah perkara yang mudah. Terlebih anak perempuan. Seperti yang diketahui, anak perempuan akan dibawa oleh sang suami. Harus mengikuti perintah suami karena taat pada orangtua bukan lagi opsi nomer satu. Sebelum tahap pernikahan adalah tahap pengenalan. Jika kedua pihak telah cocok satu sama lain, tinggal hanya diadakan pertemuan keluarga besar dan tentukan tanggalnya. Begitulah secara teori. Semua ini bisa saja terhambat karena perbedaan. Perbedaan kepentingan organisasi dan misi yang berbeda benar-benar terjadi. Memisahkan dua orang yang sudah seharusnya di jenjang berikutnya. Menyisakan atmosfer dingin dan abai terhadap satu hal, perasaan anak perempuan itu. Menggantungkan segala harap yang pernah terpikir.


Memiliki pasangan hidup adalah hal yang didambakan bagi kebanyakan orang. Terlebih lagi bagi para kaum relijius. Menggenapkan separuh keyakinan mereka, katanya. Tetapi untuk memilikinya tidak semudah mengangankannya. Bagaimana jika keluarga wanita yang sudah diyakininya justru memiliki satu paham yang berbeda? Walaupun bukan hal prinsip, bukankah itu akan sedikit menyulitkan untuk memiliki keluarga yang satu visi dan misi. Mundur perlahan akan sulit dilakukan. Bagaimanapun ia telah memulai. Memikirkan perasaan sang wanita itulah yang memang harus dilakukan. Tetapi dengan perbedaan seperti ini, lebih baik memikirkan kelanjutan studinya. Mengejar segala mimpi tetapi justru memburamkan mimpi seseorang.


Asing di negeri orang. Jauh dari keluarga. Teman-teman dengan beraneka ragam budaya. Menjadi sebuah kesatuan ujian sekaligus kesenangan tersendiri. Ditambah banyak melakukan observasi terhadap lingkungan baru membuat hidup semakin menarik. Mendebat dan melakukan brainwashing kepada siapa saja yang tak sepakat. Menampar keras dengan sikap ‘meninggalkan’ dan acuh kepada orang yang selama ini ia cintai karena perbedaan itu. Lalu kembali lagi dengan segala perubahan demi wanita yang ia cintai. Memaksakan cintanya untuk selalu terbalas. Hanya memberi dua hal menyakitkan, ‘bersamaku dan tunggu aku’.




Tidak ada yang memahami dan tidak ada yang peduli. Semua ingin perasaannya yang diperhatikan. Tidak memperhatikan siapakah yang paling merasakan derita. Tidak ada yang tahu hatinya bergelayut kesedihan dan harap yang telah tertebas oleh ketidakpastian. Tidak ada keseriusan diantara gelombang-gelombang perasaan yang telah mereka berikan. 

Lelaki pertama. Membuatnya tak mampu untuk mengutarakan semua yang ia rasakan. Dengan dalil perbedaan dan ekspektasi keluarga besar dengan satu misi yang sama. Padahal dua tahun yang lalu, ia yang paling bersemangat dalam hubungan serius itu. Ia terjebak dalam paham kepentingan organisasi, mengorbankan perasaan putrinya.

Lelaki kedua. Diam dan diam. Masih mempertahankan perbedaan yang ia miliki. Tetapi ia mentolelir, berjanji tak akan ada doktrin keras dalam kehidupan selanjutnya, jika memang itu akan terjadi. Tetapi diamnya telah menyiksa perasaan sang wanita. Kenapa dalam waktu terakhir tidak ada kelanjutan komunikasi antara dia dan sang ayah? Seakan tidak terjadi apa-apa. Kepergiannya akan menjadi tanda tanya besar atas keseriusannya.

Lelaki ketiga. Mungkin wanita itu benar-benar telah mempengaruhi setiap sisi kehidupannya. Merubah keyakinan lamanya terhadap ajaran yang damai. Mampu menghentikan kebiasaan membakar tembakau demi yang dicintai. Tetapi meminta seorang wanita untuk bertahan dengannya setelah mengetahui segala hal yang terjadi pada wanita itu bukanlah solusi yang tepat. Selalu menjumpainya di berbagai kesempatan, seolah pertemuan itu tak bermasalah. Memaksakan cinta terbalas dan membuat wanita berpura-pura mencintainya demi keabadian keyakinan yang baru saja ia peluk, bukanlah perkara main-main.   

dark-forest-moon-wallpaper-2

sumber gambar klik disini

Cerita ini fiktif bisa dan yang lain juga boleh deh. Kalau ada kesamaan atau agak mirip dengan beberapa bagian kehidupan kalian, semoga bisa ditilik kembali dan diambil ibrah yang sesuai. Juga menjadi dewasa dengan segala hal yang menghadapi kita. Kritik dan masukan you’re very welcome 😉

Tiga Darimu (Mini Story)

1.

Pernah dengar cerita bani israil tentang Al-Malika? Belum? Masa? Gini, dahulu ada seorang wanita cantik sekali dan dia itu adalah pelacur. Kalau kita umpamakan sekarang, dia pelacur high class. Harus punya duit banyak dulu baru bisa ‘bersamanya’. Nah suatu hari ada seorang ahli ibadah yang sudah ngumpulin duit banyak buat bersenang-senang dengan si al malika ini. Ketika Al Malika nya lagi siap-siap, si ahli ibadah ini tiba-tiba berkata di depan Al Malika “saya takut kepada Allah”. Ahli ibadah ini langsung lari dan menangis. Bayangin, dia padahal udah niat lho, udah ngumpulin duit banyak. si Al Malika ini penasaran, kok bisa sih ada yg nolak dia. Akhirnya ketemulah rumah si ahli ibadah ini. Diketuk. Di buka pintunya oleh ahli ibadah, kaget, seketika itu meninggal. Seakan-akan Al Malika ini malah jadi malaikat maut ya? Haha. Al malika ini pun akhirnya tanya-tanya sama sodaranya si ahli ibadah ini, orang sholeh juga. Dan meminta untuk dinikahkan. Al malika juga bertaubat. Akhirnya Al Malika menikah sama sodaranya si ahli ibadah ini, dan mereka dikaruniai anak-anak yang sholeh.

2.

Kemarin iseng, ada orang jualan baju celana gitu. Sekitar jarak 20 meter udah mikir saya, kalau dia belok kanan ke arah masjid entar saya bakal beli celananya. Eh ternyata beneran belok kanan. Setelah solat jamaah, terus ngobrol bentar dan akhirnya saya beli celananya. Juga pernah ada jualan ember pukul. Iya, ember pukul yang dipukul-pukul anti pecah itu. akhirnya saya juga mikir kayak kemaren, belok ke masjid bakal saya beli. Eh ternyata dia gak belok ke masjid, tapi akhirnya ke masjid. Dalam hati saya, wah beli embernya juga nih. Hahaha iya,  poinnya apa hayo? Iya. Prasangka.

3.

Iya, insha Allah kalau enggak ke Mekkah ya ke Pakistan. Bismillah, tinggal sponsor aja sama banyakin amalan.

(addition)

Pesan terakhir dariku. Bantu ibu di dapur ya? Bantu masak.


1.

Tidak, aku tidak pernah membaca cerita itu sebelumnya. Cerita-cerita israiliyat memang menarik sekali, tapi aku pernah membaca bahwa untuk tidak terlalu mempercayainya. Kalau tidak salah di kitab Ibn Katsir Al Bidayah Wannihayah. Dan ya, kita bisa selalu ambil hikmah dari setiap cerita. Walaupun keotentikannya masih saja diragukan. Hanya itu yang kupikirkan saat mendengar cerita Al Malika. Juga tawamu yang menyenangkan.

2.

Prasangka dan sedikit kurang kerjaan. Sama halnya kalau aku dan beberapa temanku di pondok. Melantunkan sebait qosidah Ala Yallah Bin Nadhrah sambil meniatkan untuk seseorang di depan kita. Kalau dia menengok, maka dia benar wali Allah dan kami akan menghampirinya lalu meminta doa yang banyak. Haha, lucu bagi kami. Lalu kamu menyeletuk, yasudah nanti saya baca itu ketika ada kamu. Lalu aku hanya bisa memberikan tertawa garing, bingung berucap apa. “Ya, saya tau maksudnya kok”

3.

Oh, jadi kamu akan pergi untuk 3 sampai 4 tahun. Itu adalah hidayah Allah yang luar biasa. Tidak sembarang orang punya keinginan mulia seperti itu, dan juga Allah karuniakan rezeki untuk mendapat kesempatan itu. Semoga Allah selalu luruskan niatmu dan menyukseskan semua mimpi dan harapmu. Walaupun aku…

(addition)

Kamu tahu kelemahan saya.

Hallo readers, ini adalah mini story setelah lama saya tak buat. Mohon masukan dan kritiknya. Terimakasih. Hansa

 

Pandang aku..

Bata-bata keimanan adakah yang menjualnya?

Bangunanku berkali roboh tanda tak kokoh

Duhai dirimu yang menawan tak bertepi

Janganlah malu terhadap diriku yang tak berbudi pekerti

Anggap saja sedikit sholawatku sebagai bukti

Walapun bagimu mungkin tak begitu berarti

Aku mengerti.

IMG_20160829_192236

Menunggu Jawaban Langit

Rasa, gelisah, harap, hati mereka adalah melodi abstrak memenuhi rongga dalam dada

Ritmenya tak teratur terkadang

Terkadang buatmu jatuh menitikkan air mata

Terkadang buatmu tersenyum sepanjang hari

Ketika harap itu terselip, gelisah itu menyertai

Harap menapaki jejak nabi agung bersama

Dengan satu tujuan yang sama

Dalam hatiku tersimpan namamu

Dalam senyumku ada dirimu sebagai alasan

Dalam langkahku ada getar asa yang membersamai

Dalam doaku, ada namamu yang tak berani kuucap

Biarkan kusimpan seorang

Tak kubiarkan sajadah dan tasbih mencuri dengar

 

Kita berpisah karena untuk suatu pertemuan bukan?

 

 

Saatnya Berfikir Ulang

 

Jatah kepulangan pondokku kali ini tidak begitu banyak planning seperti liburan sebelumnya. Yang pasti dilakukan adalah membantu orang tua (tidak perlu disebutkan secara spesifik), pengembangan bahasa inggris maupun jerman dan menjadi penikmat berita-berita terkini. Lebih tepatnya up to date atas segala ketertinggalan segala informasi selama di pondok.

Tema-tema berita yang disuguhkan pun bervariatif, mulai dari kelas nasional seperti pemilu dengan berbagai macam isu yang beranak pinak sampai internasional dengan segala was wis wus Trump dan isu politik negara di timur tengah.

Kali ini aku tidak hendak membahas objek tersebut. Namun kepada, sikap.

Sadar atau tidak, tapi harus diketahui bahwa umat muslim saat ini dalam keadaan yang tidak aman. Tidak aman karena tak ada satu padu. Mereka terpecah belah, mudah tersulut emosi. Satu isu sepele mampu membuat mereka lupa diri. Lupa akan ukhuwah yang harus dijaga.

Aku menuliskan ini lebih tepatnya karena melihat begitu banyak hal yang membuat miris, geleng-geleng kepala, tak paham dengan jalan pikir mereka. Semoga Allah beri mereka hidayah.

Ada beberapa faktor atas semua kejadian ini :

  1. Kurangnya pemahaman agama. Dengan mudahnya mereka menganggap sesuatu yang harus kita bela, sesuatu yang telah mu’tamad oleh ulama justru mereka anggap hina, tidak layak secara humanisme. Hey, siapakah kalian dibanding para mufti dan ulama kaliber?
  2. Menjadikan “orang yang tak mumpuni” pada bidangnya sebagai panutan. Banyak sekali saat ini, orang dengan mudah buat kultwit dengan followers yang banyak, nama yang tenar telah berhasil mencuci otak mereka. Mereka liberalkan, putar balik menuju kebebasan berfikir bahkan beranggapan yang paling parah, semua agama sama. Hey, belajar aqidah gak? Jelas tuhannya beda. Jelas syariat beda. Jelas pembawa pesannya beda.

Sikap yang seharusnya kita ambil dengan tetap mengikuti Al-Qur’an, Sunnah, Qiyas dan Ijma’. Okay, kalau memang mentok sampai kurang bisa memahami 4 hal diatas. Lalu kenapa dengan mudahnya menyerang ulama dengan hinaan yang tak pantas? Menjelek-jelekkan Habib yang notabenenya adalah keturunan Rasulullah. Siapakah kalian?

Belum lagi masih saja ada yang mengkafirkan orang, menganggap segala bentuk variasi ibadah adalah bid’ah tanpa mengetahui kaedah yang masyhur bahwa “Berbeda dalam furu’ (cabang) tak mengapa, namun tak boleh dalam masalah ushul (pokok)”

Oh, c’mon guys. Ini udah jaman akhir. Masih mau diadu domba? Masih saja lebih mengutamakan dunia daripada sekilas baca-baca tentang agama islam? Masih saja mau cuma mau jadi komentator tapi tak ikut serta mendistribusi ide cemerlang dan gerakan nyata?

Ayo mulai ikut pengajian yang jelas-jelas akan bawa kamu pada kebahagiaan dunia akherat. Selektif dalam memilih panutan. Cintailah para ulama. Penuhi malammu dengan tangisan menghariba keselamatan dari fitnah dunia dan kubur pada sepertiga malam akhir.

CG_ej4HUcAEnF4H

Mughrom Qasidah Lyric

 

مُغْرَمْ… قَلْبِيْ بِحُبَّكْ مُغْرَمْ • يَا مُصْطَفَانَا الْمُكَرَّمْ • يَا رَسُوْلَ الله

جَمَالَك مَافِي اثْنَيْنْ          مَا شَافِتْ مِثْلُهْ عَيْنْ

أَسَرْ فُؤَادِيْ • وِ زَادْ وِدَادِيْ • بَدْرِ الدُّجَا يَازيْنْ

أَبْيَضْ حُلْوِ الْخَدِّينْ          يَا وَاسِعَ الْعَيْنَينْ

أَحْلَى ابْتِسَامَهْ • بِأَبْهَى عَلَامَةْ • يَا سَيِّدَ الْكَوْنَينْ

إِمْتَى حَبِيْبِيْ أَرَاكْ   •   وَالْقَاكْ وَافْرَحْ بِنَدَاكْ ؟

طَهَ جُدْ بِنَظْرَةْ إِلَيَّ   •   طَهَ يَا عَظِيْمَ الْجَاهْ ؟

 أَنَا لِعَطْفِكْ حَنِّيتْ          مِنَّكْ نَظْرَةْ تْمَنِّيتْ

مُغْرَمْ صَبَابَةْ • وَ دَمْعِيْ سَحَابَةْ • وَ مِنَ الْبُعَادِ بَكَيتْ

نَوْمِيْ مَا تْهَنِّيتْ          يَا رِيتْ شُوْفَكْ يَا رِيتْ

كَحِّلْ عُيُوْنِيْ • وَ انْسَى شُجُوْنِيْ • بِمَدْحَكْ أَنَا تْدَاوِيتْ

إِمْتَى حَبِيْبِيْ أَرَاكْ   •   وَالْقَاكْ وَافْرَحْ بِنَدَاكْ ؟

طَهَ جُدْ بِنَظْرَةْ إِلَيَّ   •   طَهَ يَا عَظِيْمَ الْجَاهْ ؟

قَلْبِيْ يَا حِبِّيْ عَلِيلْ          وَ لَيْلِيْ عَلَيَّ طَوِيلْ

إِسْمَكْ يَا غَالِيْ • دَايْماً فِي بَالِيْ • مِنْ شَوْقِيْ لَكْ يَا جَمِيلْ

بَصَلِّيْ عَلَيكْ وَ ارْتَاحْ          وَ الْقَى أُنْسِ وَ أفْرَاحْ

تِشْفَى جُرُوْحِيْ • وَ تِتْهَنَّى رُوْحِي • مِنْ بَعْدِ لَيْلِيْ صَبَاحْ

إِمْتَى حَبِيْبِيْ أَرَاكْ   •   وَالْقَاكْ وَافْرَحْ بِنَدَاكْ

طَهَ جُدْ بِنَظْرَةْ إِلَيَّ   •   طَهَ يَا عَظِيْمَ الْجَاهْ

 

Sang Penggamit (Cerpen)

Surau kami sederhana namun indah. Terletak diantara sawah hijau yang terbilah. Surau kami kokoh. Diatas tanah subur ibu pertiwi yang tersohor. Surau kami selalu sejuk. Karena hanya berkerangka tanpa selimut. Naungan yang nyaman apabila hujan tumpah ruah mengguyur. Surau kami terasa nyaman. Membuat perasaan hati yang berteduh menjadi selaras nyata dengan alam. Sungguh betapa istimewa habiskan beberapa detik-detik kehidupan dengan berbagai pelangi kisah di surau ini.

Kakak ustadz kami, kakak ustadz Ridhwan. Setiap memandangnya hati kami tak bisa memungkiri untuk menakjubinya. Wajahnya bersinar dan tiada membosankan walau misal dalam sehari ada 100 pertemuan bersamanya. Usianya masih muda dan suka memakai kopyah seperti para ustadz di pusat desa. Mengajari kami banyak hal, mulai dari membuat layang-layang, bermain teka-teki, hingga bercerita banyak hal dan yang lebih menarik lagi seolah-olah ia mampu menebak  pertanyaan-pertanyaan kami sebelum kami merampungkannya hingga titik.

Namun, tidak seperti yang lain, aku kurang suka bermain dan kegiatan seni rupa. Mendengar kakak ustadz bercerita jauh lebih mengasyikkan dibanding menarik ulur layangan, atau petak umpet dan lainnya. Karena tatkalaia bercerita,darikalimat dan senyumnya tercipta ketenangan dan keteduhan wajahnya membuat hati kami bagai terpercik embun sejuk. Senyumnya yang selalu merekah seperti mawar segar dan gurat-gurat kesabarannya menghadapi pertengkaran kecil kami akan sulit dilupakan dari memori pikiran, semenjak dua tahun yang lalu hingga aku kelas 3 SMP saat ini.

Tak jarang kakak ustadz memberiku tatapan lebih daripada yang lain. Lebih memberiku senyum hangat dan selalu mendahulukan aku dari pada yang lain dalam menjawab quiz, pertanyaan, bahkan belajar.

Teman-teman telah dahulu mendahuluiku pulang ketika langit mulai menebar pesona jingganya.

“Kakak ustadz, Nabilah ada tugas. Tolong koreksi ya kak,” ujarku santai sambil mengetuk-ngetuk pensil. Terlihat kakak ustadz terkaget, seakan suaraku memecahkan lamunannya pada awan cirrus sore dalam duduknya menghadap ke arah barat. Memang kuperhatikan kakak ustadz sering menghadap barat lalu bibirnya lamat mengucapkan sesuatu dengan pelan.

“Kok tugas Nabilah selalu lebih banyak dari yang lain ya?”  Ia memberiku senyum teduh dengan nada yang bermakna pasti ada apa-apanya.

“Kakak ustadz lebih tau kok, kenapa Nabilah bisa banyak tugas.” Tiba-tiba saja itulah kata-kata dari hasil intuisi abstrak dan seharusnya tak pernah kuucapkan. Kurutuki diriku yang kurang mengontrol lisanku. Haduh Nabilah! Lihat apa yang telah kau katakan!!

“Ya Rabb, benarkah itu, Nabilah? Sepertinya kakak tidak tahu. Kakak tidak bisa membaca fikiranmu.” Kakak ustadz tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya  tanda bahwa aku mungkin anak kecil yang aneh sekali. Ya, itulah intepretasi sederhanaku dari geraknya. Ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan menuju tengah surau kami, tempat aku  mengerjakan tugas. Aku tidak tahu apakah kakak ustadz memang paham atau tidak dibalik tugas yang banyak itu. Tetapi, ah lebih baik tak usah membahas ini. Diambillah meja kecil dan duduk di depanku, tangannya mulai sibuk mengoreksi tugas-tugas sekolahku. Dan aku kembali dengan tugasku yang masih banyak.

Beruntunglah angin sore menemani kami. Turut mengisi sore dengan dalam diam bersama. Tak hanya itu, angin sore berhasil membuatku sedikit kerepotan membenarkan kain hijau muda penutup kepalaku yang bergerak kesana kemari.

“Sepertinyaaku seorang mukmin.” Mulai kukeluarkan sekelumitpemikirankudari ceritanya beberapa hari yang lalu tentang salah seorang pemimpin pendahulu pada agama kami yang memiliki firasat selalu benar. Sehingga ketika para sahabatnya bertanya apakah wahyu Nabi turun kembali setelah selesainya pada kurun waktu lalu? Ia hanya menjawab, “Tidak. Ini hanya firasat seorang mukmin”.

Jawaban dari pemimpin itu selalu terpikir dalam benakku dan apakah intuisi-intuisiku menunjukkan bahwa aku benar seorang mukmin?

“Maksud Nabilah?” Kakak ustadz mengangkat kepalanya lalu membenarkan kopyah dan memberi tanda bahwa pekerjaanku betul semua.

“Itu lho kak, cerita kakak tentang salah seorang pemimpin dahulu berhati lembut bahkan para malaikat pun merasa malu kepadanya.” Ucapku gemas dan menggebu-gebu tanda agar kakak ustadz tidak lupa tentang ceritanya sampai-sampai membuat salah seorang temanku ingin mengganti namanya seperti beliau sebakda kakak ustadz berkisah.

“Kalau begitu, Eko ingin ganti nama jadi Utsman sajalah kak! Agar aku punya sifat hebat sepertinya! Menjadi sesosok yang dicinta, rupawan juga dermawan. Nama Eko seperti tak ada artinya dan sering teman-teman memanggil ekor! Huh!” Keluh Eko dengan raut sedih yang disusul gelak tawa dari teman-teman lainnya.

“Ya Rabb, kau masih ingat sekali cerita itu, Nabilah.Itu benar-benar kisah yang indah dari sahabat sang suri tauladan sehingga pantas menjadi salah satu permata agama ini.” Suara kakak ustadz terdengar takjub lalu ia tersenyum lagi hingga hati tak kuasa menahan kesungguhan dari setiap kata yang ia ucapkan. Penasaran dengan jawabanku selanjutnya ia menyambung, “Kalau boleh tahu, memang apa saja firasat Nabilah? Firasat dalam hal apa? Pelajaran? Teman? Atau kakak?”

Aduh, batinku panik, jasad seakan rontok ditanya hal itu. Sekali lagi aku berbicara tanpa dipikir dahulu. Wajahku memucat, takut akan marah kakak ustadz jika aku meneruskan pembicaraan tentang masalah firasat ini.

Beruntungnya kakak ustadz terlihat tenang dan tidak menuntut jawaban dariku. Syukurlah. Dengan duduk berhadapan seperti ini, sekilas kami terlihat seperti kakak adik. Dan memang banyak orang yang mengira seperti itu. Bahkan ayah mengatakan kalau kakak ustadz terlihat cocok sebagai  kakak kandungku suatu hari laluketika ia datang kerumah dihari raya.

Kakak ustadz datang dari kotadanbersekolah agama di sana. Ia sedang tidak ingin melanjutkanjenjanguniversitas katanya pada perkenalan awal kami. Mengabdi pada ummat, begitulah kalimat yang pernah kudengar di sela-sela pembicaraannyadengan kepala desa yang ternyata adalah pamannya. Ia akan mengabdikan diri pada umat dengan berbagi cerita-cerita zaman dahulu kepada anak-anak di setiap sore, meramaikan surau dengan a-ba-ta dan kegiatan lainnya.

“Bil? Mikirin apa? Firasat apa? Sudah paham materi-materi sekolah untuk besok?” Jemari kakak ustadz dijentikkannya ke arahku. Spontan aku tersontak kaget dari lamunan ku.

“Paham kak. Hm, pelajaran-pelajaran itu memang terasa sulit pada awal membaca. Tetapi, sesuai dengan saran kakak, aku tetap membacanya dilain waktu karena keajaiban waktu eh keberkahan waktu berbeda. Dan… Tara! Aku paham sempurna.” Sahutku bersemangat dan secercak rasa bangga di hati telah menuruti perkataan kakak ustadz dan juga karena… berusaha menutupi kecemasan hati yang tiba-tiba menelusup.

“Cerdas. Sungguh kau adalah gadis yang cerdas Nabilah. Tahukah arti namamu dalam bahasa arab, Nabilah?”

“Kakak ustadz pasti sudah mengetahuinya,” tukasku singkat.

“Nabilah Rabbaniah. Cerdas. Yang cerdas itulah artinya. Ayahmu mengharapkan bahwa Nabilah menjadi sesosok berpengetahuan luas dan belajar tak kenal henti. Bukan hanya cerdas namun menjadi yang suka berbagi ilmu lagi mengetahui hukum agama dan dekat dengan Rabbnya.Tidak hanya seperti rahib yang menyendiri dengan bertumpuk-tumpuk bukunya di perpustakaan, namun juga seseorang yang mampu menghadapi persoalan nyata masyarakat.”

“Apakah dengan bersekolah di ibukota? Dengan mempelajari bahasa inggris dan seni berbicara di depan umumkah? Itu yang sering kudengar akhir-akhir ini dirumah. Kata ayah juga, Nabilah harus menjadi pembela kebenaran. Mendengarnya saja, Nabilah sudah merasa ngeri, kak.”

Inilah keluh kesah yang tersimpan rapat menginjak masa berakhir SMP. Ayah akan memasukkanku ke SMA ternama di ibukota. Dalam hitungan bulan itu berarti aku akan merindukan surau kami yang istimewa. Surau yang bila malam menyelimuti, tampak pendar-pendar cahaya kunang-kunang menghiasi dan suara a-ba-ta tanda kami sedang mengaji.

“Apakah Nabilah takut menjadi pembela kebenaran?” Pertanyaan singkatnya membuatku tertunduk diam.

Aku hanya tertunduk, air mataku mulai menggenangi pelupuk. “Hanya saja Nabilah takut tidak seperti …” Ucapanku terpotong oleh kakak ustadz.

“Ah, Nabilah takut tidak bisa meniru sang pembeda? Yang sangat bertanggung jawab hingga bertarung di tengah angin ganas demi mencari unta zakat yang terpisah dari kawanannya? Yang paling keras menegakkan kebenaran? Juga setianya kepada umat dengan menyamar untuk mengirim bantuan gandum pada yang tak mampu di malam gelap nan pekat?”

Anggukan kecil yang mampu kuberikan. Tapi aku tak mampu membagi rasa lain  tentang cemasku bila berpisah dari kakak ustadz. Siapa lagi yang mampu menuturkan kisah-kisah indah dahulu itu nantinya?

Kakak ustadz berdiri berjalan menuju tangga surau. Duduk pada undakan teratas dan mengambil nafas dalam lalu membuangnya. Garis wajahnya seketika ikut bersedih dan seakan memahami bahwa detik-detik bersama ini tak akan berlangsung lama lagi.

Aku menyusul kakak ustadz, duduk disampingnya.

“Nabilah, sungguh Rabb Maha Kuasa. Aku tak pernah menemukan gadis seumuranmu memiliki kecemasan seperti itu.Rasa cemas ituada pada hati-hati mereka yang bersih bening hingga mampu mengurai sebuah warna menjadi warna-warna yang indah. Lalu dengannya ia mampu meluluhkan hati yang keras, membuat rindu para pendengar setia dan menerangi hati-hati yang terlanjur gelap akan dunia.

Rabb kita akan mengumpulkan kita. Kakak juga akan merindukanmu. Ingatlah pesan kakak, jadilah Aisyah yang cerdas memesona pada kisah-kisah kakak. Teruslah cintai dan hormati penuh bakti orang tuamu seperti Fathimah. Dan jadilah Khadijah yang tak pernah membuat suami cemas hingga menjadi kekasih yang selalu terkenang sehidup semati bagi sang Nabi Akhir. Jadikan senarai helai nafasmu hanya untuk sang Rabb. Teruslah menghariba pada Rabb Yang Maha Suci dan tebarlah cinta atas nama Ilahi pada seisi semesta bumi.”

Kata-katanya menggerimiskan hatiku. Membuat lidahku kelu untuk menjawabnya.Aku diam menggenggam kalung berbandul Ka’bah yang beberapa waktu lalu kakak ustadz berikan sebagai hadiah quiz bersoal tentang namaasli Sang Singa Padang Pasir.

Baiklah.Memang ini bukanlah hari terakhir kami untuk bertemu. Tapi setidaknya saat berpisah, jiwa tak akan begitu menghambur rasa.

Surau ini sungguh menjadi saksi bisu akan betapa berharganya waktu dengan penglihatan yang menyaksikan keteduhan karena pancaran keilmuan di wajahnya, pendengaran yang menyimak cerita teladan dahulu dan akal yang memahami lalu tergerak untuk menjadi lebih baik dengan tutur kisah agung dahulu yang menyejarah.

NB: Naskah ini pernah diajukan untuk Lomba Menulis Cerpen Pena Dalwa.