Menunggu Jawaban Langit

Rasa, gelisah, harap, hati mereka adalah melodi abstrak memenuhi rongga dalam dada

Ritmenya tak teratur terkadang

Terkadang buatmu jatuh menitikkan air mata

Terkadang buatmu tersenyum sepanjang hari

Ketika harap itu terselip, gelisah itu menyertai

Harap menapaki jejak nabi agung bersama

Dengan satu tujuan yang sama

Dalam hatiku tersimpan namamu

Dalam senyumku ada dirimu sebagai alasan

Dalam langkahku ada getar asa yang membersamai

Dalam doaku, ada namamu yang tak berani kuucap

Biarkan kusimpan seorang

Tak kubiarkan sajadah dan tasbih mencuri dengar

 

Kita berpisah karena untuk suatu pertemuan bukan?

 

 

Advertisements

Saatnya Berfikir Ulang

 

Jatah kepulangan pondokku kali ini tidak begitu banyak planning seperti liburan sebelumnya. Yang pasti dilakukan adalah membantu orang tua (tidak perlu disebutkan secara spesifik), pengembangan bahasa inggris maupun jerman dan menjadi penikmat berita-berita terkini. Lebih tepatnya up to date atas segala ketertinggalan segala informasi selama di pondok.

Tema-tema berita yang disuguhkan pun bervariatif, mulai dari kelas nasional seperti pemilu dengan berbagai macam isu yang beranak pinak sampai internasional dengan segala was wis wus Trump dan isu politik negara di timur tengah.

Kali ini aku tidak hendak membahas objek tersebut. Namun kepada, sikap.

Sadar atau tidak, tapi harus diketahui bahwa umat muslim saat ini dalam keadaan yang tidak aman. Tidak aman karena tak ada satu padu. Mereka terpecah belah, mudah tersulut emosi. Satu isu sepele mampu membuat mereka lupa diri. Lupa akan ukhuwah yang harus dijaga.

Aku menuliskan ini lebih tepatnya karena melihat begitu banyak hal yang membuat miris, geleng-geleng kepala, tak paham dengan jalan pikir mereka. Semoga Allah beri mereka hidayah.

Ada beberapa faktor atas semua kejadian ini :

  1. Kurangnya pemahaman agama. Dengan mudahnya mereka menganggap sesuatu yang harus kita bela, sesuatu yang telah mu’tamad oleh ulama justru mereka anggap hina, tidak layak secara humanisme. Hey, siapakah kalian dibanding para mufti dan ulama kaliber?
  2. Menjadikan “orang yang tak mumpuni” pada bidangnya sebagai panutan. Banyak sekali saat ini, orang dengan mudah buat kultwit dengan followers yang banyak, nama yang tenar telah berhasil mencuci otak mereka. Mereka liberalkan, putar balik menuju kebebasan berfikir bahkan beranggapan yang paling parah, semua agama sama. Hey, belajar aqidah gak? Jelas tuhannya beda. Jelas syariat beda. Jelas pembawa pesannya beda.

Sikap yang seharusnya kita ambil dengan tetap mengikuti Al-Qur’an, Sunnah, Qiyas dan Ijma’. Okay, kalau memang mentok sampai kurang bisa memahami 4 hal diatas. Lalu kenapa dengan mudahnya menyerang ulama dengan hinaan yang tak pantas? Menjelek-jelekkan Habib yang notabenenya adalah keturunan Rasulullah. Siapakah kalian?

Belum lagi masih saja ada yang mengkafirkan orang, menganggap segala bentuk variasi ibadah adalah bid’ah tanpa mengetahui kaedah yang masyhur bahwa “Berbeda dalam furu’ (cabang) tak mengapa, namun tak boleh dalam masalah ushul (pokok)”

Oh, c’mon guys. Ini udah jaman akhir. Masih mau diadu domba? Masih saja lebih mengutamakan dunia daripada sekilas baca-baca tentang agama islam? Masih saja mau cuma mau jadi komentator tapi tak ikut serta mendistribusi ide cemerlang dan gerakan nyata?

Ayo mulai ikut pengajian yang jelas-jelas akan bawa kamu pada kebahagiaan dunia akherat. Selektif dalam memilih panutan. Cintailah para ulama. Penuhi malammu dengan tangisan menghariba keselamatan dari fitnah dunia dan kubur pada sepertiga malam akhir.

CG_ej4HUcAEnF4H

Mughrom Qasidah Lyric

 

مُغْرَمْ… قَلْبِيْ بِحُبَّكْ مُغْرَمْ • يَا مُصْطَفَانَا الْمُكَرَّمْ • يَا رَسُوْلَ الله

جَمَالَك مَافِي اثْنَيْنْ          مَا شَافِتْ مِثْلُهْ عَيْنْ

أَسَرْ فُؤَادِيْ • وِ زَادْ وِدَادِيْ • بَدْرِ الدُّجَا يَازيْنْ

أَبْيَضْ حُلْوِ الْخَدِّينْ          يَا وَاسِعَ الْعَيْنَينْ

أَحْلَى ابْتِسَامَهْ • بِأَبْهَى عَلَامَةْ • يَا سَيِّدَ الْكَوْنَينْ

إِمْتَى حَبِيْبِيْ أَرَاكْ   •   وَالْقَاكْ وَافْرَحْ بِنَدَاكْ ؟

طَهَ جُدْ بِنَظْرَةْ إِلَيَّ   •   طَهَ يَا عَظِيْمَ الْجَاهْ ؟

 أَنَا لِعَطْفِكْ حَنِّيتْ          مِنَّكْ نَظْرَةْ تْمَنِّيتْ

مُغْرَمْ صَبَابَةْ • وَ دَمْعِيْ سَحَابَةْ • وَ مِنَ الْبُعَادِ بَكَيتْ

نَوْمِيْ مَا تْهَنِّيتْ          يَا رِيتْ شُوْفَكْ يَا رِيتْ

كَحِّلْ عُيُوْنِيْ • وَ انْسَى شُجُوْنِيْ • بِمَدْحَكْ أَنَا تْدَاوِيتْ

إِمْتَى حَبِيْبِيْ أَرَاكْ   •   وَالْقَاكْ وَافْرَحْ بِنَدَاكْ ؟

طَهَ جُدْ بِنَظْرَةْ إِلَيَّ   •   طَهَ يَا عَظِيْمَ الْجَاهْ ؟

قَلْبِيْ يَا حِبِّيْ عَلِيلْ          وَ لَيْلِيْ عَلَيَّ طَوِيلْ

إِسْمَكْ يَا غَالِيْ • دَايْماً فِي بَالِيْ • مِنْ شَوْقِيْ لَكْ يَا جَمِيلْ

بَصَلِّيْ عَلَيكْ وَ ارْتَاحْ          وَ الْقَى أُنْسِ وَ أفْرَاحْ

تِشْفَى جُرُوْحِيْ • وَ تِتْهَنَّى رُوْحِي • مِنْ بَعْدِ لَيْلِيْ صَبَاحْ

إِمْتَى حَبِيْبِيْ أَرَاكْ   •   وَالْقَاكْ وَافْرَحْ بِنَدَاكْ

طَهَ جُدْ بِنَظْرَةْ إِلَيَّ   •   طَهَ يَا عَظِيْمَ الْجَاهْ

 

Sang Penggamit (Cerpen)

Surau kami sederhana namun indah. Terletak diantara sawah hijau yang terbilah. Surau kami kokoh. Diatas tanah subur ibu pertiwi yang tersohor. Surau kami selalu sejuk. Karena hanya berkerangka tanpa selimut. Naungan yang nyaman apabila hujan tumpah ruah mengguyur. Surau kami terasa nyaman. Membuat perasaan hati yang berteduh menjadi selaras nyata dengan alam. Sungguh betapa istimewa habiskan beberapa detik-detik kehidupan dengan berbagai pelangi kisah di surau ini.

Kakak ustadz kami, kakak ustadz Ridhwan. Setiap memandangnya hati kami tak bisa memungkiri untuk menakjubinya. Wajahnya bersinar dan tiada membosankan walau misal dalam sehari ada 100 pertemuan bersamanya. Usianya masih muda dan suka memakai kopyah seperti para ustadz di pusat desa. Mengajari kami banyak hal, mulai dari membuat layang-layang, bermain teka-teki, hingga bercerita banyak hal dan yang lebih menarik lagi seolah-olah ia mampu menebak  pertanyaan-pertanyaan kami sebelum kami merampungkannya hingga titik.

Namun, tidak seperti yang lain, aku kurang suka bermain dan kegiatan seni rupa. Mendengar kakak ustadz bercerita jauh lebih mengasyikkan dibanding menarik ulur layangan, atau petak umpet dan lainnya. Karena tatkalaia bercerita,darikalimat dan senyumnya tercipta ketenangan dan keteduhan wajahnya membuat hati kami bagai terpercik embun sejuk. Senyumnya yang selalu merekah seperti mawar segar dan gurat-gurat kesabarannya menghadapi pertengkaran kecil kami akan sulit dilupakan dari memori pikiran, semenjak dua tahun yang lalu hingga aku kelas 3 SMP saat ini.

Tak jarang kakak ustadz memberiku tatapan lebih daripada yang lain. Lebih memberiku senyum hangat dan selalu mendahulukan aku dari pada yang lain dalam menjawab quiz, pertanyaan, bahkan belajar.

Teman-teman telah dahulu mendahuluiku pulang ketika langit mulai menebar pesona jingganya.

“Kakak ustadz, Nabilah ada tugas. Tolong koreksi ya kak,” ujarku santai sambil mengetuk-ngetuk pensil. Terlihat kakak ustadz terkaget, seakan suaraku memecahkan lamunannya pada awan cirrus sore dalam duduknya menghadap ke arah barat. Memang kuperhatikan kakak ustadz sering menghadap barat lalu bibirnya lamat mengucapkan sesuatu dengan pelan.

“Kok tugas Nabilah selalu lebih banyak dari yang lain ya?”  Ia memberiku senyum teduh dengan nada yang bermakna pasti ada apa-apanya.

“Kakak ustadz lebih tau kok, kenapa Nabilah bisa banyak tugas.” Tiba-tiba saja itulah kata-kata dari hasil intuisi abstrak dan seharusnya tak pernah kuucapkan. Kurutuki diriku yang kurang mengontrol lisanku. Haduh Nabilah! Lihat apa yang telah kau katakan!!

“Ya Rabb, benarkah itu, Nabilah? Sepertinya kakak tidak tahu. Kakak tidak bisa membaca fikiranmu.” Kakak ustadz tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya  tanda bahwa aku mungkin anak kecil yang aneh sekali. Ya, itulah intepretasi sederhanaku dari geraknya. Ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan menuju tengah surau kami, tempat aku  mengerjakan tugas. Aku tidak tahu apakah kakak ustadz memang paham atau tidak dibalik tugas yang banyak itu. Tetapi, ah lebih baik tak usah membahas ini. Diambillah meja kecil dan duduk di depanku, tangannya mulai sibuk mengoreksi tugas-tugas sekolahku. Dan aku kembali dengan tugasku yang masih banyak.

Beruntunglah angin sore menemani kami. Turut mengisi sore dengan dalam diam bersama. Tak hanya itu, angin sore berhasil membuatku sedikit kerepotan membenarkan kain hijau muda penutup kepalaku yang bergerak kesana kemari.

“Sepertinyaaku seorang mukmin.” Mulai kukeluarkan sekelumitpemikirankudari ceritanya beberapa hari yang lalu tentang salah seorang pemimpin pendahulu pada agama kami yang memiliki firasat selalu benar. Sehingga ketika para sahabatnya bertanya apakah wahyu Nabi turun kembali setelah selesainya pada kurun waktu lalu? Ia hanya menjawab, “Tidak. Ini hanya firasat seorang mukmin”.

Jawaban dari pemimpin itu selalu terpikir dalam benakku dan apakah intuisi-intuisiku menunjukkan bahwa aku benar seorang mukmin?

“Maksud Nabilah?” Kakak ustadz mengangkat kepalanya lalu membenarkan kopyah dan memberi tanda bahwa pekerjaanku betul semua.

“Itu lho kak, cerita kakak tentang salah seorang pemimpin dahulu berhati lembut bahkan para malaikat pun merasa malu kepadanya.” Ucapku gemas dan menggebu-gebu tanda agar kakak ustadz tidak lupa tentang ceritanya sampai-sampai membuat salah seorang temanku ingin mengganti namanya seperti beliau sebakda kakak ustadz berkisah.

“Kalau begitu, Eko ingin ganti nama jadi Utsman sajalah kak! Agar aku punya sifat hebat sepertinya! Menjadi sesosok yang dicinta, rupawan juga dermawan. Nama Eko seperti tak ada artinya dan sering teman-teman memanggil ekor! Huh!” Keluh Eko dengan raut sedih yang disusul gelak tawa dari teman-teman lainnya.

“Ya Rabb, kau masih ingat sekali cerita itu, Nabilah.Itu benar-benar kisah yang indah dari sahabat sang suri tauladan sehingga pantas menjadi salah satu permata agama ini.” Suara kakak ustadz terdengar takjub lalu ia tersenyum lagi hingga hati tak kuasa menahan kesungguhan dari setiap kata yang ia ucapkan. Penasaran dengan jawabanku selanjutnya ia menyambung, “Kalau boleh tahu, memang apa saja firasat Nabilah? Firasat dalam hal apa? Pelajaran? Teman? Atau kakak?”

Aduh, batinku panik, jasad seakan rontok ditanya hal itu. Sekali lagi aku berbicara tanpa dipikir dahulu. Wajahku memucat, takut akan marah kakak ustadz jika aku meneruskan pembicaraan tentang masalah firasat ini.

Beruntungnya kakak ustadz terlihat tenang dan tidak menuntut jawaban dariku. Syukurlah. Dengan duduk berhadapan seperti ini, sekilas kami terlihat seperti kakak adik. Dan memang banyak orang yang mengira seperti itu. Bahkan ayah mengatakan kalau kakak ustadz terlihat cocok sebagai  kakak kandungku suatu hari laluketika ia datang kerumah dihari raya.

Kakak ustadz datang dari kotadanbersekolah agama di sana. Ia sedang tidak ingin melanjutkanjenjanguniversitas katanya pada perkenalan awal kami. Mengabdi pada ummat, begitulah kalimat yang pernah kudengar di sela-sela pembicaraannyadengan kepala desa yang ternyata adalah pamannya. Ia akan mengabdikan diri pada umat dengan berbagi cerita-cerita zaman dahulu kepada anak-anak di setiap sore, meramaikan surau dengan a-ba-ta dan kegiatan lainnya.

“Bil? Mikirin apa? Firasat apa? Sudah paham materi-materi sekolah untuk besok?” Jemari kakak ustadz dijentikkannya ke arahku. Spontan aku tersontak kaget dari lamunan ku.

“Paham kak. Hm, pelajaran-pelajaran itu memang terasa sulit pada awal membaca. Tetapi, sesuai dengan saran kakak, aku tetap membacanya dilain waktu karena keajaiban waktu eh keberkahan waktu berbeda. Dan… Tara! Aku paham sempurna.” Sahutku bersemangat dan secercak rasa bangga di hati telah menuruti perkataan kakak ustadz dan juga karena… berusaha menutupi kecemasan hati yang tiba-tiba menelusup.

“Cerdas. Sungguh kau adalah gadis yang cerdas Nabilah. Tahukah arti namamu dalam bahasa arab, Nabilah?”

“Kakak ustadz pasti sudah mengetahuinya,” tukasku singkat.

“Nabilah Rabbaniah. Cerdas. Yang cerdas itulah artinya. Ayahmu mengharapkan bahwa Nabilah menjadi sesosok berpengetahuan luas dan belajar tak kenal henti. Bukan hanya cerdas namun menjadi yang suka berbagi ilmu lagi mengetahui hukum agama dan dekat dengan Rabbnya.Tidak hanya seperti rahib yang menyendiri dengan bertumpuk-tumpuk bukunya di perpustakaan, namun juga seseorang yang mampu menghadapi persoalan nyata masyarakat.”

“Apakah dengan bersekolah di ibukota? Dengan mempelajari bahasa inggris dan seni berbicara di depan umumkah? Itu yang sering kudengar akhir-akhir ini dirumah. Kata ayah juga, Nabilah harus menjadi pembela kebenaran. Mendengarnya saja, Nabilah sudah merasa ngeri, kak.”

Inilah keluh kesah yang tersimpan rapat menginjak masa berakhir SMP. Ayah akan memasukkanku ke SMA ternama di ibukota. Dalam hitungan bulan itu berarti aku akan merindukan surau kami yang istimewa. Surau yang bila malam menyelimuti, tampak pendar-pendar cahaya kunang-kunang menghiasi dan suara a-ba-ta tanda kami sedang mengaji.

“Apakah Nabilah takut menjadi pembela kebenaran?” Pertanyaan singkatnya membuatku tertunduk diam.

Aku hanya tertunduk, air mataku mulai menggenangi pelupuk. “Hanya saja Nabilah takut tidak seperti …” Ucapanku terpotong oleh kakak ustadz.

“Ah, Nabilah takut tidak bisa meniru sang pembeda? Yang sangat bertanggung jawab hingga bertarung di tengah angin ganas demi mencari unta zakat yang terpisah dari kawanannya? Yang paling keras menegakkan kebenaran? Juga setianya kepada umat dengan menyamar untuk mengirim bantuan gandum pada yang tak mampu di malam gelap nan pekat?”

Anggukan kecil yang mampu kuberikan. Tapi aku tak mampu membagi rasa lain  tentang cemasku bila berpisah dari kakak ustadz. Siapa lagi yang mampu menuturkan kisah-kisah indah dahulu itu nantinya?

Kakak ustadz berdiri berjalan menuju tangga surau. Duduk pada undakan teratas dan mengambil nafas dalam lalu membuangnya. Garis wajahnya seketika ikut bersedih dan seakan memahami bahwa detik-detik bersama ini tak akan berlangsung lama lagi.

Aku menyusul kakak ustadz, duduk disampingnya.

“Nabilah, sungguh Rabb Maha Kuasa. Aku tak pernah menemukan gadis seumuranmu memiliki kecemasan seperti itu.Rasa cemas ituada pada hati-hati mereka yang bersih bening hingga mampu mengurai sebuah warna menjadi warna-warna yang indah. Lalu dengannya ia mampu meluluhkan hati yang keras, membuat rindu para pendengar setia dan menerangi hati-hati yang terlanjur gelap akan dunia.

Rabb kita akan mengumpulkan kita. Kakak juga akan merindukanmu. Ingatlah pesan kakak, jadilah Aisyah yang cerdas memesona pada kisah-kisah kakak. Teruslah cintai dan hormati penuh bakti orang tuamu seperti Fathimah. Dan jadilah Khadijah yang tak pernah membuat suami cemas hingga menjadi kekasih yang selalu terkenang sehidup semati bagi sang Nabi Akhir. Jadikan senarai helai nafasmu hanya untuk sang Rabb. Teruslah menghariba pada Rabb Yang Maha Suci dan tebarlah cinta atas nama Ilahi pada seisi semesta bumi.”

Kata-katanya menggerimiskan hatiku. Membuat lidahku kelu untuk menjawabnya.Aku diam menggenggam kalung berbandul Ka’bah yang beberapa waktu lalu kakak ustadz berikan sebagai hadiah quiz bersoal tentang namaasli Sang Singa Padang Pasir.

Baiklah.Memang ini bukanlah hari terakhir kami untuk bertemu. Tapi setidaknya saat berpisah, jiwa tak akan begitu menghambur rasa.

Surau ini sungguh menjadi saksi bisu akan betapa berharganya waktu dengan penglihatan yang menyaksikan keteduhan karena pancaran keilmuan di wajahnya, pendengaran yang menyimak cerita teladan dahulu dan akal yang memahami lalu tergerak untuk menjadi lebih baik dengan tutur kisah agung dahulu yang menyejarah.

NB: Naskah ini pernah diajukan untuk Lomba Menulis Cerpen Pena Dalwa.

5 Pertanyaan Luar Biasa

  1. Khonsa, aku jarang banget liat kamu upload foto? Maksudnya, anak-anak kuliah jaman sekarang itu kan modelnya “what now, pic now”.

    Pertanyaan ini membuatku sedikit terkikik dan geleng-geleng kepala. Bagiku, sebuah foto memang adalah salah satu pengabadian momen terbaik yang kita miliki. Namun, untuk memajangnya atau tidak, membiarkan orang mengetahui detail hidup setiap jam-detik adalah pilihan tersendiri. Bagiku, memajang foto terlihat indah, terkesan indah. Namun secara subjektif, aku memang kurang sreg. Kurang pantas saja bagiku, seorang perempuan membiarkan foto segala tiny detail tersebar luas. Guruku, murabbiku, Al Habib Segaf Baharun selalu menekankan pada kami bahwa beliau menjaga kami ibarat sebuah permata. Sudah dijaga baik-baik di pondok, justru saat di rumah malah “mengkhianati” beliau. Singkat saja.

  2. Kuliah nya Khonsa itu modelnya kayak gimana? Juga ada kegiatan luar atau tidak?

    Kuliahku sama seperti kalian yang kuliah di luar. Bedanya ya lokasi saja, jadi satu dengan pondok, tidak perlu keluar gerbang utama. Bahkan ada jemputan kuliah, kalau lagi tidur dibangunin, hehe. Juga, kami memiliki dress-code tersendiri. Abaya hitam dan cadar (jika dosen laki-laki). Kerudung boleh warna-warni. Untuk seminar dan lomba di luar itu memang lebih ditekankan pada mahasiswa daripada mahasiswi. Tetapi untuk seminar selalu diadakan dalam setiap 2 bulan atau 3 bulan. Lebih menariknya lagi, guru-guru kami mingguan kami tidak hanya dari Indonesia saja, tetapi dari Suria dan Yaman. Alhamdulillah, semua dilakukan oleh pengurus pondok agar perempuan tidak perlu keluar dari pondok. Ibaratnya, cukup dengan memanggil tak perlu repot-repot keluar. “Fitnah diluar begitu besar” begitulah, ucap Al Habib Segaf Baharun.

  3. Setelah lulus kuliah, mau kerja?

    Untuk saat ini tidak memikirkan pekerjaan sama sekali. Aku harus menyelesaikan program belajar pondokku selama 2 tahun lagi. Semua harus tuntas. Kata ammi sih, “lulus kuliah langsung berhenti mondok, mau jadi apa?”. Banyak teman yang memilih berhenti pondok setelah lulus kuliah. Bagiku, melanjutkan program pondok sampai selesai itu adalah salah satu bentuk terima kasihku kepada orang tuaku dan pengabdianku kepada pondok yang telah berjasa dalam segala hal yang telah kudapatkan secara bathiniyyah, seperti pembentukan karakter, ilmu yang dalam dan bermacam-macam.

  4. Apa definisi kebahagian menurutmu? Sebagian orang pasti menilaimu sebagai seseorang yang terpenjara oleh pengetahuannya, tak memiliki kebebasan seperti berpakaian, berkomunikasi dan lain-lain.

    Kebahagiaan bagiku memiliki level tersendiri. Seperti pertanyaan kita dijawab oleh seorang ulama besar dari Makkah, Madina, Yaman, Suria sudah sebuah kebahagiaan besar bagiku. Belum lagi ketika dipuji memiliki pertanyaan yang bagus, lalu didoakan oleh mereka. Bahkan, hal-hal kecil di pondok selalu berhasil membuatku bahagia, seperti mendapat shof awal pelajaran Habib atau Syekh. Banyak sekali kebahagiaan yang tidak bisa disamakan dengan mereka yang sekolah diluar. Karena secara pengetahuan akan makna yang ada di pondok, tak akan mudah dipahami oleh mereka.

  5. Ada nggak pesan buat teman-teman yang tidak mengenyam pendidikan pondok?

    Khonsa, sebagai orang yang pernah mengalami masa-masa di luar pondok dan di dalam pondok. Merasakan perbedaan akan pemahaman seseorang terhadap dunia. Semakin banyak kita diluar, berkelut dengan dunia, maka akan lupa bahwa dunia ini hanyalah tumpangan sementara. Walaupun kalau ditanya pasti masih ingat, secara hakikat bisa-bisa mulai terkikis rasa ingin tahu tentang agama. Tetaplah kejar akhiratmu dengan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya, dan sejauh-jauhnya.

Bonus foto :

IMG_7393

Gerbang Pertama Pondok Putri DALWA Banat

Panah Harapan

images (1)

Ini terlalu pagi untuk menuliskan beberapa detil perasaan. Karena ini adalah waktu antara hamba dan Tuhannya dimana tak ada lagi hijab. Ketika Tuhan berfirman dalam qudsi-Nya tentang waktu ini : Adakah yang meminta akan kuberi, Adakah yang berdoa akan kuijabahi, Adakah yang mohon ampun akan kuampuni.

Tetapi ini terlalu terlambat untuk menulis ini. Karena hatinya sedang tak menentu rasanya mulai dari jauh hari.

“Aluya! Sudah malam. Besok pagi temani mama untuk antar beberapa kue. Ayo tidur. Jangan telat bangun.”

Begitulah malam Aluya. Ia segera matikan telepon percakapan kami. Yang tentunya diawasi oleh mama. Hingga malam ini Aluya bangun memanggil seruan Tuhan Yang Maha Pemurah. Pelan ia ungkapkan hatinya kepada sang Khaliq.

Allah, Engkau telah tumbuhkan rasa nyaman pada diriku tentangnya. Harap saat gelap malam mulai bergumul. Rindu saat jarak dan kondisi menjadi penghalang kami.

Ah, Allah. Beginikah rasanya menyukai seseorang yang memiliki perasaan yang sama terhadap kita? Yang memiliki harap pada kita? Bukankah Engkau tahu ya Allah bahwa selama 23 tahun hidup tak pernah kudapati ihwal ini.

Ya Allah, sebagaimana aku juga manusia. Aku punya harap untuk merenda titian surga dengan amal soleh bersamanya. Karena aku tahu ia tahu jalan-jalan menuju surga. Juga kedekatannya dengan-Mu, wahai Pemilik Sekalian Alam.

Aku ingin ia membantuku dalam merangkai bersama hijaiyah cinta menuju Engkau, Dzat Yang Indah lagi Kekal.

Aha hay, Allah. Aku harap ada hari itu. Hari saat kami jalani kehidupan bersama ini karena-Mu. Bukankah itu indah melaksanakan ketaatan dengan kekuatan jamaah terlebih bersama yang dicintai?

Dan satu waktu nanti aku menyentuh bibirnya sambil berucap, “luka dibibir mu ini tak ada apa-apanya dibanding luka hidupku jika aku menolakmu.”

Sementara di alam lain, “Ya Allah. Sungguh, ijabahilah doanya. Bukankah Engkau sesuai dengan prasangka hamba-Mu? Kami mengamini doanya karena ia berdoa ingin dapatkan seseorang yang telah penduduk langit cintai.”

Maka yakinilah perkataan imam syafi’i. Doa di sepertiga malam bagai panah yang melesat tepat pada sasaran. Bukan saat itu juga terkena sasaran langsung. Tapi ini masih memiliki jarak. Bukan saat ini. Tapi esok, tergantung keyakinan dan amal seberapa cepat kekuatan panah doa itu melesat.

 

 

Syawal yang masih harum Ramadhan, 1438 H

Hansa

MENYIKAPI KASUS HABIB RIZIEQ BIN HUSEIN SYIHAB

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma solli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sohbih.

Akhir-akhir ini umat muslimin benar-benar dikejutkan oleh media yang tiada habis nya mengulas dan memamerkan suatu berita menyakitkan. Hingga menjadi tanda tanya pada hati tiap seorang muslim. Pukulan besar bagi pecintanya. Dan ujian dari Allah mengenai akhlak terhadap para ulama.

Semua sudah tahu bagaimana alur permasalahannya. Ada yang menghakimi itu benar adanya. Ada yang memilih mauquf (pending bersikap). Ada yang bijak. Namun terkadang yang menjadi point utama dalam tulisan ringkas ini adalah, bagaimana cara kita merespon semua ini?

Ulama. Ulama adalah pewaris para nabi. mereka adalah pewaris ilmu agama. Rantai ilmu mereka tersambung pada para nabi. Bukankah itu sebuah kemuliaan besar bagi seorang yang bukan ma’sum?

Faktanya saat ini justru ulama menjadi sasaran hinaan, bahkan fitnah. Yang hal itu bisa dengan mudah didapatkan di media sosial apapun. Berikut sedikit ilmu yang saya dapat mengenai menyikapi permasalahan ini.

Memang ulama itu terbagi menjadi ulama su’ (buruk) dan ulama rusyd (lurus). NAMUN :

  1. Tetapi jika ulama itu belum ditentukan menjadi ulama su’ maka TIDAK BOLEH BAGI KITA UNTUK MEMBUAT KESIMPULAN APAPUN TERHADAPNYA. Sebagaimana firman Allah :

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S Al-Israa’ : 36)

  2. Para ulama yang haq, yang lurus bukanlah para nabi. Maka para ulama tidak bisa lepas dari bebas dosa juga. Maka jika ada kesalahan dan kekurangan pada diri mereka itu adalah tanggung jawab mereka. Bahkan kemungkinan besar kesalahan2 mereka akan diampuni oleh Allah swt. Mengingat mereka adalah pewaris para nabi dan.

Dan sikap yang harus diambil pada kita tentunya adalah HUSNUDZON. Karena tidak ada ruginya dalam berbaik sangka. Entah itu faktanya benar atau tidak. Justru akan merugi jika kita menaruh stigma negatif pada para ulama.

Semoga Allah selalu memberi hidayah dan taufik kepada saudara-saudara kita yang hatinya terdapat debu-debu kemunafikan. Menerangi hati para kaum muslimin Indonesia dengan nur agama. Menjadikan para pemimpinnya yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Memberi hidayah kepada yang berusaha untuk memfitnah, mencaci dan menghina para ulama. Memberi hidayah untuk selalu mengerjakan sunnah. Juga taufik dalam mengamalkan segala perkara agama. Semoga Allah membersihkan nama-nama baik para ulama dan mengangkat derajat mereka. Mewangikan bumi Indonesia dengan syiar-syiar agama yang damai. Menjadikan bumi Indonesia kembali aman, tenang, damai dan sentosa. Semoga Allah melahirkan banyak para ulama haq dari bumi Indonesia ini sehingga menjadi manfaat dan perhiasan agama untuk alam. Amin ya Rabbal alamin

 

Sumber referensi : Kitab Fadhilah Amal, Syaikhul Hadist Maulana Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi Rah.a

habib rizieq

TIDAK AKTIF FACEBOOK

((HARAP DIBACA UNTUK SANTRIWATI DALWA))

Salam alaykum kakak-adik kelas dan teman-teman.

Khonsa tidak aktif facebook selama liburan. Sesekali Khonsa akan buka untuk tahu kabar tentang Ustad Segaf, murabbi kita. Tapi tidak akan membalas apapun, komentar apapun bahkan membagi like. Taukan kenapa? Pasti udah dapat surat dari pondok semua kan? 🙂

Posting wordpress memang sengaja Khonsa otomatiskan ke facebook dan twitter. Agar teman-teman yang non pondok tetap bisa baca.

Memang susah banget ya untuk mujahadah. Susah untuk jadi orang bener. Susah untuk seperti Sayyidah Fatimah. Susah untuk punya sifat seperti Ustad Segaf. Susah, banget

Susah juga buat dapet perhatian Rasulullah. Susah untuk jadi perempuan yang baik. Susah banget

Gak boleh ini, gak boleh itu. Ribet

Tapi kita nikmatin aja perlahan mujahadah ini dan sambil berdoa agar Allah kasih kemudahan dan istiqomah untuk kita 😉

Okay, jadi yang mau menyambung silaturahmi sama Khonsa, silahkan add line Khonsa. username : hansanabil atau kalau mau WhatsApp, nanti Khonsa kasih lewat line. Syukran

Wasalamualaykum

Khonsa Nabilah

 

Ada Cinta di Tangan Itu

Tanganku gelisah asal-asalan membuka apapun di hape tanpa ada fokus sedikitpun

Kaki ku berhentak ringan di tempat, dengan begitu gelisah

Menggigit bibir seraya menyuruh hati untuk tenang

Ya, ia datang kerumahku

Setelah kucium tangan ibunya,

Kupandang ia dengan tatapan rindu

Ia meraih tanganku, dan menciumnya

Aku terhenyak. Bukan engkau yang harusnya mencium tangan penuh dosa ini..

Itu harusnya aku

Aku hanya duduk diam tak berkata sedikitpun ketika ia bertamu

Hatiku canggung. Karena ketika aku melihat dan mengingatnya,

Aku teringat seseorang di masa lalu dan masa depanku

Urusan sang ibu dengan ibuku sudah selesai

Ia datang kepadaku lagi,

Hendak mengambil tanganku untuk diciumnya

Tetapi aku segera tarik halus tangannya

Aku cium, dalam-dalam

Hingga tubuhku bergemetar akan dahsyatnya rasa ini

Karena dalam ciuman itu, aku teringat seseorang di masa lalu dan masa depanku

Dialah yang terkenal dengan keyatimannya sedari tahun Abrahah lenyap bagai daun dimakan ulat

Dialah yang terkenal cinta dan tulus pada yahudi buta yang gemar menghardik didepan suapan roti kasih sayang padanya

Dialah yang namanya terukir pada setiap gerbang surga bahkan dada para bidadari

Dialah kekasih Allah, Habibullah Mustofa.. Muhammad sollallahu ‘alaih wa sallam

Anak yatim itu mengetuk hatiku,

Mengingatkanku bahwa betapa hinanya aku

Yang masih saja jarang menyebut nama kekasih Allah

Padahal aku mengaku cinta

 

Waktu Dhuha, 10:12

 

Optimalisasi 20

Pengasuh pondok yang beliau-beliau adalah anak-anak dari Abuya Hasan Baharun

Pengasuh pondok yang beliau-beliau adalah anak-anak dari Abuya Hasan Baharun

Saat itu aku sedang mendengarkan taklim ustad Segaf. Pembahasan tentang istri solihah. Dikatakan bahwa saat telah menikah maka surga dan neraka itu ada pada suami. Bukan pada orang tua lagi. Bagi istri yang selalu taat dan membuat hati suami selalu ridho maka akan ada kabar gembira untuk nya. Namun jika ada hal sedikit saja yang membuat suami murka, maka hendaknya istri segera meminta maaf. Ditakutkan ada hal yang buruk terjadi.

Lalu pikiranku mengawang bebas. Teringat masa-masa SMP dan SMA ku dahulu. Kami memang dituntut untuk selalu berhijab, menjalankan syariat yang berbau aurat, sholat, puasa ramadhan. Dan syariat yang diajarkan hanya secara global saja. Tetapi, setelah lama kurasakan saat ini bahwa ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang justru menjadi inti dari seluruh kehidupan, pokok dari alasan perbuatan kita dan dasar dari segala pendidikan.

Yakni, penumbuhan bibit cinta pada Allah dan Rasulullah. Kami memang diajari untuk mengenal Allah dan Rasulullah. Tapi bibit hanya tersebar saja, tak ada perawatan khusus dalam hal inti ini.

Aku saat ini adalah jawaban doaku dahulu.

Aku masih ingat sekali doa yang sering kulantunkan setiap sehabis sholatku. Selain doa untuk orang tua adalah doa keselamatan dunia akhirat. Lalu doa khusus untuk tiap anggota keluarga. Tapi ada satu doa yang baru kurasakan efeknya akhir-akhir ini. Yaitu doa untuk saudara-saudaraku, budhe-budhe dan pakdhe. “Ya Allah berilah hidayah pada budhe2 dan pakdhe, juga untuk menutup aurat.”

Doa ini sekilas lucu jika dilantunkan anak  SMP yang terbilang masih kecil. Tapi entah kenapa aku suka sekali berdoa untuk anggota keluargaku, khususnya pada budhe2 ku yang belum sempurna dalam menutup aurat.

Waktu berjalan bersama dengan doa itu hingga kelas 3 SMA. Masa-masa penentuan kemana aku setelah ini? Aku mau masuk PTN mana? Apakah aku bisa dapat beasiswa? Jurusan apa yang cocok untukku?. Dan segala angan tinggi apabila telah menduduki bangku kuliah, padahal jika ditanya sekarang pada mahasiswa bahwa kuliah itu ya begitu-begitu saja. Mungkin karena ekspektasi terlalu tinggi dan HAP! Terjadilah deprivasi relatif.

Allah berkehendak lain. Disaat teman-teman lain dicemaskan oleh pemilihan jurusan, harap cemas diterima. Aku diberikan rasa cemas yang tidak setinggi mereka. Disaat mereka pusing mengurus SNMPTN aku hanya santai-santai saja bermain leptop sendiri. Bahkan dalam diriku sendiri tak ada rasa rugi karena aku tidak memanfaatkan nilai rapotku yang kata teman-teman berpeluang diterima SNMPTN.

Ya, orangtua ku tidak setuju jika aku bergabung di PTN. Awalnya orangtuaku sudah memberikan opsi jurusan tapi lama kelamaan, ada rasa cemas sekali dalam hati mereka. Cemas akan iman, pergaulan, dan benteng penjagaan orang tua dari kecil. Itu saja.

Dengan segala patuhku dan yakinku bahwa ami abi pasti selalu memberikan yang terbaik untukku. FIX aku akan mondok dan masuk PTS swasta disana dengan jurusan ekonomi shariah. Bukan PTN seperti yang diidamkan anak2 saat ini.

Sebelum aku mondok, aku sudah mengikuti beberapa kali majelis taklim dan bertemu dengan ustadzah nya. Kak Alina Al-Munawwar namanya. Aku menceritakan beberapa keluh kesahku masalah pendidikanku ini. Beliau justru memotivasiku, memberikanku suplemen tentang kisah Rasulullah, kisah sahabat dan kalam hikmah lainnya. Dan segala apa yang beliau katakan malam itu benar-benar merubahku. Membuatku menjadi haus akan Siapakah Allah? Siapakah Rasulullah? Bagaimana kisah hidup Rasulullah dahulu? Mengapa ia bisa bersabar akan rintangan yang ada? Mengapa bisa ada para sahabat-tabi’in yang bisa sebegitu cintanya pada Rasulullah? Dan terjawab juga pertanyaan, Mengapa pelajaran tentang Islam selama ini tidak membekas dalam hatiku.

Di pondok. Selain mencari ilmu agama, kami juga harus mencari hikmah. Hikmah adalah tingkatan diatas ilmu. Sesuatu yang indah di rasakan pada hati dan lisan dan ini adalah sesuatu yang Rasulullah doakan pada Syd Ibn Abbas “Ya Allah, berilah ia hikmah”. Yang kelak Syd Ibn Abbas ini mampu menafsirkan al-Qur’an al Karim.

habib

Disini juga hatiku selalu merasa terpaut dengan kebaikan selalu. Ketenangan batin yang sulit digambarkan. Perasaan tersentuh setiap mendengar nama Allah dan kisah Rasulullah disebut. Gairah untuk mengamalkan apa yang pernah dilakukan Rasulullah. Seperti aku teringat sekali setahun lalu aku menjadi Qism Ubudiyyah Mantiqoh (rayon). Tugas ku adalah seperti toa yang membangunkan anak-anak ketika subuh, mencatat yang terlambat, menegur anak-anak yang kabur dari kegiatan mushola. Tentu keberadaanku ini membuat sebagian anak tidak nyaman. Beberapa orang pun kasar padaku saat ditanya, membicarakanku di belakang, bahkan tak jarang ada omongan pedas. Aku menangis, mengadu dengan hati lemahku, tak tahu harus berbuat apa. Tiba2 saja aku teringat kisah Rasulullah saat di Thaif. Kesabaran beliau, ujian beliau. Yang jauh lebih berat daripada apa yang menimpaku. Berhari-hari aku coba bersabar dan terus merendah . Dan dalam hitungan bulan, Allah menepati janji-Nya. Mereka justru menjadi lemah lembut padaku, kami menjadi sering bersaling sapa, dan salah satu ada yang memberiku hadiah. Masha Allah

Kurikulum pondok kami terkenal tinggi sekali. Dan hal ini diakui oleh salah satu alumni pondok di Yaman sana. Maka, dibutuhkan energi lebih untuk begadang, persediaan kopi lebih untuk setiap pagi, dan hati yang bersih. Karena ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya ilmu hanya menetap pada hati yang bersih. Berlomba-lomba kami untuk memahami ilmu-ilmu ini adalah salah satu mujahadah (perjuangan)ku disini. Banyak sekali anak-anak cerdas dan anak-anak yang mudah membuat emosiku berkecamuk. Selain diuji dalam urusan pelajaran, hati kami akan terus diuji.

Fastabiqul Khoirot ini berimbas baik sekali pada jiwa-jiwa santri. Kami menjadi lebih sering menghidupkan sunnah-sunnah nabi, memperbanyak solawat, mengkhayati saat siroh nabi di baca dan masih banyak lagi.

Sungguh ini adalah atmosfer dengan tingkat kenyamanan luar biasa. Kami tak cemas dengan urusan dunia karena semua ini terasa sangat mudah bagi kami. Urusan kuliah pun tak ada kesulitan yang kutemui. Semua terasa dimudahkan. Hingga aku pernah berfikir, Bagaimana teman-teman diluar sana? Apakah mereka merasakan apa yang kurasakan? Apakah mereka sedang terbuai dunia atau berusaha melawan? Bagaimana sholat teman-teman?

Sehingga tak jarang aku sedih dan berandai-andai. Andai teman-teman bisa mondok bersama disini. Jika memang yang dicari oleh anak muda jaman sekarang adalah gelar, maka disini juga ada jenjang kuliah. Bahkan disini ada akhirat, ada benteng terakhir penjagaan umat dari fitnah dunia yang semakin hari semakin terasa, semakin mudahnya menyamar dari hal-hal yang mubah. Kalaupun ternyata ada yang ingin kuliah disuatu tempat karena tempat itu sudah terkenal akan mudah diterima pekerjaan. Maka, sungguh hina sekali jika mereka menggadaikan ilmu agama dan keyakinan bahwa Allah adalah yang menentukan takdir dan sebaik-baik pemberi rezeki. Naudzubillah. Dan jika alasan terakhir mereka adalah berbakti pada orang tua karena itu adalah hal yang diinginkan, maka semoga Allah memberi berkah dalam ilmu mereka.

Teman-temanku. Kita adalah umat terakhir yang hidup. Tetapi tahukah kalian bahwa kita adalah umat yang istimewa sekali. Karena sebelum umat ini semua masuk syurga, maka pintu syurga haram bagi umat dahulu. Saat umat dahulu terkena najis, maka benda itu harus di potong atau di buang. Sedangkan umat kita? Cukup dengan mensucikan dengan shariat thoharoh yang ada. Bahkan dahulu saat mereka berbuat dosa, maka dosa mereka akan tertulis di depan pintu rumah mereka dan taubat mereka pun harus di ka’bah. Sedangkan kita kawan? Dosa kita disembunyikan dari orang lain, dan taubat pun bisa dilakukan dimana saja. Lihatlah keistimewaan ini yang begitu dalam maknanya. Masha Allah.

Kita ini sedang mengembara menuju kehidupan yang abadi. Kehidupan saat ini fana sekali. Dunia ini terlaknat, bahkan apa apa yang ada didalamnya kecuali mengingat Allah dan sejenisnya dan orang yang mengajar dan pelajar. Begitulah yang dikatakan dari lisan Rasulullah melewati riwayat Tirmidzi dan Abu Hurairah.

Maka apalagi yang kita cari selain semua ini untuk Allah? Ayo kita ganti segala niat kita hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Perbanyak majelis ilmu agama, jangan melulu ngurusin organisasi kampus sehingga lupa bahwa kewajiban menuntut ilmu agama adalah sebuah kewajiban. Kurangi kongkow2 yang tidak ada manfaatnya. Kembali memakai rok dan melebarkan kerudung. Rajin sholat berjamaah di masjid dan hindari perkumpulan bersama lawan jenis kecuali jika memang itu darurat. Karena kita selalu tidak sadar dan lupa. Bahwa setan itu tak akan capek dalam menggoda kita untuk menjadi temannya di neraka nanti. Sehingga hal-hal yang dianggap biasa pun mereka terjun, membuat rekayasa seakan-akan “ah itu nggak apa-apa”. Padahal? Padahal jika ditelisik itu dilarang, kenapa? Karena kurang nya kita dalam mempelajari agama sempurna ini, agama islam.

Ustad Segaf Baharun