MENYIKAPI KASUS HABIB RIZIEQ BIN HUSEIN SYIHAB

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma solli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sohbih.

Akhir-akhir ini umat muslimin benar-benar dikejutkan oleh media yang tiada habis nya mengulas dan memamerkan suatu berita menyakitkan. Hingga menjadi tanda tanya pada hati tiap seorang muslim. Pukulan besar bagi pecintanya. Dan ujian dari Allah mengenai akhlak terhadap para ulama.

Semua sudah tahu bagaimana alur permasalahannya. Ada yang menghakimi itu benar adanya. Ada yang memilih mauquf (pending bersikap). Ada yang bijak. Namun terkadang yang menjadi point utama dalam tulisan ringkas ini adalah, bagaimana cara kita merespon semua ini?

Ulama. Ulama adalah pewaris para nabi. mereka adalah pewaris ilmu agama. Rantai ilmu mereka tersambung pada para nabi. Bukankah itu sebuah kemuliaan besar bagi seorang yang bukan ma’sum?

Faktanya saat ini justru ulama menjadi sasaran hinaan, bahkan fitnah. Yang hal itu bisa dengan mudah didapatkan di media sosial apapun. Berikut sedikit ilmu yang saya dapat mengenai menyikapi permasalahan ini.

Memang ulama itu terbagi menjadi ulama su’ (buruk) dan ulama rusyd (lurus). NAMUN :

  1. Tetapi jika ulama itu belum ditentukan menjadi ulama su’ maka TIDAK BOLEH BAGI KITA UNTUK MEMBUAT KESIMPULAN APAPUN TERHADAPNYA. Sebagaimana firman Allah :

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S Al-Israa’ : 36)

  2. Para ulama yang haq, yang lurus bukanlah para nabi. Maka para ulama tidak bisa lepas dari bebas dosa juga. Maka jika ada kesalahan dan kekurangan pada diri mereka itu adalah tanggung jawab mereka. Bahkan kemungkinan besar kesalahan2 mereka akan diampuni oleh Allah swt. Mengingat mereka adalah pewaris para nabi dan.

Dan sikap yang harus diambil pada kita tentunya adalah HUSNUDZON. Karena tidak ada ruginya dalam berbaik sangka. Entah itu faktanya benar atau tidak. Justru akan merugi jika kita menaruh stigma negatif pada para ulama.

Semoga Allah selalu memberi hidayah dan taufik kepada saudara-saudara kita yang hatinya terdapat debu-debu kemunafikan. Menerangi hati para kaum muslimin Indonesia dengan nur agama. Menjadikan para pemimpinnya yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Memberi hidayah kepada yang berusaha untuk memfitnah, mencaci dan menghina para ulama. Memberi hidayah untuk selalu mengerjakan sunnah. Juga taufik dalam mengamalkan segala perkara agama. Semoga Allah membersihkan nama-nama baik para ulama dan mengangkat derajat mereka. Mewangikan bumi Indonesia dengan syiar-syiar agama yang damai. Menjadikan bumi Indonesia kembali aman, tenang, damai dan sentosa. Semoga Allah melahirkan banyak para ulama haq dari bumi Indonesia ini sehingga menjadi manfaat dan perhiasan agama untuk alam. Amin ya Rabbal alamin

 

Sumber referensi : Kitab Fadhilah Amal, Syaikhul Hadist Maulana Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi Rah.a

habib rizieq

TIDAK AKTIF FACEBOOK

((HARAP DIBACA UNTUK SANTRIWATI DALWA))

Salam alaykum kakak-adik kelas dan teman-teman.

Khonsa tidak aktif facebook selama liburan. Sesekali Khonsa akan buka untuk tahu kabar tentang Ustad Segaf, murabbi kita. Tapi tidak akan membalas apapun, komentar apapun bahkan membagi like. Taukan kenapa? Pasti udah dapat surat dari pondok semua kan? 🙂

Posting wordpress memang sengaja Khonsa otomatiskan ke facebook dan twitter. Agar teman-teman yang non pondok tetap bisa baca.

Memang susah banget ya untuk mujahadah. Susah untuk jadi orang bener. Susah untuk seperti Sayyidah Fatimah. Susah untuk punya sifat seperti Ustad Segaf. Susah, banget

Susah juga buat dapet perhatian Rasulullah. Susah untuk jadi perempuan yang baik. Susah banget

Gak boleh ini, gak boleh itu. Ribet

Tapi kita nikmatin aja perlahan mujahadah ini dan sambil berdoa agar Allah kasih kemudahan dan istiqomah untuk kita 😉

Okay, jadi yang mau menyambung silaturahmi sama Khonsa, silahkan add line Khonsa. username : hansanabil atau kalau mau WhatsApp, nanti Khonsa kasih lewat line. Syukran

Wasalamualaykum

Khonsa Nabilah

 

Ada Cinta di Tangan Itu

Tanganku gelisah asal-asalan membuka apapun di hape tanpa ada fokus sedikitpun

Kaki ku berhentak ringan di tempat, dengan begitu gelisah

Menggigit bibir seraya menyuruh hati untuk tenang

Ya, ia datang kerumahku

Setelah kucium tangan ibunya,

Kupandang ia dengan tatapan rindu

Ia meraih tanganku, dan menciumnya

Aku terhenyak. Bukan engkau yang harusnya mencium tangan penuh dosa ini..

Itu harusnya aku

Aku hanya duduk diam tak berkata sedikitpun ketika ia bertamu

Hatiku canggung. Karena ketika aku melihat dan mengingatnya,

Aku teringat seseorang di masa lalu dan masa depanku

Urusan sang ibu dengan ibuku sudah selesai

Ia datang kepadaku lagi,

Hendak mengambil tanganku untuk diciumnya

Tetapi aku segera tarik halus tangannya

Aku cium, dalam-dalam

Hingga tubuhku bergemetar akan dahsyatnya rasa ini

Karena dalam ciuman itu, aku teringat seseorang di masa lalu dan masa depanku

Dialah yang terkenal dengan keyatimannya sedari tahun Abrahah lenyap bagai daun dimakan ulat

Dialah yang terkenal cinta dan tulus pada yahudi buta yang gemar menghardik didepan suapan roti kasih sayang padanya

Dialah yang namanya terukir pada setiap gerbang surga bahkan dada para bidadari

Dialah kekasih Allah, Habibullah Mustofa.. Muhammad sollallahu ‘alaih wa sallam

Anak yatim itu mengetuk hatiku,

Mengingatkanku bahwa betapa hinanya aku

Yang masih saja jarang menyebut nama kekasih Allah

Padahal aku mengaku cinta

 

Waktu Dhuha, 10:12

 

Optimalisasi 20

Pengasuh pondok yang beliau-beliau adalah anak-anak dari Abuya Hasan Baharun

Pengasuh pondok yang beliau-beliau adalah anak-anak dari Abuya Hasan Baharun

Saat itu aku sedang mendengarkan taklim ustad Segaf. Pembahasan tentang istri solihah. Dikatakan bahwa saat telah menikah maka surga dan neraka itu ada pada suami. Bukan pada orang tua lagi. Bagi istri yang selalu taat dan membuat hati suami selalu ridho maka akan ada kabar gembira untuk nya. Namun jika ada hal sedikit saja yang membuat suami murka, maka hendaknya istri segera meminta maaf. Ditakutkan ada hal yang buruk terjadi.

Lalu pikiranku mengawang bebas. Teringat masa-masa SMP dan SMA ku dahulu. Kami memang dituntut untuk selalu berhijab, menjalankan syariat yang berbau aurat, sholat, puasa ramadhan. Dan syariat yang diajarkan hanya secara global saja. Tetapi, setelah lama kurasakan saat ini bahwa ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang justru menjadi inti dari seluruh kehidupan, pokok dari alasan perbuatan kita dan dasar dari segala pendidikan.

Yakni, penumbuhan bibit cinta pada Allah dan Rasulullah. Kami memang diajari untuk mengenal Allah dan Rasulullah. Tapi bibit hanya tersebar saja, tak ada perawatan khusus dalam hal inti ini.

Aku saat ini adalah jawaban doaku dahulu.

Aku masih ingat sekali doa yang sering kulantunkan setiap sehabis sholatku. Selain doa untuk orang tua adalah doa keselamatan dunia akhirat. Lalu doa khusus untuk tiap anggota keluarga. Tapi ada satu doa yang baru kurasakan efeknya akhir-akhir ini. Yaitu doa untuk saudara-saudaraku, budhe-budhe dan pakdhe. “Ya Allah berilah hidayah pada budhe2 dan pakdhe, juga untuk menutup aurat.”

Doa ini sekilas lucu jika dilantunkan anak  SMP yang terbilang masih kecil. Tapi entah kenapa aku suka sekali berdoa untuk anggota keluargaku, khususnya pada budhe2 ku yang belum sempurna dalam menutup aurat.

Waktu berjalan bersama dengan doa itu hingga kelas 3 SMA. Masa-masa penentuan kemana aku setelah ini? Aku mau masuk PTN mana? Apakah aku bisa dapat beasiswa? Jurusan apa yang cocok untukku?. Dan segala angan tinggi apabila telah menduduki bangku kuliah, padahal jika ditanya sekarang pada mahasiswa bahwa kuliah itu ya begitu-begitu saja. Mungkin karena ekspektasi terlalu tinggi dan HAP! Terjadilah deprivasi relatif.

Allah berkehendak lain. Disaat teman-teman lain dicemaskan oleh pemilihan jurusan, harap cemas diterima. Aku diberikan rasa cemas yang tidak setinggi mereka. Disaat mereka pusing mengurus SNMPTN aku hanya santai-santai saja bermain leptop sendiri. Bahkan dalam diriku sendiri tak ada rasa rugi karena aku tidak memanfaatkan nilai rapotku yang kata teman-teman berpeluang diterima SNMPTN.

Ya, orangtua ku tidak setuju jika aku bergabung di PTN. Awalnya orangtuaku sudah memberikan opsi jurusan tapi lama kelamaan, ada rasa cemas sekali dalam hati mereka. Cemas akan iman, pergaulan, dan benteng penjagaan orang tua dari kecil. Itu saja.

Dengan segala patuhku dan yakinku bahwa ami abi pasti selalu memberikan yang terbaik untukku. FIX aku akan mondok dan masuk PTS swasta disana dengan jurusan ekonomi shariah. Bukan PTN seperti yang diidamkan anak2 saat ini.

Sebelum aku mondok, aku sudah mengikuti beberapa kali majelis taklim dan bertemu dengan ustadzah nya. Kak Alina Al-Munawwar namanya. Aku menceritakan beberapa keluh kesahku masalah pendidikanku ini. Beliau justru memotivasiku, memberikanku suplemen tentang kisah Rasulullah, kisah sahabat dan kalam hikmah lainnya. Dan segala apa yang beliau katakan malam itu benar-benar merubahku. Membuatku menjadi haus akan Siapakah Allah? Siapakah Rasulullah? Bagaimana kisah hidup Rasulullah dahulu? Mengapa ia bisa bersabar akan rintangan yang ada? Mengapa bisa ada para sahabat-tabi’in yang bisa sebegitu cintanya pada Rasulullah? Dan terjawab juga pertanyaan, Mengapa pelajaran tentang Islam selama ini tidak membekas dalam hatiku.

Di pondok. Selain mencari ilmu agama, kami juga harus mencari hikmah. Hikmah adalah tingkatan diatas ilmu. Sesuatu yang indah di rasakan pada hati dan lisan dan ini adalah sesuatu yang Rasulullah doakan pada Syd Ibn Abbas “Ya Allah, berilah ia hikmah”. Yang kelak Syd Ibn Abbas ini mampu menafsirkan al-Qur’an al Karim.

habib

Disini juga hatiku selalu merasa terpaut dengan kebaikan selalu. Ketenangan batin yang sulit digambarkan. Perasaan tersentuh setiap mendengar nama Allah dan kisah Rasulullah disebut. Gairah untuk mengamalkan apa yang pernah dilakukan Rasulullah. Seperti aku teringat sekali setahun lalu aku menjadi Qism Ubudiyyah Mantiqoh (rayon). Tugas ku adalah seperti toa yang membangunkan anak-anak ketika subuh, mencatat yang terlambat, menegur anak-anak yang kabur dari kegiatan mushola. Tentu keberadaanku ini membuat sebagian anak tidak nyaman. Beberapa orang pun kasar padaku saat ditanya, membicarakanku di belakang, bahkan tak jarang ada omongan pedas. Aku menangis, mengadu dengan hati lemahku, tak tahu harus berbuat apa. Tiba2 saja aku teringat kisah Rasulullah saat di Thaif. Kesabaran beliau, ujian beliau. Yang jauh lebih berat daripada apa yang menimpaku. Berhari-hari aku coba bersabar dan terus merendah . Dan dalam hitungan bulan, Allah menepati janji-Nya. Mereka justru menjadi lemah lembut padaku, kami menjadi sering bersaling sapa, dan salah satu ada yang memberiku hadiah. Masha Allah

Kurikulum pondok kami terkenal tinggi sekali. Dan hal ini diakui oleh salah satu alumni pondok di Yaman sana. Maka, dibutuhkan energi lebih untuk begadang, persediaan kopi lebih untuk setiap pagi, dan hati yang bersih. Karena ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya ilmu hanya menetap pada hati yang bersih. Berlomba-lomba kami untuk memahami ilmu-ilmu ini adalah salah satu mujahadah (perjuangan)ku disini. Banyak sekali anak-anak cerdas dan anak-anak yang mudah membuat emosiku berkecamuk. Selain diuji dalam urusan pelajaran, hati kami akan terus diuji.

Fastabiqul Khoirot ini berimbas baik sekali pada jiwa-jiwa santri. Kami menjadi lebih sering menghidupkan sunnah-sunnah nabi, memperbanyak solawat, mengkhayati saat siroh nabi di baca dan masih banyak lagi.

Sungguh ini adalah atmosfer dengan tingkat kenyamanan luar biasa. Kami tak cemas dengan urusan dunia karena semua ini terasa sangat mudah bagi kami. Urusan kuliah pun tak ada kesulitan yang kutemui. Semua terasa dimudahkan. Hingga aku pernah berfikir, Bagaimana teman-teman diluar sana? Apakah mereka merasakan apa yang kurasakan? Apakah mereka sedang terbuai dunia atau berusaha melawan? Bagaimana sholat teman-teman?

Sehingga tak jarang aku sedih dan berandai-andai. Andai teman-teman bisa mondok bersama disini. Jika memang yang dicari oleh anak muda jaman sekarang adalah gelar, maka disini juga ada jenjang kuliah. Bahkan disini ada akhirat, ada benteng terakhir penjagaan umat dari fitnah dunia yang semakin hari semakin terasa, semakin mudahnya menyamar dari hal-hal yang mubah. Kalaupun ternyata ada yang ingin kuliah disuatu tempat karena tempat itu sudah terkenal akan mudah diterima pekerjaan. Maka, sungguh hina sekali jika mereka menggadaikan ilmu agama dan keyakinan bahwa Allah adalah yang menentukan takdir dan sebaik-baik pemberi rezeki. Naudzubillah. Dan jika alasan terakhir mereka adalah berbakti pada orang tua karena itu adalah hal yang diinginkan, maka semoga Allah memberi berkah dalam ilmu mereka.

Teman-temanku. Kita adalah umat terakhir yang hidup. Tetapi tahukah kalian bahwa kita adalah umat yang istimewa sekali. Karena sebelum umat ini semua masuk syurga, maka pintu syurga haram bagi umat dahulu. Saat umat dahulu terkena najis, maka benda itu harus di potong atau di buang. Sedangkan umat kita? Cukup dengan mensucikan dengan shariat thoharoh yang ada. Bahkan dahulu saat mereka berbuat dosa, maka dosa mereka akan tertulis di depan pintu rumah mereka dan taubat mereka pun harus di ka’bah. Sedangkan kita kawan? Dosa kita disembunyikan dari orang lain, dan taubat pun bisa dilakukan dimana saja. Lihatlah keistimewaan ini yang begitu dalam maknanya. Masha Allah.

Kita ini sedang mengembara menuju kehidupan yang abadi. Kehidupan saat ini fana sekali. Dunia ini terlaknat, bahkan apa apa yang ada didalamnya kecuali mengingat Allah dan sejenisnya dan orang yang mengajar dan pelajar. Begitulah yang dikatakan dari lisan Rasulullah melewati riwayat Tirmidzi dan Abu Hurairah.

Maka apalagi yang kita cari selain semua ini untuk Allah? Ayo kita ganti segala niat kita hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Perbanyak majelis ilmu agama, jangan melulu ngurusin organisasi kampus sehingga lupa bahwa kewajiban menuntut ilmu agama adalah sebuah kewajiban. Kurangi kongkow2 yang tidak ada manfaatnya. Kembali memakai rok dan melebarkan kerudung. Rajin sholat berjamaah di masjid dan hindari perkumpulan bersama lawan jenis kecuali jika memang itu darurat. Karena kita selalu tidak sadar dan lupa. Bahwa setan itu tak akan capek dalam menggoda kita untuk menjadi temannya di neraka nanti. Sehingga hal-hal yang dianggap biasa pun mereka terjun, membuat rekayasa seakan-akan “ah itu nggak apa-apa”. Padahal? Padahal jika ditelisik itu dilarang, kenapa? Karena kurang nya kita dalam mempelajari agama sempurna ini, agama islam.

Ustad Segaf Baharun

 

 

MUSTAFA ATEF ke Pondok DALWA!

Hai, Guys! Setelah lama gak update sekarang alhamdulillah ada kesempatan lagi buat nulis. Karena sekarang adalah JATAH LIBURAN! Yeay! Banyak banget pengalaman, kejadian mistis dan hal-hal unik lain yang pengen Khonsa bagi. Tapi yang paling heboh adalah satu ini.

Ya. Siapakah Mustafa Atef itu? Beliau adalah munsyid internasional dari Mesir yang juga katanya sudah seorang syeikh (mahaguru). Padahal umur nya masih muda sekali, beliau juga lulusan Al-Azhar Cairo Mesir. Dan yang lebih hebat lagi beliau seorang hafidz, penghafal al-Quran. Masha Allah.

Semenjak setahun yang lalu pondok kami, DALWA sudah di hebohkan dengan sebuah qosidahnya yang sangat indah yaitu Qomarun. Qosidah ini adalah tentang Rasulullah yang keindahan wajahnya bak purnama, dan sifat lainnya. Maka setiap tv mantiqoh (rayon) akan terdengar suara khas beliau setiap minggunya. Pun juga qosidah ini sangat di gemari oleh Hubaba Khodijah Al-Hinduan. Yakni istri dari Habib Hasan Baharun, pendiri pondok DALWA.

m-a-abuya-zen

Syeikh Mustafa Atef (rompi hitam), Abuya Zein Baharun (gamis abu-abu), Bintu Abuya Zein Baharun (baju kuning)

Situasi malam itu benar-benar tegang sekali juga riuh. Secara, munsyid ganteng eh maksudnya munsyid dengan suara yang bagus sekali juga berilmu tinggi mau ke pondok! Kami (santri perempuan) setelah maghrib dikumpulkan di mushola dengan wajib memakai gamis hitam dan cadar. Di mushola pun sudah ada layar khusus untuk menampilkan live Syeikh Mustafa Atef itu. Lalu ada pengumuman yang diudarakan oleh ustadzah bahwa “DILARANG BERTERIAK SEDIKITPUN APABILA MUSTAFA ATEF DATANG. JAGALAH HARGA DIRI KALIAN”.

Kami terbagi ada yang di mushola ada yang diluar (depan maktab hubaba). Ternyata Mustafa Atef sedang makan malam di Hotel Dalwa. Kami menunggu.. dan menunggu.. Lalu gerbang terbuka, kami bisa melihat dari layar… Abuya Zein masuk… Disusul beberapa santri laki-laki…. Lalu… Mustafa Atef…. Terdengar suara tahan napas dari anak-anak perempuan. Aku ingin sekali tertawa melihat ekspresi teman-teman. Masha Allah ya, kala anak-anak gadis diluar sana berteriak-teriak kala konser penyanyi kafir atau dari orang fasik. Kami diperintah untuk diam tak boleh mengeluarkan suara sedikitpun padahal yang kami dengar adalah qosidah.

Akhirnya setelah menyenandungkan lagu Qomarun dan apa ya saya lupa. Mustafa Atef pun keluar…. Dan kami semenjak beliau datang hingga keluar tak ada suara sedikitpun. Setelah benar benar keluar…. Sepondok jadi heboh! Hoaaa — YA ALLAHH!!! HOAAAA!!! Huuhuhuh bla bla bla bla. Dilanjutkan pembicaraan khas anak perempuan.

Setelah Mustafa Atef dari pondok putri, lanjut ke pondok putra. Kami pun jadi tak usah menonton menggunakan gamis hitam dan cadar. Bahkan kami bisa ikut berqosidah bersama-sama walau dari jauh. (setidaknya live).

14463001_547293168803172_4844172400901725817_n

Saat konser di Pondok Putra. Abuya Zein Baharun, Syeikh Mustafa Atef, Tokoh Ulama, Ustadz Segaf Baharun (kiri-kanan)

Betapa bersyukurnya kami karena Syeikh Mustafa Atef ini memang sangat sibuk sekali jadwalnya. Dan kami menyadari bahwa kami tinggal tidak disembarang pondok. Khonsa merasakan pondok ini selalu ada saja rezekinya. Dan selalu saja ada yang baru. Tidak lain tidak bukan ini karena keberkahan didalamnya. Bahkan di pondok ini banyak sekali sirr di setiap sudut bahkan di setiap aspek mata pelajaran. Ketenangan batin pun mudah didapatkan. Hal yang paling sering diingatkan oleh guru-guru kami adalah, DALWA adalah pondok Rasulullah.

I’m proud to be here. Be with Auliya’ wa Sholihin.

Keyakinan yang Sempurna

Setiap anak yang mondok dan ngekos, pasti pernah mengalami krisis keuangan. Termasuk saya. Bahkan ini adalah pengalaman krisis terparah yang pernah aku rasakan. Yuk monggo di simak :

Kondisi finansialku saat itu benar-benar mengejutkan. Ya, mengejutkan angkanya. Kusadari banyak pengeluaran yang sangat boros dan tidak menyimpan sepeser sedikitpun. Karena biasanya setelah mendapat transferan, aku pasti menyimpan sekitar 1/3 dari yang kudapatkan untuk cadangan. Tetapi kali itu aku benar-benar lalai sekali.

Maka yang terjadi uangku habis pada tanggal-tanggal belasan. Sebenarnya kejadian kalau uang habis sebelum tanggalnya bisa saja telpon minta untuk di transfer lagi karena ternyata ada pengeluaran di luar anggaran. Tetapi lama kelamaan aku merasa malu untuk meminta kepada orang tua. Ya, sejak aku mengetahui hadist nabi tentang orang yang suka meminta-minta nantinya tak akan tersisa sedikitpun daging di wajahnya di hari akhir nanti. Naudzubillah. Ku tahan untuk tidak meminta ataupun mengadu dengan siapapun.

Malu ini juga karena aku malu kepada Allah. Aku memiliki dzat yang maha Kaya, lalu kenapa aku harus meminta pada perantara-Nya? Dan malu kepada orang tuaku karena keborosanku. believe

Hingga di suatu malam aku merasa lapar sekali. Rasanya tidak ingin makan nasi jatah pondok. Karena kebiasaan makan malam ku adalah pukul 3 pagi. Sedangkan saat itu masih jam 7 malam.

Sedangkan di dompetku hanya ada seribu rupiah. Ya, selembar Pattimura. Jumlah yang sangat-sangat sedikit sekali. Maka aku hanya bisa tersenyum dan bersyukur dan berkata dalam hati “Alhamdulillah, Allah lagi ngetes mbak Anca”

Kuceramahi diriku agar terus sabar menahan ingin jajan dan sabar karena demi ketaatan pada Allah. Dengan keyakinan Allah lah yang memegang rezekiku, dan rezekiku bukan hanya berasal dari apa yang kumiliki dan apa yang kupegang. Juga berfikir bahwa aku tidak akan mati kelaparan karena aku tetap memiliki jatah makan dari pondok 3X sehari. Alhamdulillah.

Dalam diamku tiba-tiba aku terlintas juga akan perkataan Umar bin Abdul Aziz “Barangsiapa disibukkan oleh urusan agamanya, maka Allah akan mencukupinya dalam perkara dunia.” Alhamdulillah aku sibukkan diriku untuk fokus belajar dan belajar dan beribadah.

Esok harinya,

“Kak, syukron kitabnya. Ane nemu uang di kitab kakak.”

“Hah?” Aku menutup kitab yang sedang kubaca sebentar.

“Iyakan, Naimah?” Ujar adik kelasku seraya mengembalikan kitab Tafsir Ayatul Ahkam.

“Coba lihat” Aku membuka kitab tafsir itu dan disitu ada beberapa kertas lembaran catatan dan 2 uang kertas 50.000

Masha Allah, lalu kuingat itu adalah uang yang sekitar beberapa bulan lalu untuk membeli kebutuhan kamar mandi yang sengaja kutaruh di kitab itu agar setelah taklim ustad malam hari, langsung ke syirkah.

Sungguh Allah membalas keyakinanku 100 kali lipat dari selembar 1000 itu. Lalu sebagai rasa syukurku aku belikan setengah dari uang itu makanan yang bisa dinikmati bersama teman kamar.

Dan kalaupun besok uang itu sudah habis, maka yasudahlah. Karena aku masih memiliki Dzat yang mampu memberiku apapun Yang selalu ingin dimintai. Karena dengan meminta-Nya aku tak akan merasa hina dan karena mengemis kepada-Nya justru hal yang Ia sukai.

Bagaimana dengan pengalaman krisis finansial kalian?

حبّ المكتوم (Cinta Tersembunyi)

pin_304274518547196779Merindu pada yang dicinta
Tanpa kekuatan dari-Nya, tak akan mampu hati membendung maksiat
Merindu pada yang dicinta
Dengan rahmat-Nya, rasa tumbuh subur tanpa ada yang tahu

Duhai yang dicinta
Alfamu dalam mata dhohir ini mengusik perasaan hati, namun justru mensucikan mata hati
Lalu harap akan bengkak mata, mampu menjadi saksi di telaga kautsar yang suci

(Untuk Penuntut Ilmu dan Hikmah) لطالب العلم و الحكمة

Duhai yang merenda ilmu dan hijaiyah illahi

Untuk apa merasa bingung tentang ketetapan-Nya. Padahal kau tahu tentang Qodho dan Qodar

Untuk apa terlarut dalam sakit hati. Kala kau tahu ketegaran Thaha Habibi terhadap penawaran penghacuran Akhsyabain di Thaif

Untuk apa sedih karena kemelaratan. Sedang dahulu orang sholeh tersenyum dengan batu yang mengganjal perut

Untuk apa bermimpi tinggi memiliki harta. Dan kau tahu kisah Qarun yang termakan fitnah hartanya

Untuk apa mengeluh terhadap kualitas kertas kitab. Sedang dahulu pelepah kurma sudah wajib disyukuri

Untuk apa bangga terhadap satu karya. Padahal Imam Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan-tulisannya, agar terhidar dari pujian

Untuk apa sibuk dengan khayalan pasangan masa depan. Tidakkah merasa hina diri kita setelah tahu kesibukan Imam Syafi’i dalam laut ilmu dan cinta Rabb

Untuk apa merasa malu dengan kesederhanaan. Sedang Uwais Al-Qorni menjadi masyhur diantara penduduk langit karena qona’ahnya

Dan untuk apa segala rasa malas dan bosan dalam setengah jam membaca kitab. Padahal kau tahu bahwa Imam Abdullah Al-Hadad sibuk bercumbu dengan ilmu dari kecilnya dan dia seorang yang buta.

pray3

 

Harap Cemas

Aku tau rezekiku tak akan salah tangan, maka aku merasa aman. Dan aku tau amalku tak akan dikerjakan orang lain maka aku berjuang.

pray 2

Umurku saat ini telah mencapai 1/5 abad, lalu tiba-tiba teringat sebuah perkataan insan mulia yang senyumnya bak purnama yaitu “Khoirunnas anfa’uhum linnas” membuatku tertunduk lemas di depan jajaran kitab-kitabku saat hendak menyiapkan pelajaran esok hari. Ku hentikan kegiatan menjadwal. Terpekur, ku sentuh satu persatu-satu judul kitab-kitab ku dan kubaca satu persatu nama muallif (penulis). Sekejap merasa paling kerdil nya manusia.

Belum memiliki sesuatu yang bisa dipersembahkan kepada Rasulullah dan ummatnya.

Aku benar-benar iri kepada mereka yang sedang pada tahap “ditengah-tengah ummat” dan “pernah berada di tengah-tengah ummat”.

Betapa bahagianya mereka ketika Allah selalu bersama mereka. Betapa bahagianya mereka ketika Rasulullah hadir memberikan bisyaroh (kabar gembira) kepada mereka.

Betapa mulianya mereka di mata para penduduk langit. Allah selalu ridho, malaikat bersholawat memintakan ampun dan pintu langit selalu terbuka untuk doa-doa mereka. Sayap-sayap malaikat pun selalu terbentang menaungi perkumpulan mereka. Duh, keindahan batiniyah yang sangat sulit dilukiskan.

Berjuang meluruskan akidah, mengenalkan kembali syariat yang sedang mati suri pada hati tiap-tiap muslim, menghidupkan sunnah-sunnah nabi di zaman yang kian asing dengan imamah dan siwak. Mengingatkan akan perjalanan mulia insan terbaik sepanjang zaman. Rasulullah. Juga menyirami hati yang tandus dengan kalam-kalam Allah dengan harap mampu menjadi hati yang subur yang kelak akan berbuah ilmu dan akhlak mulia.

Keberadaan mereka adalah cahaya, penuntun umat zaman akhir dari gelap menuju kejayaan dengan cahaya islam. Terlepas dari kefanaan dunia yang hina menuju kebadian yang menyenangkan. Bukan menyenangkan sesaat karena di jalan sesat.

Memandang mereka hati menjadi sejuk. Senyum selalu mengembang haru. Dunia seolah aman selalu solah tak ada yang berseteru.

Ketidakmampuanku saat ini untuk mampu seperti mereka menjadi cambuk yang menggairahkan jiwa. Gairah dalam menerima sedikit bagian dari lautan ilmu luas yang apabila seluruh pohon dijadikan pena dan lautan tintanya maka tak akan sanggup untuk menuliskan ilmu Allah. Masya Allah

Hal ini menyita pikiran, waktu dan energi kami untuk menyusun secara khusus takhtit (planning) pencapaian mimpi ini. Memperbanyak wawasan non-agama, menghabiskan waktu istirahat dengan referensi kitab lain, mati-matian belajar nahwu (tata letak) dan sorof (tata susun), bahkan balaghah agar kalam mampu tersampaikan secara sempurna dan mudah dipahami dan untuk memahami kitab kelas atas.

Benarlah suatu kalam yang dulu awal tahun belajar disini sering kudengar.

من احب شيىء فهو عبده

Barang siapa mencintai sesuatu, maka ialah budaknya.

Harap dan cemas selalu mampir saat pada puncak semangat atau hati dan pikiran terasa penuh akan semua perasaan. Harap akan menjadi pewaris para nabi. Cemas menjadi pewaris Qarun, juga pewaris para pembangkang agama terdahulu.

Jika memang ini cinta. Maka harap akan cinta kami benar diterima dan niat selalu lurus karena Allah dan Rasul-Nya. Dan harap akan menjadi wakil dari salah satu taman surga Allah di dunia ini. Amin

خويدم العلم الشريف

خنساء نبيلة

mosque

Intropeksi

sun

Mengenakan kacamata matahari di malam hari, di dalam rumah

Ya itu kondisi saya saat ini dan mungkin beberapa hari ke depan

Alhamdulillah dan astaghfirullah saya sedang sakit mata

Habis asik liburan di kota kembang, eh dapat bonus sakit. Buat kredit dosa insha Allah

Mata saya kebetulan keduanya membengkak. Yang kanan karena di gigit serangga sepertinya dan yang kiri agak bengkak mungkin karena pegal

Pegal maksiat

Pegal main hape terus

Pegal gak bisa ghadul bashar

Pernah gak sih tiap kita sakit di salah satu anggota badan kita atau musibah kecil yang menimpa kita langsung kita berfikir dosa apa yang udah kita perbuat

Saya sering melakukan hal ini sejak guru saya mengingatkan setiap yang kita dapat itu akibat amal kita

Seperti, sari awan. Pasti nih aku habis ngomongin orang atau nyakitin orang

Pusing. Mikir hal buruk lagi kamu sa! stop su’udzon! jangan sombong

Kaki pegal. Hayo tadi kamu jalan niatnya apa sa

Baju sobek. Udah sedekah belum ini?

MATA SAKIT. Untuk satu ini banyak sekali dosanya, banyak sekali cabang maksiatnya. Sampai sedih sendiri. Mulai dari membaca sesuatu yang kurang manfaat hingga melihat hal yang tidak baik mungkin

Gausah di jabarin. Setiap dari kita punya versi sendiri-sendiri untuk memahami kesalahan dari diri kita

Ayo intropeksi dan jangan lupa taubat

Dan mohon doanya semoga lekas sembuh. Shukron

 

Hansa

H-3 balik pondok